
Sejak semalam Nisa tidak keluar dari kamarnya. Dia masih sakit hati dengan keputusan sepihak suaminya. Nisa tahu jika seorang suami berpoligami maka ia harus bersikap adil kepada kedua istrinya dalam hal apa pun, termasuk pengakuan di depan khalayak ramai. Tapi, tidak bisa kah dia bersikap egois untuk yang satu ini. Bukankah harusnya mereka bersyukur karena meski tidak dilegalkan menurut hukum negara, Nisa masih mau membagi segalanya dengan Ayu.
Pagi itu Nisa duduk di dekat jendela kamarnya sambil menatap langit yang berwarna biru. Cuaca pagi itu terlihat sangat cerah dengan kicauan burung yang saling bersahutan. Seandainya rumah tangganya masih sama seperti dulu, pagi seperti ini akan menjadi pagi yang menyenangkan bagi dirinya.
Bunyi sepatu fantofel yang beradu dengan lantai marmer terdengar semakin mendekat ke arahnya dan Nisa paham betul pemilik dari langkah kaki itu.
"Ada apa kemari? Apa sekarang Mas Bima sudah berubah pikiran?" tanya Nisa tanpa menoleh ke arah suaminya yang saat ini berdiri tepat di belakangnya.
"Kamu salah, justru aku yang ingin menyakan hal itu kepadamu? Apa kamu sudah berubah pikiran dan bisa menerima keputusanku untuk melegalkan pernikahanku dan Ayu?" jawab Bima sembari bertanya.
Nisa menarik napas kemudian menghembuskan napasnya perlahan. "Kalau begitu ceraikan aku," jawabnya masih dengan posisi yang sama.
"Nis, kamu sedang mengandung anakku bisa-bisanya kamu memintaku untuk menceraikanmu. Ayolah, Nis, izinkan aku melegalkan pernikahanku dan Ayu! Jangan keras kepala seperti ini," ujar Bima. "Toh melegalkan pernikahanku atau tidak, posisimu tetap sama, kamu tetap menjadi istri pertamaku."
Nisa berbalik dan menatap suaminya dengan tatapan tajam. "Sama kamu bilang, Mas? Tidak ada yang sama sejak kamu membawanya ke rumah dan memperkenalkannya sebagai istrimu. Kamu tahu bagaimana terlukanya aku? Disaat wanita lain diluaran sana diberikan hadiah, diberikan perhatian lebih karena dia sedang mengandung, apa yang kamu berikan padaku, Mas? Apa? Istri baru. Ingat, Mas. Kau memberiku hadiah istri baru," ucap Nisa penuh penekanan. "Aku berusaha sabar dan menerima semuanya dengan ikhlas karena setidaknya orang lain di luar sana tidak tahu kalau suamiku sudah menduakan cintaku, suamiku sudah berpoligami tanpa seizinku. Dan sekarang kamu ingin memperkenalkan kepada dunia bahwa kamu memiliki dua istri, begitu?"
Nisa mengusap dengan kasar air mata yang jatuh di kedua pipinya. "Jika kamu masih bersikeras untuk melakukan itu, maka ceraikan aku! Jika kamu tidak bisa menceraikanku, tidak masalah, aku yang akan menggugatmu," ujar Nisa. Dia kemudian berjalan melewati Bima untuk meninggalkan kamarnya.
"Kalau begitu jangan salahkan aku jika aku menggunkan cara ini."
Ucapan Bima langsung membuat langkah Nisa terhenti. Dia berbalik menatap Bima demikian juga sebaliknya.
"Apa yang akan kamu lakukan, Mas? Kamu akan mengancam dengan tidak akan memberikan aku nafkah atau tidak akan memberikanku harta gono gini saat kita bercerai nanti? Jangan khawatir, aku tidak akan memintanya. Silakan kamu nikmati semua harta ini bersama dengan istri barumu itu. Toh, memang semua ini harta warisan dari orang tuamu, kan? Aku hanya membantumu menambah harta itu," ucap Nisa.
__ADS_1
"Bukan itu," jawab Bima tanpa ekspresi.
"Lalu?" Kedua alis Nisa saling bertaut.
"Aku akan memecat semua sahabatmu yang bekerja di perusahaanku," ancam Bima.
"Mas!" teriak Nisa. "Kenapa harus melibatkan mereka dalam urusan rumah tangga kita? Apa salah mereka? Mereka sudah bekerja dengan baik di perusahaanmu, bisa-bisanya kamu ingin memecat mereka tanpa alasan. Gila kamu ya!"
"Aku tidak peduli. Perusahaan itu adalah milikku, jadi aku bebas memecat mereka. Dan ingat! Jika aku memecat mereka secara tidak hormat, maka tidak akan ada satu perusahaan pun di kota ini, bahkan di negara ini mau menerima mereka bekerja di perusahaannya. Jadi, pikirkan itu baik-baik!" Setelah mengatakan hal tersebut, Bima keluar dari kamar Nisa.
Tubuh Nisa luruh ke lantai, kakinya seolah tidak bisa menopang berat tubuhnya. Dia tidak percaya kalau suaminya akan menggunkan cara licik untuk mengancamnya. Nisa meringis ketika tiba-tiba perutnya kembali merasakan kram. Dengan bersusah payah, Nisa merangkak menuju tempat tidur. Dia segera mengambil air putih dan obat penguat kandungan yang diberikan oleh dokter. Setelah merasa keadaannya lebih baik, Nisa segera menghubungi para sahabatnya melalui panggilan grup.
"Nisa, bagaimana kabarmu? Sudah beberapa bulan ini kamu tidak pernah menghubungi kami. Gimana kondisi kandunganmu? Baik?" tanya salah satu sahabatnya yang bernama Ratna.
"Pasti sejak kamu hamil si Bima makin memanjakanmu, kan, Nis, secara ini adalah calon anak pertama kalian setelah menunggu 3 tahun," Dewi sahabat Nisa yang lain ikut berbicara.
"Nis," panggil ketiganya ketika tidak ada suara apa pun yang keluar dari mulut Nisa. "Kamu nggak apa-apa, kan, Nis?"
"Tidak, aku hanya kangen dengan suara kalian. Makanya aku membiarkan kalian untuk terus berbicara," jawab Nisa.
"Ohya, Nis. Aku mau ngucapin terima kasih sama kamu dan Bima karena sudah memberiku pekerjaan, jadi aku bisa membiayai operasi jantung anakku. Sekarang kondisi anakku sudah mulai membaik dan sekarang aku dan suamiku masih ngumpulin uang untuk biaya obat jalannya," ucap Ratna.
"Aku juga berterima kasih benget sama kamu, Nis. Berkat kamu aku bisa membiayai hidup keluargaku, kamu tahu sendiri sejak suamiku kecelakaan, dia belum bisa bekerja lagi. Jadi semua biaya rumah tangga aku yang tanggung," Dewi ikut berterima kasih.
__ADS_1
"Sama aku juga, berkat kamu aku bisa membiayai operasi mata ibuku. Ya... sejak suamiku meninggal, akukan harus bekerja keras seorang diri." Wulan ikut-ikutan mengucapkan terima kasih.
Nisa hanya bisa memejamkan mata sambil menahan diri agar tidak menangis. Tadinya dia ingin curhat dengan sahabatnya menegenai keadaan rumah tangganya sekarang. Tetapi, mendengar permasalahan yang terjadi dengan sahabat-sahabatnya membuat Nisa urung melakukan itu. Dia tidak mau menambah beban kepada ketiga sahabatnya tersebut.
"Nis, kok kamu diem lagi?" tanya Wulan.
"Are you, oke?" tanya Dewi.
"Kamu nggak sedang ada masalah, kan dengan si Bima?" kini giliran Ratna yang bertanya.
Nisa menutup mulutnya menggunakan telapak tangan. Dia berusaha sekuat tenaga untuk tidak menangis. Setelah ia bisa mengendalikan diri, Nisa baru menjawab pertanyaan mereka. "Aku tidak apa-apa kok. Aku hanya merindukan kalian, rasanya kangen pingin ngumpul bareng kalian lagi seperti dulu," jawab Nisa.
"Ya udah gimana kalau akhir pekan ini kita ketemuan? Si Bima nggak akan melarangmu menemui kami, kan?" Dewi memberikan idenya sembari bertanya.
"Kalau minggu ini aku tidak bisa, kapan-kapan saja kita ketemu," jawab Nisa. "Ya sudah ya Rat, Wi, dan kamu Lan, aku harus menemani suamiku sarapan. Kapan-kapan aku hubungi kalian lagi."
"Oke, Nis. See you," balas ketiganya sebelum mematikan panggilan grup itu.
"Ya Allah, apa yang harus aku lakukan sekarang? Apa?" Nisa kembali menangis sambil meremas dadanya yang terasa begitu sakit.
ššš
NB: Gaes, karya ini aku ikutkan di YAW season 8. Jadi, mohon dukungannya ya š
__ADS_1