
Ketika mereka bertiga sampai di depan rumah, Angga langsung berpamitan kepada Nisa untuk kembali ke restoran dan akan datang lagi nanti siang sebelum Daffa pulang dari sekolah. Meski saat ini dia merasa tidak suka karena Nisa masih bersama mantan suaminya tersebut, namun, Angga sadar kalau dia berada di posisi yang tidak pantas untuk mengatur kehidupan pribadi dari mantan istri Bima itu. Apalagi saat ini mereka belum menjalin hubungan apa pun, selain hubungan pertemanan.
"Aku balik ke restoran dulu ya, Nis. Nanti aku akan kesini lagi sebelum jam pulang sekolah Daffa," pamit Angga kepada janda beranak satu tersebut.
"Iya, Ngga. Silakan," Nisa mempersilakan mantan bosnya itu untuk pergi. "Tapi, kalau pekerjaanmu memang tidak bisa ditinggalkan, nggak apa-apa kok kalau kamu nggak ikut jemput dia nanti. Aku yakin Daffa akan ngerti setelah aku beri penjelasan," sambungnya.
"Tidak apa-apa, aku pasti akan usahakan datang. Kecuali ada hal urgent yang terjadi," balas Angga.
Nisa mengangguk mengerti.
"Kalau kamu, Mas? Maksudku kamu mau nunggu sampai waktunya Daffa pulang sekolah dimana?" tanya Nisa sambil melihat ke arah mantan suaminya tersebut. "Kita sudah cerai lho, Mas, dan tidak baik kalau kita berada di ruang yang sama saat tidak ada siapa pun di rumah. Takut jadi fitnah. Lagian sebentar lagi aku juga mau ke tokoku."
Bima terlihat berpikir. Dia memang tidak mungkin menunggu Nisa di dalam rumah wanita yang sudah menjadi mantan istrinya tersebut karena pasti akan menimbulkan fitnah seperti yang Nisa katakan barusan. Dan kalau ikut ke toko, dia juga bingung mau ngapain? Yang ada malah karyawan Nisa akan menganggapnya pengangguran yang ingin kembali kepada Nisa hanya karena harta.
"Aku nunggu di mobilku saja deh sambil melanjutkan pekerjaanku," jawab Bima yang akhirnya memilih untuk menunggu di dalam mobil.
"Yakin? Cuacanya panas lho hari ini, nggak takut kegerahan? Saran aku mending kamu pulang juga deh, Mas. Nanti kamu bisa ke sini lagi nanti."
Bima memikirkan saran yang Nisa kemukan barusan. Namun, dia tidak terlalu setuju dengan saran tersebut. Justru jika dia pulang dulu atau kembali ke kantornya malah akan banyak membuang waktu di jalan. "Terima kasih untuk sarannya. Tapi, sepertinya aku milih nunggu Daffa di dalam mobil saja," jawab Bima kemudian.
"Ya udah terserah kamu deh, Mas. Yang penting aku sudah ngingetin lho ya."
"Kenapa kamu nggak nunggu di restoranku saja. Restoranku kan berada di dekat sini, kamu juga bisa mengerjakan pekerjaanmu di sana. Restoranku cukup adem kok." tawar Angga kepada Bima. "Jangan khawatir kamu nggak perlu beli makanan atau minuman di restoranku kalau memang kamu nggak suka."
"Cih. Kamu mau menghinaku kalau aku nggak bisa beli makanan di restoranmu itu?" Bima mencebik kesal.
"Terserah deh kamu mau menganggap apa yang jelas niatku baik buat nolongin kamu." Angga tidak terlalu merisaukan perkataan orang yang menjadi pesaing beratnya tersebut. "Silakan kalau kamu mau berpanas-panas ria di dalam mobilmu itu!"
"Nis, aku pamit ya." Sekali lagi Angga berpamitan. "Assalammualaikum."
"Wa'alaikummussalam warahmatullahi wabarakatuh," jawab Nisa.
"Waalaikumsalam," jawab Bima dengan nada ketus.
Angga hanya menggeleng melihat tingkah mantan suami Nisa tersebut, dia pun segera melenggang meninggalkan halaman rumah Nisa.
"Kamu beneran mau nunggu di dalam mobil?" Nisa mengulang pertanyaannya lagi.
Bima merasa senang karena menganggap pertanyaan Nisa itu sebagai bentuk perhatian dari mantannya tersebut kepadanya. "Iya, kenapa? Kamu nggak tega dan akhirnya mau menyuruhku menunggu di dalam rumahmu?"
__ADS_1
"Bukan itu, aku mau berangkat ke toko sekarang, jika kamu tetep kekeh mau menunggu di dalam mobil, silakan. Bye Mas Bima, assalammualaikum." Tanpa menunggu balasan dari Bima, Nisa segera pergi dari sana dengan mengendarai mobil yang baru saja dinaikinya.
Bima hanya bisa mengesah, padahal dia baru saja berdekatan dengan mantan istrinya tersebut, tetapi ternyata tetap saja tidak bisa membuatnya lebih dekat dengan Nisa.
Bima akhirnya masuk ke dalam mobilnya yang di parkir di carpot yang ada di sebelah kanan rumah Nisa. Laki-laki yang sudah berstatus mantan Nisa itu mengambil laptop yang di simpannya di jok belakang. Dia mulai mengerjakan pekerjaan yang sempat ditundanya tadi.
15 menit pertama udara di dalam mobil mulai terasa sedikit panas karena memang cuaca hari itu memang lagi terik. Hingga akhirnya 1 jam kemudian, akhirnya Bima memilih menyerah karena udara di dalam mobilnya makin panas. Ia pun segera menghidupkan mesin mobilnya dan pergi dari sana.
***
Sejak pagi Cevan sudah membantu menyelesaikan pekerjaan Angga yang berhubungan dengan admistrasi restoran.
Dia begitu bangga dengan sahabatnya yang akhirnya sukses dengan jalan yang dipilihnya sendiri. Bahkan meski tanpa bantuan dari keluarga besarnya, Angga sudah mampu membuka cabang di beberapa kota besar dan setelah ia search di internet restoran-restoran miliknya itu menjadi restoran terbesar dan terlaris di kotanya. Dari beberapa file yang tanpa sengaja Cevan baca pun, pria yang dulu menjabat sebagai Direktur utama CAMP Grup itu sedang membuka cabang di luar negeri dan saat ini sedang mengurus beberapa dokumen mengenai perijinan.
"Sedang apa lo?" tanya Angga yang baru saja tiba di ruang kerjanya.
"Hanya melihat beberapa catatan pekerjaan lo," jawab Cevan. "Ternyata lo benar-benar hidup dengan benar selama 5 tahun ini. Lo berhasil mengembangkan usaha yang lo inginkan dan bisa dibilang berhasil. Sebagai sahabat gue bangga sama lo." Cevan menepuk pundak Angga.
"Sayangnya papa-mama gue nggak," sahut Angga.
"Tidak, Ngga. Gue rasa Tuan dan Nyonya besar juga bangga sama lo, hanya saja mereka terlalu gengsi untuk mengakuinya," jawab Cevan.
"Ngga, memaksa dan meminta bantuan itu beda. Kali ini orang tua lo hanya butuh bantuan lo untuk membantu menyelesaiakan permasalahan internal yang terjadi di perusahaan itu. Gue yakin setelah permasalahan itu selesai, Tuan dan Nyonya Besar akan membiarkan lo kembali lagi mengelola usaha yang lo jalani ini," jelas Cevan.
"Apa pun itu what ever lah. Gue cuma harap kalau mereka nggak ngatur soal jodoh gue. Gue bisa balik ke perusahaan itu untuk sementara waktu, tapi untuk melanjutkan pertunangan dengan Thania, gue nggak bisa," ujar Angga.
"Apa ini masih karena Nisa?" tanya Cevan lagi.
Angga mengangguk, dia tidak akan berbohong soal ini kepada Cevan.
"Bukannya lo bilang waktu itu kalau Nisa memilih rujuk sama mantan suaminya ya?" tanya Cevan. Dia ingat betapa hancurnya hati sahabatnya 5 tahun lalu ketika ia tahu bahwa Nisa akhirnya memilih untuk kembali ke mantan suaminya.
"Ternyata itu tidak benar dan hanya kesimpulanku sendiri. Dia tetap memilih bercerai dengan suaminya." Angga menatap Cevan.
"Apa sekarang kamu sudah bertemu dengannya dan memutuskan untuk mengejarnya lagi?" tebak Cevan. Tidak mungkin Angga akan bilang kalau itu kesimpulannya sendiri, jika ia belum bertemu dengan yang bersangkutan.
Angga mengangguk. "Kemarin pada saat acara pembukaan restoran," jawabnya. "Dan kamu tahu apa hal yang membuat kami berdua ketemu kembali?"
Cevan menggeleng.
__ADS_1
"Ternyata anak kecil yang pernah gue ceritaan sama lo lewat telepon itu adalah anaknya Nisa. Surprise kan? Gue saja tidak tahu sebelumnya mungkin saja ini pertanda kalau Yang Maha Kuasa sedang memberikan jalan agar gua bisa mendekatinya lagi," jelas Angga. Matanya terlihat berbinar kala menceritakan hal tersebut. Sorot mata yang sama seperti lima tahun yang lalu.
"Gue ikut seneng dengarnya, semoga kali ini lo tidak hanya berhasil mendapatkan Nisa, tetapi lo juga bisa mendekatkan Nisa dan anaknya ke kekeluarga lo." Kali ini Cevan benar-benar tulus mendoakan agar Angga dan Nisa bersatu, tidak seperti lima tahun lalu, dia tidak setuju saat Angga berusaha mendekati wanita itu.
"Kenapa?" tanya Cevan ketika mendengar helaan napas Angga. "Ada masalah? Apa dia sudah punya suami baru?" cecar Cevan.
"Tidak. Dia masih sendiri kok."
"Terus? Kenapa lo menghela napas begitu?" tanya Cevan penasaran.
"Mantan suaminya juga lagi berusaha untuk mendekatinya lagi," jawab Angga. "Bete kan?"
"Kalau begitu lo harus berusaha lebih keras lagi buat ngeyakinin dia. Jangan sampai lo kalah sama mantannya Nisa itu." Kali ini Cevan menjadi orang yang pertama kali menjadi pendukungnya untuk mengejar Nisa.
"Lo benar. Gue nggak akan nyia-nyiain kesempatan itu," ujar Angga berapi-api.
Kedua sahabat itu kemudian tertawa bersama.
Tok-tok-tok!
Seorang pekerja restoran mengetuk ruang kerja Angga.
"Masuk!" suruh Angga.
Pintu terbuka. Pekerja itu memberikan hormat dengan sedikit menundukan badannya.
"Maaf, Pak, ada yang ingin bertemu dengan Bapak," pramuniaga itu memberitahu.
"Siapa?" tanya Angga.
"Katanya dia baru saja mendapatkan undangan untuk datang ke restoran ini oleh Bapak," jawab pramniaga tersebut.
"Undangan?" Angga menautkan alisnya bingung. Perasaan pagi ini dia tidak mengundang siapa pun untuk datang. Kecuali....
"Dimana dia?" tanya Angga.
"Di luar, Pak," jawab Pramuniaga itu lagi.
Angga segera keluar untuk menemui orang tersebut. Cevan mengikutinya dari belakang. Dan ternyata dugaan Angga benar. Orang itu tersenyum simpul ketika melihat kedatangan Angga.
__ADS_1