Dimadu Karena Wasiat

Dimadu Karena Wasiat
DKW 35 - Penasaran


__ADS_3

"Kenapa dengan pipimu?" tanya Angga.


Mendengar pertanyaan tersebut Nisa sontak menutup pipinya menggunakan tangan. "Pipi? Memang kenapa dengan pipi saya?" bukannya menjawab Nisa justru balik bertanya dan berpura-pura tidak mengerti maksud pertanyaan dari atasannya tersebut.


"Barusan aku lihat sepertinya pipi lebam," ujar Angga lagi.


"Ouh... Itu semalam gak sengaja pipi saya kepentok pintu lemari," jawab Nisa


"Benarkah?" tanya Angga lagi. Dia masih agaj sanksi dengan jawaban yang diberikan oleh bawahannya tersebut.


"Tentu saja benar," jawab Nisa agak ketus. "Kalau sudah tidak ada urusan lagi, saya minta izin kembali ke meja kerja saya. Permisi, Pak."


Tanpa menunggu jawaban dari atasannya tersebut Nisa buru-buru keluar dari ruang kerja Angga.


"Apa pipinya lebam karena kdrt ya?" pikir Angga. "Ah sudahlah, itu bukan urusanku."


Tidak lama setelah Nisa keluar, Cevan masuk ke ruang kerja Angga. Pemuda yang umurnya tidak jauh beda dari pemilik CAMP Grup tersebut langsung duduk di bangku kosong yang ada di depan meja Angga.


"Gimana? Kamu sudah menjelaskan semuanya?" tanya Cevan.

__ADS_1


"Sudah."


"Dia percayakan? Nggak mikir yang macam-macam tentang kita, kan?" cecar Cevan.


"Ntahlah, dia bilang sih percaya. Tapi, dari cara dia berbicara sepertinya dia agak meragukan perkataanku," jawab Angga.


"Memang tadi kamu menjelaskannya gimana? Awas ya jangan sampai gara-gara dia ngira kita nyimpang, seluruh karyawan kantor ini percaya kalau kita gay. Bisa-bisa semua cewek menjauhiku!" omel Cevan.


"Woy, kamu dengar aku ngomong nggak sih?" sentak Cevan saat melihat Angga yang justru diam seolah sedang memikirkan sesuatu.


"Van, tadi aku lihat pipi si Nisa seperti lebam. Menurutmu lebam di pipinya itu karena apa ya?" jawab Angga yang justru menanyakan hal lain kepada asisten pribadinya tersebut.


"Sudah."


"Terus ngapain kamu tanyakan hal itu sama aku?"


"Soalnya aku agak ragu dengan jawaban yang diberikan."


"Memang apa jawaban si Nisa?" tanya Cevan lagi.

__ADS_1


"Nisa bilang pipinya kepentok pintu lemari, tapi kenapa aku menyanksikan jawaban dari dia itu ya?" jawab Angga.


"Astaga, Ngga, Ngga. Ngapin kamu mikirin itu? Mau dia kepentok lemari kek, mau dipukulin kek kan bukan urusan kamu. Itu masalah pribadi dia, jadi kamu nggak bisa ikut campur," ujar Cevan.


"Benar sih, tapi.... "


"Jangan bilang kamu mulai tertarik sama cewek itu. Ingat kamu sudah memiliki calon istri," potong Cevan. Bagaimana pun sebagai seorang sahabat, Cevan tidak mau Angga terlibat masalah lagi dengan keluarga besarnya.


"Kenapa kamu ingetin itu sih? Aku heran sama kedua orang tuaku, mereka itu kan orang modern kenapa pikiran mereka kuno? Pakai jodoh-jodohin segala, mereka kira aku nggak bisa nyari calon istri sendiri apa?" keluh Angga.


"Mereka cuma memberikan yang terbaik buat kamu. Kalau perusahaanmu dan perusahaan orang tuanya Thania menjadi satu, maka perusahaan kalian ini akan menjadi salah satu perusahaan terbesar di Asia Tenggara. Makanya turuti saja kemauan kedua orang tuamu." Cevan memberikan nasehatnya. "Lagian menurutku Thania cantik, pintar lagi. Aku rasa kalian akan menjadi pasangan yang cocok nantinya," tambahnya.


"Entahlah. Aku bukan tipe orang yang bisa menjalin sesuatu tanpa perasaan. Secantik apapun dia, kalau dia tidak bisa membuat hatiku tertarik, aku tidak yakin bisa menjalani perjodohan itu," balas Angga.


"Makanya jangan mencari tahu soal Nisa, takutnya semakin kamu tahu tentang cewek bersuami itu semakin kamu penasaran dan akhirnya kamu jatuh cinta sama dia. Mending kamu memikirkan Thania saja, bukankah bulan depan dia akan pulang ke Indonesia."


Angga hanya mengedikkan bahu.


"Nih, anak dikasih tahu malah nggak mau tahu," gerutu Cevan.

__ADS_1


Bukannya menanggapi perkataan Cevan, Angga malah terus memikirkan Nisa. Dia tetap penasaran dengan hal yang menimpa Nisa sebenarnya.


__ADS_2