
"Eh... itu lho, Mas, jepitan rambut yang aku pakai semalam, barusan aku cari ternyata hilang dan aku tanya sama Tante Meta dia juga nggak lihat," jawab Ayu berbohong.
"Soal jepitan kok sampai heboh banget, kan tinggal beli yang baru." Bima melangkah menuju lemari dan mengambil salah satu baju yang ada di sana lalu memakainya. Dia kemudian berjalan ke arah nakas yang ada di sebelah kanan tempat tidur untuk mengambil telepon genggamnya yang ada di sana.
"E... Mas, sebenarnya ada yang mau aku katakan sama kamu."
Sambil menautkan kedua alis, Bima menatap wajah istri keduanya tersebut. "Apa?" tanyanya.
"Sebenarnya barusan Tante Meta bilang kalau Mbak Nisa sudah berangkat kerja pagi ini. Padahal Tante Meta sudah ngingetin Mbak Nisa buat nggak kerja dulu karena mama mau dateng ke rumah. Tapi, Mbak Nisa malah nggak peduli. Dia malah bilang kalau dia sengaja melakukan itu biar mama marah sama Tante terus ngusir Tante dari rumah. Makanya Tante Meta takut kalau mamanya Mas Bima percaya sama dia dan beneran ngusir Tante dari rumah," terang Ayu. Dia memasang wajah sedih seolah tidak tega membayangkan nasib tantenya. "Kasihan Tante Meta kalau sampai Mama percaya sama Mbak Nisa, terus dia diusir dari rumah. Apalagi Tante Meta nggak punya-punya siapa-siapa selain aku. Dia bakalan tinggal dimana kalau mama beneran ngusir dia."
"Masa sih, Yu, Nisa setega itu?" ujar Bima yang sedikit meragukan perkataan istri keduanya. Karena setahu Bima, Nisa bukanlah orang yang suka mengadu apalagi sampai memfitnah orang lain.
__ADS_1
"Tuh, kan, Mas Bima aja nggak percaya kalau Mbak Nisa setega itu sama Tante Metha, apalagi Mama. Dia pasti akan lebih mempercayai Mbak Nisa dibandingkan Tante Metha." Ayu menghela napasnya sambil tetap memperlihatkan wajah sedihnya.
Bima masih diam memikirkan perkataan Ayu barusan. Satu sisi dia masih sanksi kalau Nisa akan setega itu memfitnah tantenya Ayu, tetapi di sisi lain dia juga yakin kalau istri keduanya tidak mungkin berbohong kepadanya. Ditambah, memang akhir-akhir ini sifat Nisa sudah banyak berubah. Istri pertamanya itu sering mendebat apa pun yang ia katakan bahkan tak jarang membangkang perintahnya.
Tidak lama telepon genggam milik Bima berdering dan tertera nama mamanya di sana. "Mama, ada apa ya mama menelponku?" gumam Bima.
"Mama pasti menelponmu karena mau mengadu soal tante Metha, Mas. Pasti Mbak Nisa sudah ngadu yang enggak-enggak soal Tante Metha ke Mama," ungkap Ayu. Dia berharap kalau Bima akan mempercayai semua ucapannya kali ini.
"Walaikummussalam, Bim," jawab Vena. "Bima, Mama mau bilang sama kamu kalau semalam ternyata tantenya si Ayu sudah nurunin Nisa di jalan dan kamu tahu? Sekarang Nisa ada di rumah sakit gara-gara dia," ungkap Metha tanpa jeda.
Bima masih diam.
__ADS_1
"Tuh kan, Mas, aku bilang juga apa? Pasti Mbak Nisa sudah nuduh Tante Metha yang tidak-tidak. Mbak Nisa pasti sengaja melakukan ini karena dia kesal sama aku karena semalam aku melarangmu untuk nganterin dia pulang ke rumah," ucap Ayu. "Kasihan Tante Metha, dia jadi korban fitnahan Mbak Nisa," lanjutnya sambil terisak.
"Bim. Kamu harus usir Tantenya Ayu sekarang! Mama nggak sudi ya orang yang hampir mencelakai calon cucu mama tetap tinggal di rumahmu," omel Vena.
"Bima, kamu dengar Mama, kan?" tanya Vena lagi ketika masih tidak ada tanggapan dari anak laki-lakinya tersebut. "Bima!" panggil Vena lagi.
"Ma.... "
ššš
Kira-kira siapa nih yang bakalan Bima percaya? Mamanya atau Ayu?
__ADS_1
JANGAN LUPA LIKE, KOMEN, VOTE, DAN GIFTNYA. TERIMA KASIH.