Dimadu Karena Wasiat

Dimadu Karena Wasiat
DKW 30 - Kabar Baik


__ADS_3

Akhirnya Nisa sampai di butik yang dimaksud oleh Ayu. Tanpa banyak bicara dia langsung masuk ke butik tersebut dan melihat suami dan madunya sedang mencoba pakaian pengantin yang akan mereka pakai di pesta resepsi nanti. Tadinya Nisa mengira jika ia sudah tidak lagi merasakan sakit hati saat melihat hal tersebut. Namun kenyataannya perasaan itu masih ada.


"Tahan Nisa! Jangan lemah! Kalau kamu menunjukkan air matamu di depan mereka sama saja kamu merendahkan harga dirimu!" Nisa berusaha untuk tetap bersikap biasa saja meski hatinya terluka.


"Bagaimana, Mbak? Bagus kan gaunnya? Bukankah gaun ini terlihat lebih cantik dan lebih mahal dari gaun yang dipakai Mbak Nisa dulu?" tanya Ayu yang seolah ingin memamerkan pakaian yang dipakainya.


"Bagus," jawab Nisa.


"Kamu itu darimana saja sih, Nis. Tadi aku telepon rumah kata si Bibik kamu sudah keluar sejak pagi tadi? Kemana?" tanya Bima sambil mengancingkan lengan jas yang dipakainya.


"Aku bosan di rumah, Mas. Makanya aku jalan-jalan sebentar," jawab Nisa.


"Kamu itu sedang hamil, Nis. Harusnya kamu itu di rumah saja, jaga kandungan kamu."


"Justru kalau aku terus berdiam diri di rumah, aku bisa stres menghadapi tingkah kamu itu, Mas," jawab Nisa.


"Nisa, ini butik dan aku sedang tidak ingin bertengkar denganmu. Jadi, jangan mulai mengatakan sesuatu yang bikin moodku tidak bagus," tegur Bima.


"Terserah kamu, Mas! Aku juga capek terus ribut sama kamu," sahut Nisa. "Seharusnya kalau kamu tidak mau moodmu jadi jelek tinggal kamu ceraikan saja aku. Mudahkan?" tambahnya.


"Nisa!" teriak Bima.


"Sudah, Mas. Aku mau pulang, kalau kalian mau pamer kemesraan di depanku, sudah tidak ada pengaruhnya bagiku," ucap Nisa. "Permisi."


Kali ini Nisa memilih meninggalkan butik tersebut. Moodnya hari ini benar-benar buruk. Apalagi kesempatannya untuk memperoleh pekerjaan di perusahaan lain terancam gagal karena kebodohannya sendiri.


Dan tempat yang ia tuju adalah restoran yang ada di seberang jalan perusahaan milik suaminya. Nisa ingin melihat senyum sahabat-sahabatnya. Setidaknya senyum merekalah yang membuatnya merasa kuat menghadapi kedzaliman Sang Suami.


Kebetulan saat itu adalah jam istirahat kantor, banyak karyawan dari perusahaan milik Bima yang datang untuk makan siang di restoran tersebut, tak terkecuali Dewi, Ratna, dan Wulan. Ketiganya melambaikan tangan saat melihat keberadaan Nisa di sana.


"Hai Bumil sudah lama ya kita nggak kumpul kayak gini," sapa Wulan sambil duduk di bangku kosong yang ada di depan Nisa. Dewi dan Ratna ikut duduk di meja yang sama.


"Gimana kandungan kamu? Sehat?" kini giliran Ratna yang bertanya.

__ADS_1


"Alhamdulillah sehat," jawab Nisa. "Kalian sendiri apa kabarnya? Bagaimana dengan kabar suami, ibu, dan anak kalian?" tanya Nisa kepada ketiga sahabatnya.


"Suamiku masih belum bisa kerja, Nis. Kecelakaan waktu itu masih membuat sebagian tubuh suamiku blm bisa berfungsi dengan baik. Makanya aku berterima kasih sekali sama kamu dan Bima karena memberiku pekerjaan," jawab Dewi.


Nisa hanya membalasnya dengan sebuah senyuman.


"Ibuku juga sudah bisa melihat lagi. Pokoknya kamu dan Bima ibarat dewa penolong bagi kami," puji Wulan.


"Kondisi anakku juga semakin membaik pasca operasi itu. Benar apa kata Wulan, kamu dan suamimu adalah penolong kami," tambah Ratna.


"Kalian jangan sungkan begitu, aku senang bisa membantu kalian," jawab Nisa sambil menatap ketiga sahabatnya.


"Nis, kamu nggak apa-apa, kan? Kamu nggak sedang menyimpan sesuatu, kan?" tanya Wulan tiba-tiba.


"Kenapa kamu tiba-tiba bertanya seperti itu, Lan? Aku tidak apa-apa kok," jawab Nisa yang tetap memaksakan diri untuk tersenyum.


"Tapi, tatapan matamu itu beda, Nis. Kamu seperti menyembunyikan sebuah kesedihan," ucap Wulan lagi. "Kamu dan Bima tidak sedang bertengkar, kan?"


"Benar?"


"Kamu nggak sedang membohongi kami, kan?"


Tanya Dewi dan Ratna bersamaan. Ketiga sahabat Nisa itu menatap Nisa dengan tatapan menelisik.


"Untuk apa juga aku membohongi kalian? Tidak ada faedahnya, kan?" jawab Nisa berdusta. Dia terus memaksakan diri untuk tersenyum.


"Tapi... entahlah, aku merasa ada sesuatu di sini yang membuatku ingin menangis ketika melihatmu," ucap Wulan sambil menunjuk dadanya sendiri.


"Mungkin kamu mau dapet tamu bulanan makanya jadi mellow kayak gitu," sangkal Nisa.


"Mungkin sih."


"Sudah, kita jangan bahas sesuatu yang bikin hati kita jadi sedih. Bagaimana kalau hari ini kita pesan semua makanan yang kita suka, aku yang akan traktir," ucap Nisa untuk mengalihkan pembicaraan.

__ADS_1


"Ini pesan apa pun yang kalian mau!" Nisa memberikan buku menu kepada ketiga sahabatnya.


"Aku teeserah kamu saja," ucap Wulan sambil terus menatap Nisa. Dia merasa ada yang aneh dengan tingkah sahabatnya tersebut.


Nisa memesan semua makanan kesukaan sahabatnya. Dia kemudian mengajak ketiganya untuk menikmati semua makanan yang ada di hadapan mereka.


"Selamat menikmati," ucap Nisa.


"Oh iya, Nis. Aku dengar bulan depan suamimu akan mengadakan pesta ya? Kalau boleh tahu pesta apa sih? Kan aniversary pernikahan kalian masih 3 bulan lagi? Apa dia mau menggelar pesta babymoon untuk kehamilanmu?" tebak Ratna. "Hidup kamu benar-benar sempurna ya Nis. Punya suami yang tampan, mapan, penyayang lagi. Pasti setiap hari hidupmu selalu dipenuhi dengan kebahagiaan."


Nisa tidak menjawab, dia hanya mengaduk-aduk makanan di depannya.


"Satu lagi, dia juga memiliki mertua yang baik hati," tambah Dewi. "Coba aku memiliki suami dan mertua seperti kamu, pasti hidupku akan jauh lebih bahagia dari sekarang."


"E... maaf ya, aku harus pulang sekarang. Aku baru ingat kalau aku ada janji sama mertuaku," pamit Nisa. Dia terpaksa pergi karena tidak tahan mendengar sanjungan yang dialamatkan kepada rumah tangganya. Karena pada kenyataannya, tidak ada lagi kebahagiaan yang Nisa rasakan semenjak Bima menghadirkan Ayu di tengah-tengah rumah tangganya.


"Ya sudah kamu temui gih mertuamu, jangan biarkan dia menunggumu," ujar Dewi.


Nisa mengangguk sambil terus tersenyum. Dia sedikit memundurkan kursinya untuk berdiri.


"Nis," panggil Wulan.


"Iya."


"Kamu beneran tidak apa-apa, kan?" tanya Wulan sekali lagi. Entah kenapa hatinya masih tidak tenang melihat tingkah sahabatnya yang menurutnya terlihat aneh.


"Aku tidak apa-apa kok, sungguh," jawab Nisa. "Udah ya aku pergi dulu. Kalian nikmati semua makanan ini, jangan lupa dihabiskan." Setelah mengatakan itu Nisa buru-buru pergi dari restoran tersebut.


Air matanya yang sedari tadi ia tahan, akhirnya merangsek keluar. Nisa benar-benar merasa sendiri karena tidak bisa berbagi kesedihan dengan ketiga sahabatnya.


"Kamu kuat, Nis! Kamu kuat menghadapi semua ini! Ingatlah kata pepatah bahwa akan ada pelangi setelah hujan." Nisa kembali menyemangati dirinya sendiri. Kebetulan di saat yang bersamaan, ada pesan masuk di hpnya dan pesan itu ternyata datang dari pihak personslia CAMP Grup yang menyatakan bahwa dia diterima menjadi karyawan di perusahaan besar itu.


"Alhamdulillah ya Allah, akhirnya aku mendapatkan pekerjaan itu. Setelah aku berhasil membawa teman-temanku kekuar dari perusahaan Mas Bima, aku juga akan bisa terlepas darinya. Terima kasih ya Allah, terima kasih." Nisa mengusap air matanya, kali ini dia akan bekerja keras agar dia dipercaya oleh perusahaan itu dan bisa merekomendasikan teman-temannya agar bisa ikut bekerja di sana.

__ADS_1


__ADS_2