Dimadu Karena Wasiat

Dimadu Karena Wasiat
DKW 17 - Posisi Yang Sama


__ADS_3

Ayu tidak melanjutkan perkataannya, dia bingung harus membela siapa karena bagaimanapun jika Tante Meta ketahuan memfitnah istri pertama dari suaminya tersebut kemungkinan tantenya tersebut akan diusir oleh Bima dan Ayu tidak mau hal itu terjadi.


"Yu," panggil Bima. Dia masih menunggu jawaban dari istri keduanya tersebut.


"Bima... mana mungkin Ayu akan mengiyakan ucapan Tante, dia pasti nggak enak sama istri kamu karena bagaimanapun dia ini hanya pihak ketiga di dalam rumah tangga kalian." Tante Meta kembali membuka suara. Dia membuat Ayu sebagai wanita yang terdzolimi karena merasa menjadi pihak ketiga dari rumah tangga Bima dan Nisa.


"Tapi, Tante, aku rasa Nisa bukan orang seperti itu. Dia itu wanita paling baik yang pernah aku kenal." Bima masih tidak percaya jika istri pertamanya melakukan hal seperti yang dikatakan oleh Tantenya Ayu.


"Jadi, kamu mau bilang kalau kami ini yang berbohong?"


"Bukan begitu maksudku, Tante. Tapi.... "


"Seandainya Ayu yang dituduh seperti itu oleh orang lain atau oleh istri pertamamu itu apa kamu akan mempercayai Ayu sama seperti kamu mempercayai Nisa?" desak Tante Meta. Dia tidak membiarkan Bima untuk bisa berpikir jernih.


"Tante.... "


"Begini nih, Yu, kalau suami lebih condong ke istri pertama. Harusnya sebagai suami kamu bisa adil dong Bima, jangan selalu menganggap Nisa itu selalu benar."


Bima terdiam, dia tidak tahu lagi harus berkata apa.


"Baiklah, Tante, nanti aku akan berbicara pada Nisa untuk tidak semena-mena terhadap Ayu," ucap Bima yang akhirnya lebih memilih untuk mempercayai perkataan Tante Meta.


"Tidak usah ngomong apa pun sama Nisa yang ada dia malah akan makin menuduh Ayu yang tidak-tidak!" suruh Tante Meta.

__ADS_1


"Lalu Tante mau aku bagaimana?" tanya Bima lagi.


"Ya mana tante tahu. Semua ini terjadi karena kamu tidak memberikan kedudukan dan tempat yang sama kepada Ayu."


"Maksud Tante apa ya?" tanya Bima lagi.


"Nisa merasa diatas angin karena status Ayu hanya sebagai istri siri. Tante yakin jika kamu melegalkan pernikahanmu dan Ayu agar sah juga menurut hukum negara, maka Nisa tidak akan lagi semena-mena terhadap Ayu," jawab Tante Meta menggebu.


"Yu... apa kamu ingin pernikahan kita juga sah menurut hukum negara?" Bima melemparkan pertanyaan itu kepada Ayu.


"Siapa pun pasti maulah pernikahannya legal menurut hukum negara," sela Tante Meta lagi.


"Tante sudahlah! Jangan memperkeruh keadaan yang sudah mulai membaik ini!" pinta Ayu kepad Tantenya. "Mas, jangan pedulikan ucapan Tante. Aku tidak masalah kok kalau selamanya hanya menjadi istri sirimu. Aku ikhlas, Mas." Ayu menatap suaminya dengan tatapan sendu.


"Tante, aku mohon diam!" suruh Ayu. "Mas, sudahlah. Jangan pedulikan perkataan Tante lagi. Sekarang Mas Bima makan ya, Mas Bima belum makan siang, kan?"


Ayu menaruh rantang makanan yang ia bawa di atas meja. "Aku siapkan piringnya dulu ya, Mas," tutur Ayu. Dia mengambil piring dan sendok dari pentri yang letaknya tidak jauh dari ruang kerja suaminya.


"Mau aku suapin?" tanya Ayu setelah menaruh nasi dengan beberapa lauk diatas piring.


"Tidak usah. Aku akan makan sendiri," jawab Bima. Dia mengambil alih piring dari tangan Ayu.


"Mas mau aku ambilkan air putih atau teh?" Ayu menawarkan minuman kepada suaminya.

__ADS_1


"Tidak usah, aku akan ambil sendiri," jawab Bima.


Bima mulai menikmati makanan di tangannya dengan sesekali ia menatap wajah istri keduanya.


"Yu," panggil Bima.


"Iya, Mas."


"Apa kamu akan bahagia jika aku melegalkan pernikahan kita?" pertanyaan Bima membuat Ayu menatap suaminya.


"Aku tidak mau membuat Mbak Nisa sakit hati, Mas," tolak Ayu.


"Ayu, Ayu, kalau kamu terus bersikap seperti ini kapan Nisa bisa menganggap jika posisi kalian itu sama? Ingat ya, Yu. Kamu dan Nisa sama-sama istrinya Bima. Jadi, kalian memiliki hak dan kewenangan yang sama." Tante Meta bersikeras untuk bisa membuat Bima melegalkan pernikahannya dengan Ayu.


"Tante, hentikan pembicaraan ini. Aku tidak mau membahasnya!" pinta Ayu.


"Dibilangin kok ngeyel, yo wes terserah kamu." Tante Meta mendengkus kesal.


"Yu, aku rasa Tante kamu benar. Aku akan berbicara dengan Nisa untuk mengizinkan kita melegalkan pernikahan kita." Mendengar hal itu membuat Ayu tercengang.


"Mas, bagaimana dengan Mbak Nisa?"


"Dia harus bisa menerimanya karena bagaimana pun kamu adalah jodoh yang diwasiatkan oleh almarhum papa," jawab Bima.

__ADS_1


Berbeda dengan Ayu yang takut akan reaksi Nisa, Tante Meta justru sangat bahagia mendengarnya.


__ADS_2