
Beberapa hari kemudian tanpa sengaja Ayu bertemu lagi dengan tantenya, Tante Meta. Saat itu Ayu yang sedang menemeni Bima makan malam di sebuah restoran merasa terkejut ketika melihat tantenya dikerubungi masa karena ketahuan hendak mencuri dompet dari salah seorang pengunjung restoran. Ayu yang tidak tega melihat tantenya ditahan oleh security restoran, akhirnya meminta sang suami untuk membantu membebaskan tantenya tersebut.
Setelah bernegosiasi dengan korban pencurian dan pihak restotan akhirnya Tante Meta dibebaskan. Tetapi, perempuan yang usianya lebih dari empat puluh tahun tersebut disuruh membuat surat pernyataan jika ia tidak akan mengulangi perbuatannya, jika dikemudian hari wanita tersebut ketahuan mencuri lagi di restoran itu, maka dia akan langsung digiring ke kantor polisi.
"Tan, kenapa Tante bisa menjadi pencuri? Bukankah dulu Tante yang selalu mengajariku untuk tidak pernah mencuri dalam kondisi apa pun, tapi kenapa sekarang malah Tante yang melakukannya?" cecar Ayu.
"Tente terpaksa, Yu. Suami Tante ninggalin Tante tanpa uang sepeserpun, tante sudah mencari pekerjaan dimana-mana, tapi tante belum mendapatkannya. Karena sudah berhari-hari tante nggak makan, tante nekat mencuri, Yu," jawab Tante Meta di sela-sela isakannya. "Yu, kalau di tempat majikan kamu ada lowongan pekerjaan, tante mau kok kerja di sana."
Ayu menatap suaminya, memohon agar suaminya mau membantu masalah yang sedang dihadapi oleh tantenya tersebut.
"Kamu bisa ajak Tante kamu tinggal di rumahku, nanti biar aku yang bicara sama Nisa," ucap Bima sambil mengusap punggung istri keduanya tersebut.
"Terima kasih ya, Mas, karena kamu sudah mau bantu Tante aku. Mbak Nisa nggak akan marah kan kalau aku mengajak Tante Meta tinggal bersama?" kembali Ayu menatap suaminya. Ia takut kalau istri pertama dari suaminya tersebut tidak menyetujui ia membawa tantenya tinggal bersama mereka.
__ADS_1
"Nisa adalah wanita yang sangat baik, dia gak mungkin marah. Apalagi tante kamu ini dalam kesusahan," jawab Bima menenangkan.
Tante Meta menatap dua orang yang ada di hadapannya penuh tanya. "Tunggu dulu! Dia ini suami dari wanita yang sedang hamil waktu itu kan, Yu? Kok kamu manggil dia, Mas? Kamu nggak sedang berselingkuh dengan suami orang kan, Yu?" tanya Tante Ayu memastikan.
Ayu menatap Bima, dia sendiri bingung harus memberikan jawaban yang seperti apa kepada tantenya itu.
"Yu," panggil Tante Meta lagi.
Bima membawa Tante Meta ke salah satu ruang VIP di restoran mewah tersebut. Setelah memesan beberapa menu makanan dan menyuruh Tante Meta untuk menikmati semua hidangan itu, Ayu mulai menceritakan keadaan dirinya yang sebenarnya.
"Jadi, kamu menjadi istri kedua, Yu?" tanya Tante Meta tak percaya. Dia bahkan sampai menutup mulutnya menggunkan telapak tangan saking tidak percayanya.
"Iya, Tante. Ayu terpaksa menyetujui itu karena itu permintaan almarhumah ibu sebelum meninggal," jawab Ayu.
__ADS_1
"Lalu istri kamu bisa menerima itu?" kini giliran Bima yang mendapat pertanyaan dari Tante Meta.
"Awalnya dia juga nggak bisa menerima keadaan ini. Tapi, karena ini adalah wasiat dari almarhum papa akhirnya dia setuju," jawab Bima.
Tante Meta hanya menghembuskan napas berat. Dia tidak percaya jika keponakannya malah menjadi istri kedua dari suami orang, hal yang selama ini tidak ia sukai.
"Tante nggak marah sama Ayu kan?" tanya Ayu sambil menunduk. Bagi Ayu, Tante Meta sudah seperti ibu kandungnya sendiri. Dulu sebelum wanita itu menikah dan tinggal di kampung, dialah yang membantu membiayai sekolah Ayu.
"Ya... mau gimana lagi, mungkin ini yang namanya takdir. Kita nggak bisa memilih dengan siapa kita akan berjodoh," jawab Tante Meta.
"Sekarang kita makan dulu, setelah ini Tante bisa ikut kami ke rumah," ujar Bima.
Ketiga orang itupun mulai menyantap makanan yang ada di meja.
__ADS_1