
Tak jauh beda dengan yang dirasakan oleh Angga dan Cevan barusan, ketiga sahabat Nisa yakni Wulan, Dewi, dan Ratna begitu terkejut ketika mereka tahu pesta yang mereka hadiri bukanlah pesta baby moon ataupun pesta yang diperuntukkan untuk sahabat mereka Nisa, tetapi ternayata pesta itu adalah pesta resepsi pernikahan Bima dengan istri keduanya. Perasaan sedih tentu mereka rasakan. Sahabat yang mereka kira memiliki pernikahan yang sempurna nyatanya juga sedang ditimpa prahara dan mirisnya Nisa menahan itu seorang diri, tanpa memberitahu semua itu kepada mereka.
"Kenapa Nisa merahasiakan ini dari kita? Apa dia tidak menganggap kita ini sahabatnya?" keluh Wulan yang sudah tidak lagi bisa menahan air matanya.
"Jangan bilang seperti itu, Lan. Kita tidak tahu kenapa Nisa sampai merahasiakan itu kepada kita. Mungkin dia terpaksa merahasiakan semuanya dari kita," sahut Dewi yang juga tidak bisa menahan air matanya.
"Terpaksa kenapa? Kita ini sahabatnya, kita selalu memberitahu semua hal yang kita rasakan kepadanya, tapi kenapa dia tidak bersikap sebaliknya? Meski tidak bisa membantu, setidaknya dengan menceritakan semuanya kepada kita ada beban yang kita bisa angkat." Wulan masih marah. Entahlah perasaan marah itu ia tujukan kepada siapa? Kepada Nisa atau kepada dirinya sendiri yang merasa tidak bisa menjadi sandaran untuk sahabatnya tersebut?
"Bagaimana kalau justru kita yang memberinya beban? Hm?" potong Ratna.
Wulan dan Dewi saling menatap satu dengan yang lain, mereka menautkan alis mempertanyakan maksud dari ucapan Ratna barusan.
"Maksudmu?" lirih Wulan.
"Selama ini kita selalu menceritakan kesusahan kita pada dia, jadi mungkin saja dia merasa enggan untuk bercerita kepada kita," terang Ratna. Dia juga tak kuasa menahan air matanya. "Kesusahan kita sendiri saja tidak bisa kita selesaikan dan selalu meminta bantuannya, bagaimana kita mau membantu menyelesaikan masalah dia? Tanpa kita sadari, kita ini beban untuk dia," lanjut Ratna semakin tergugu.
__ADS_1
"Hapus air mata kalian! Jangan tunjukan kesedihan kalian di depan Nisa. Dia saja bisa tersenyum di depan semua orang walau hatinya sakit. Lalu kenapa kita juga tidak bisa menyembunyikan kesedihan kita itu di hadapannya!" seru Ratna. Dia meminta kepada kedua sahabatnya yang lain untuk menghapus air matanya.
Dewi dan Wulan segera menghapus air matanya menggunakan punggung tangan. Ketiga sahabat Nisa itu pun naik ke pelaminan untuk memberikan ucapan selamat kepada atasan yang sekaligus suami dari sahabat mereka, Bima.
"Selamat ya, Pak, atas pernikahan keduanya. Semoga Bapak tidak menyesal karena telah menyakiti hati sahabat kami," sinis Wulan yang langsung mendapat tatapan sinis dari laki-laki itu.
"Lan, hati-hati kalau ngomong. Aku tahu kamu sakit hati atas kelakuan Bima, tapi bagaimana pun dia adalah atasan kita di kantor. Jangan sampai kita kehilangan pekerjaan gara-gara tidak bisa menempatkan diri," bisik Dewi.
"Maafin Wulan ya Pak, dia hanya asal jeplak tadi," ujar Dewi.
"Tidak apa-apa, aku bisa mengerti kalau kalian merasa tidak suka dengan pernikahan keduaku ini. Tapi asal kalian tahu, pernikahan keduaku ini atas persetujuan sahabat kalian, Nisa. Iya kan, Nis?" Bima melemparkan pertanyaan ke Nisa.
"Iya," jawab Nisa singkat.
"Nis, kamu nggak apa-apa kan?" tanya Wulan. Dia sudah berusaha menahan air matanya, namun saat menatap wajah Nisa secara langsung justru air matanya malah kembali keluar. Dia yakin dibalik senyuman yang Nisa tampilkan sepanjang acara ada luka menganga yang sedang ia tahan.
__ADS_1
"Aku tidak apa-apa kok. Mas Bima benar, dia menikah karena seizinku. Jadi kalian tidak perlu mengkhawatirkan perasaanku," jawab Nisa. Dia tetap menunjukan senyumannya.
"Lebay," desis Ayu. Dia melirik Nisa dan ketiga sahabatnya dengan sinis.
"Kalau kalian mau nangis-nangis di bawah panggung saja sana! Jangan sampai semua tamu undangan mengira keponakanku ini pelakor yang tidak tahu diri, padahal dia menikah justru atas restu Nisa!" Tante Meta menyuruh ketiga sahabat Nisa tersebut untuk turun dari pelaminan karena memang banyak tamu yang mulai memberikan tatapan sinisnya kepada Ayu.
"Kalian turun saja! Besok kita bicarakan ini!" suruh Nisa yang lagi-lagi tetap menampilkan senyumannya.
"Kami tunggu cerita lengkapmu ya, Nis," ujar Ratna.
Nisa mengangguk. Ketiga sahabat Nisa itupun kemudian turun dari pelaminan.
ššš
Hallo teman semuanya, maaf ya kemarin author gak update karena jujur sejak dua hari yang lalu author agak kurang enak badan. Hari ini pun sebenarnya author masih belum benar-benar fit, tapi author paksain buat tetap update demi kalian. Jadi, plis plis plis kasih semangat author dengan like, komen, gift, dan vote sebanyak-banyaknya terima kasih.
__ADS_1
Oh iya sambil nunggu author update bab selanjutnya kalian yang suka dengan cerita genre fantasi bisa mampir ke karya saudara author yang berjudul ARCHILES HEELS karya Shamrock.