Dimadu Karena Wasiat

Dimadu Karena Wasiat
DKW 41 - Sakit sekali


__ADS_3

Acara resepsi pernikahan Bima dan Ayu berjalan lancar. Meski tamu yang datang sempat terkejut dengan pernikahan kedua Bima, namun pada akhirnya mereka tetap berpandangan kalau semua terjadi karena Bima memiliki kharisma yang luar biasa dan mampu membagi semuanya secara adil, karena jika tidak mana mungkin istri pertama dari Bima Wardhana itu mau mendampingi suami dan istri keduanya sampai selesai acara padahal dia dalam kondisi hamil.


"Nis, kamu mau menginap di hotel bareng suamimu atau mau pulang ke rumah?" tanya Vena kepada menantu pertamanya tersebut.


"Aku ingin pulang saja, Ma," jawab Nisa. Dia juga tidak mau terus menerus harus melihat kemesraan Bima dengan Ayu.


"Tapi rumah Mama dan rumahmu tidak searah, bagaimana kalau kamu menginap saja di rumah Mama. Besok biar Bima menjemputmu," ujar Vena. Dia tidak mungkin menyuruh supirnya untuk bolak-balik apalagi ini sudah lebih dari jam 12 malam. "Pak Ujang juga, ngapain harus izin pulang cepet padahal kan kalau ada dia kamu bisa minta dianterin dia pulang."


"Tidak apa-apa, Ma. Pak Ujang izin kan karena istrinya mau lahiran, jadi biarkan saja. Lagian aku bisa naik taksi kok, Ma," jawab Nisa.


"Tapi, Mama tetap mengkhawatirkanmu, Nis," sahut Vena lagi.


"Biar aku yang antar Nisa pulang, Ma." Dari arah lain Bima yang baru saja datang itu ikut menyahut.


"Mas, ini kan malam pengantin kita. Harusnya untuk malam ini Mas Bima jangan mikirin Mbak Nisa dong." Ayu yang datang bersama Bima itu merajuk. Dia tidak rela sang suami mengantar istri pertamanya tersebut pulang ke rumahnya.


"Tapi, Yu.... "


"Pokoknya aku bakalan ngambek kalau Mas Bima nganter Mbak Nisa pulang," potong Ayu, dia sengaja cemberut untuk menarik perhatian suaminya.


"Sudah sudah sudah. Kenapa hal ini saja dipermasalahkan, biar Tante saja yang pulang bareng Nisa naik taksi. Jadi, kamu Bima, kamu masih bisa nemenin Ayu. Dan Nisa, juga tidak pulang sendirian kan?" Seolah ingin terlihat baik, Tante Meta menawarkan diri. "Bagaimana Nyonya Vena, kalau begini Anda tidak akan mengkhawatirkan keadaan menantu pertama Anda lagi, kan?" tanya Tante Meta.


Vena menatap Nisa sebentar meminta jawaban dari menantu pertamanya tersebut. Setelah mendapat anggukan dari Nisa, Vena pun menjawab, "Baiklah, aku setuju."


Tante Meta dan Ayu tersenyum penuh arti.


"Tapi, ingat lho. Kamu harus benar-benar mengantar Nisa sampai di rumahnya!" Vena memberi peringatan kepada tante dari istri kedua anaknya itu.

__ADS_1


"Jangan khawatir, aku kan juga tinggal di rumah itu, jadi tentu saja kita akan bareng-bareng sampai rumah," jawab Meta dengan disertai senyum kepalsuan.


"Ya sudah, Bim, Yu, mama pulang ya," pamit Vena.


"Hati-hati ya, Ma," jawab Bima dan Ayu bersamaan.


"Yu, Tante dan Nisa juga pulang sekarang ya. Nikmati malam panjang kalian ini," pamit Tante Meta yang sengaja menegaskan tentang malam panjang kedua mempelai tersebut.


"Tentu saja, Tante. Malam ini aku akan membuat Mas Bima kecapekan hingga besok pagi dia tidak bisa berangkat ke perusahaan," jawab Ayu.


Melihat itu, Nisa hanya memutar bola matanya.


"Aku juga pamit ya, Mas," pamit Nisa singkat. Wanita itu langsung beranjak pergi dari sana mengikuti mertuanya yang sudah terlebih dulu pergi.


***


"Ma, aku pamit ya," pamit Nisa begitu taksi pesanannya sudah datang.


"Hati-hati ya, Nis. Jangan lupa kabari Mama begitu kamu sampai di rumah," jawab Vena.


Nisa mengangguk, dia mencium punggung tangan mertuanya terlebih dulu. "Assalammualaikum, Ma," ucapnya sebelum pergi.


"Waalaikummussalam warahmatullahi wabarakatuh," jawab Vena yang juga masuk ke mobilnya sendiri.


Nisa dan Tante Meta naik ke dalam taksi yang baru datang tersebut. Taksi itu pun kemudian melaju meninggalkan area hotel. Namun setelah sekitar setengah jam taksi itu berjalan, Nisa dibuat terkejut ketika Tante Meta tiba-tiba meminta taksi itu untuk berhenti.


"Stop!" suruh Tante Meta kepada Sang Sopir taksi.

__ADS_1


"Tante, kenapa kita berhenti di sini? Tante ada urusan di sini?" tanya Nisa kepada tante dari madunya itu.


"Bukan aku yang ada urusan, tapi kamu," jawab Tante Meta ketus.


"Maksud, Tante?"


"Kamu kira aku mau satu taksi bareng kamu? Sorry ya, aku nggak sudi," jawab Tante Meta. "Buruan turun! Cari taksi lain sana!" suruh Tante Meta.


"Tapi, Tante ini jalanan sepi. Jarang ada taksi yang lewat sini."


"Aku tidak peduli! Sudah sana buruan turun!" suruh Tante Meta lagi.


Karena Nisa tak kunjung turun dari dalam taksi itu, Tante Meta keluar dari taksi dan menarik tangan Nisa agar keluar dari taksi itu. Nisa sudah berusaha untuk melawan, namun kram yang tiba-tiba menyerang perutnya membuatnya terpaksa pasrah dan mau untuk turun dari taksi itu.


"Rasain kamu!" Setelah mengatakan hal itu, Tante Meta kembali naik ke dalam taksi dan meninggalkan Nisa seorang diri di tengah jalan.


"Ya Allah, perutku sakit," desis Nisa menahan sakit yang ia rasakan. Nisa menepi dan duduk di pinggir jalan. Dia mengambil telepon genggamnya dari dalam tas, menekan pin untuk membuka layar.


"Siapa yang harus aku hubungi?" tanya Nisa bingung. Dia tidak tahu harus meminta tolong kepada siapa.


"Sakit sekali," ujar Nisa sambil memegangi perutnya. Tanpa sengaja jari Nisa menekan nomor paling atas dari daftar panggilan terakhir di layar ponselnya.


šŸ‚šŸ‚šŸ‚


Hm... Kira-kira nomor siapa ya yang nggak sengaja dihubungi oleh Nisa?šŸ¤”


JANGAN LUPA LIKE, KOMEN, VOTE, DAN GIFT SEBANYAK-BANYAKNYA YA GAES. MAKASIH, LOPE YOU PULL

__ADS_1


__ADS_2