
"Sepertinya Mas Bima tidak peduli dengan kondisiku, iya kan, Ma?" tebak Nisa.
"Bukan seperti itu, Nisa. Hanya saja saat ini Bima dalam pengaruh si Ayu dan tantenya. Mama yakin sebenarnya Bima pasti mengkhawatirkan kamu dan calon anak kalian." Vena berusaha membela putranya.
"Benarkah? Kenapa aku sanksi ya, Ma."
"Nisa.... "
"Aku sudah tidak mengharapkan apa pun lagi dari dia, Ma. Sepertinya keyakinanku untuk untuk pisah dengan Mas Bima semakin bulat. Maafkan aku, Ma, karena aku tidak bisa merubah keputusanku," pungkas Nisa.
"Nis, kamu sudah berjanji pada Mama barusan untuk memikirkan lagi perkataan Mama tadi."
"Maaf, Ma. Aku tidak bisa. Sebentar lagi pengacaraku akan mengurus perpisahan kami," ucap Nisa. Meski berat, Nisa tidak mau memberikan harapan palsu kepada mertuanya.
"Nak.... "
"Jika Mama benar-benar menyayangiku dan menganggapku anak, maka Mama pasti akan mendukungku."
Vena tidak mengatakan apa pun lagi. Satu sisi dia masih berharap kalau rumah tangga Nisa dan putranya, Bima, bisa diselamatkan. Tetapi di sisi lain, dia juga tidak mengharapkan menantunya tersebut tidak bahagia karena ulah anaknya.
"Aku harus bicara dengan Bima, siapa tahu jika Bima minta maaf Nisa mau berpikir ulang untuk menggugat cerai Bima," pikir Vena.
"Nis, lebih baik sekarang kamu fokus dulu dengan kesehatan dan janin yang ada di dalam kandunganmu itu. Setelah keadaanmu pulih baru kamu pikirkan kembali apa yang sebenarnya kamu inginkan. Ya?" Kali ini Vena hanya bisa berharap Nisa akan menunda gugatan cerainya.
"Mama, pamit pulang dulu ya, Nis. Nanti sore Mama ke sini lagi," pamit Vena.
Nisa mengangguk. "Terima kasih ya, Ma, karena Mama masih mau datang menjengukku."
"Jaga diri dan kandunganmu baik-baik, ya Sayang," tutur Vena lagi. "Calon cucu Oma, baik-baik ya di dalam perut mamamu. Jangan rewel dan jangan menyusahkan mamamu." Vena mengatakan itu sambil mengusap perut menantunya.
"Pasti, Oma," jawab Nisa dengan menirukan suara anak kecil.
"Mama pergi ya, assalammualaikum."
"Waalaikummussalam warahmatullahi wabarakatuh," balas Nisa.
__ADS_1
Vena pun kemudian meninggalkan kamar rawat Nisa.
Nisa menarik napasnya dalam-dalam, kemudian menghembuskannya perlahan. Meski sudah tahu kalau Bima tidak akan datang menjenguknya, tetap saja hatinya merasa sakit. Dia tidak menyangka kalau Bima akan mudah mengabaikan dirinya dan calon anak mereka.
"Ya Allah, kuatkanlah aku!" pinta Nisa. "Semoga keputusan yang aku ambil ini benar-benar keputusan terbaik untukku dan calon anakku. Amin."
Nisa tersenyum ketika ada panggilan grup di layar hp-nya. Dia yakin ketiga sahabatnya tersebut pasti akan menanyakan alasan kenapa mereka tiba-tiba disuruh untuk pindah bekerja.
"Nisa, kenapa tiba-tiba kami disuruh pindah? Sebenarnya ada apa? Lalu sebenarnya apa yang terjadi? Kenapa Bima tiba-tiba menikah lagi padahal kamu sedang mengandung anaknya?" cecar ketiga sahabat Nisa tersebut.
"Satu-satu dong nanyanya," protes Nisa.
"Iya, maaf, iya. Tapi, kami benar-benar ingin tahu apa yang sebenarnya terjadi sama kamu dan Bima. Perasaan selama ini kalian baik-baik saja, kenapa sekarang jadi seperti ini?" tanya Wulan yang mewakili sahabatnya yang lain.
Nisa mulai menceritakan awal mula suaminya menikah lagi dan bagaimana kehidupan pernikahan mereka pasca itu. Dia juga menceritakan bagaimana Bima mengancam akan memecat mereka jika ia tidak mengizinkan suaminya itu mengumumkan istri keduanya kepada dunia.
"Ya ampun, Nis. Pasti kamu kesusahan waktu itu. Maafin kami ya karena kami selalu menjadi beban buatmu," ucap Ratna.
"Nggak kok, kalian nggak pernah jadi beban buatku. Aku senang karena akhirnya ada jalan keluar untuk kalian," tutur Nisa.
"Entahlah. Mungkin saja dia jelmaan malaikat yang dikirim oleh Tuhan untuk memberikanku jalan agar bisa keluar dari permasalahanku ini," jawab Nisa.
"Kamu... kamu nggak ada a fair kan sama dia?" tanya Dewi berhati-hati.
"Astaghfirullahal adzim, Wi. Nggak lah, aku masih takut dosa tahu."
"Maaf ya, aku asal bicara barusan. Ku kira kamu kayak istri-istri di sinetron atau di novel yang membalas sakit hati kepada suaminya dengan berselingkuh," lanjut Dewi.
"Nggak mungkin lah, aku begitu. Kamu ngaco deh."
"Atau jangan-jangan bosmu lagi yang diam-diam mencintai kamu," tebak Dewi lagi.
"Omongan kamu makin ngaco aja. Masa ada cowok yang lajang, mapan, dan juga tampan suka sama wanita hamil seperti aku ini. Perkataanmu aneh!" desis Nisa.
"Kan kita nggak tahu isi hati orang," sahut Dewi lagi.
__ADS_1
"Udah ah, jangan ngomongin soal bos baru ku lagi. Kita bahas yang lain aja. Ohya, sekarang kalian sedang ada di mana?" tanya Nisa kepada ketiga sahabatnya.
"Di perusahaan barumu itu."
"Nis, cowok yang tadi menemui kita tadi siapa sih? Wajahnya kelihatan jutek gitu." Kini giliran Wulan yang bertanya.
"Itu Pak Cevan, asisten pribadi dari Pak Angga. Aku juga heran sama dia, dia selalu menatapku dengan tatapan tidak suka. Padahal perasaan aku gak berbuat salah. Tapi, sudahlah. Mungkin kelihatannya saja dia galak padahal kenyataannya dia baik. Buktinya dia mau menemui kalian secara langsung." Nisa menjawab dengan panjang lebar.
"Nis, kami tutup dulu ya. Laki-laki bernama Cevan itu sedang menatap kami," bisik Dewi. "Pulang kerja nanti kami akan menjengukmu di rumah sakit. Sampai jumpa nanti ya, Nis. Assalammualaikum."
"Waalaikummussalam warahmatullahi wabarakatuh." Nisa menutup teleponnya.
Nisa memikirkan perkataan mertua dan sahabatnya barusan. "Masa iya, Pak Angga suka sama aku?" pikirnya. Beberapa detik kemudian dia beristighfar, "Astaghfirullah haladzim. Kenapa aku jadi mikirin kata-kata itu sih." Nisa menggeleng dengan cepat.
***
Mendengar kabar jika ketiga sahabat Nisa itu dijemput seseorang, membuat Bima buru-buru ke perusahaannya. Dia ingin tahu siapa orang yang membawa ketiga sahabat Nisa itu meninggalkan perusahaan.
"Siapa? Siapa yang mengizikan mereka pergi?" tanya Angga kepada salah satu karyawan di bagian HRD.
"Dia dari perusahaan CAMP Grup."
"Apa?!" pekik Bima tak percaya. "Tidak mungkin kan kalau Nisa mengenal Angga? Aku yakin yang datang menjemput semua sahabat Nisa di kantor adalah Cevan. Sebenarnya ada hubungan apa antara Angga dengan Nisa sebenarnya?"
Bima bertanya-tanya dalam hati. Seketika hatinya mendidih kala mengingat Nisa dicintai oleh pria lain. "Tidak. Aku tidak akan membiarkan mereka bersama."
ššš
Maaf ya baru update, semoga kalian tetap nungguin cerita ini. Jangan lupa untuk tinggalkan jejak dengan cara like, komen, vote, dan gift sebanyak-banyaknya terima kasih.
Ohya, author punya rekomendasi novel tamat yang keren dari author yang pasti sudah kalian kenal YENITA WATI, judulnya PENGANTIN YANG DITUKAR.
Blurb;
Demi menutupi skandal adik dan tunangannya, Haira terpaksa menerima pertukaran pengantin. Dia menikah dengan pria yang akan dijodohkan dengan adiknya, yaitu Aiden yang merupakan orang biasa. Bagaimana jika Haira mengetahui bahwa Aiden adalah pewaris tunggal Alexan Group yang terkenal tajir melintir? Dan apa yang melatarbelakangi penyamaran Aiden menjadi orang biasa?
__ADS_1