Dimadu Karena Wasiat

Dimadu Karena Wasiat
DKW 73


__ADS_3

Setelah terdiam beberapa saat, Angga akhirnya berlari mengejar Nisa. Sayangnya wanita yang sedang hamil 7 bulan tersebut sudah tidak lagi terlihat.


Angga naik ke lantai atas menuju ke ruang kerjanya untuk mengambil kunci mobil dari tangan Cevan.


"Ngga, kamu mau ke mana?" tanya Cevan ketika bosnya tersebut mengambil kunci di tangannya.


"Aku mau ke rumah Nisa untuk menjelaskan semuanya," jawab Angga.


"Kamu gila ya?!" sentak Cevan. "Di sini ada Thania, bisa-bisanya kamu... " Cevan tidak melanjutkan perkataannya. Dia merasa gemas dengan perilaku Angga.


"Kamu bilang saja sama dia kalau aku ada meeting atau apalah yang jelas aku harus berbicara dengan Nisa sekarang," kekeh Angga.


"Ngga! Bagaimana kalau Tuan dan Nyonya besar tahu tentang ini? Kamu siap kehilangan semua fasilitas mewahmu?"


"Aku tidak peduli dengan itu. Yang jelas sekarang aku akan pergi untuk menemui Nisa."


Setelah mengatakan hal tersebut, Angga langsung ke luar dari ruangan tersebut. Cevan hanya bisa menggeleng melihat tingkah Angga.


"Sekarang apa yang harus aku katakan sama Thania soal ini?" gumam Cevan. Dia bingung jika harus mengatakan yang sebenarnya kepada calon tunangan Angga tersebut.

__ADS_1


"Soal apa yang kamu maksud, Cev?" tanya Thania yang baru saja masuk ke ruang kerja Cevan.


"Tania... Kenapa kamu kemari? Kenapa nggak nunggu di ruang kerja Angga saja?" tanya Cevan.


"Justru aku ke sini karena melihat Angga ke ruang kerjamu tadi. Tapi, kenapa dia pergi lagi? Cev, apa ada hal yang kamu sembunyikan dari aku? Sebenarnya siapa wanita hamil di lobi tadi? Kenapa aku merasa tatapan Angga ke dia berbeda? Sebenarnya ada hubungan apa antara Angga dan wanita itu?" cecar Thania. Dia menatap Cevan dengan tatapan menyelidik.


"Cev," panggil Thania ketika melihat asisten sekaligus sahabat dari Angga tersebut masih belum menjawab pertanyaannya.


"Sebenarnya.... "


***


Sejak mengetahui Ayu membohonginya semalam, Bima mulai menyewa orang untuk menyelidiki istri keduanya tersebut. Satu persatu kebohongan Ayu mulai terkuak lewat orang bayaran itu.


Bima baru tahu kalau beberapa tahun yang lalu, Ayu pernah bekerja di perusahaan papanya sebelum papanya meninggal dengan menggunakan identitas lain. Dari sana pula Bima bisa menduga jika Ayu terlibat dalam surat wasiat palsu tersebut. Tetapi yang menjadi tanda tanya besar di otak Bima sekarang adalah kenapa Ayu sampai nekat melakukan itu? Bima juga yakin, pasti ada keterlibatan orang dalam yang membuat seolah surat wasiat itu asli karena bagaimana pun tidak ada orang yang mengetahui tentang kode brankas yang menjadi tempat Bima menemukan surat wasiat itu kecuali dia, mamanya, dan adik dari almarhum papanya. Tetapi yang menjadi persoalan ialah adik dari almarhum papanya ini sudah tinggal di luar negeri selang seminggu setelah papanya meninggal dan sejak saat itu mereka tidak pernah kembali ke Indonesia. Mereka bahkan tidak pernah memberi kabar apalagi sampai menanyakan kabar tentang dirinya dan mamanya.


"Sebenarnya siapa yang membantu Ayu? Aku yakin dia tidak bekerja sendiri," batin Bima.


"Terus awasi dia, jika ada hal baru yang kamu temukan laporkan kepadaku!" ujar Bima kepada orang sewaannya di ujung sana.

__ADS_1


"Siap, Pak," jawab seseorang di ujung sana.


"Mas, hari ini antar aku ke dokter kandungan yuk!" ajak Ayu yang baru saja muncul di kamar.


Bima sempat menjatuhkan telepon genggamnya karena terkejut dengan keberadaan Ayu di ruangannya.


"Mas, ada apa? Apa aku mengagetkanmu?" tanya Ayu sambil mengambil telepon genggam milik Bima yang jatuh ke lantai. Untungnya telepon genggam tersebut tidak jatuh berantakan.


"Tidak, aku hanya kaget karena kamu datang tanpa mengetuk pintu dulu," jawab Bima.


"Maafkan aku, Mas. Aku hanya tidak sabar untuk melihat kondisi janin kita makanya aku lupa mengetuk pintu," jawab Ayu


"Barusan kamu menelepon siapa, Mas? Sepertinya serius?" tanya Ayu.


"Bukan siapa-siapa," jawab Bima. Dia segera mengambil telepon genggamnya dari tangan Ayu.


"Detektif? Kamu menelpon detektif, Mas? Untuk apa?" tanya Ayu ketika tanpa sengaja ia melihat nama yang tertera di layar telepon genggam milik Bima tersebut.


"Mas," panggil Ayu. Dia menatap suaminya dengan tatapan curiga.

__ADS_1


__ADS_2