
Ayu tersenyum senang ketika ada nama Nisa didaftar orang yang melihat story whatsapp-nya pagi ini. Dia yakin istri pertaman dari Bima itu sedang meratapi kepedihan hatinya melihat kepuasan yang terlihat di wajah Bima yang masih tertidur pulas.
"Kamu lihat saja, Mbak, setelah aku hamil anaknya Mas Bima, dia juga tidak akan mempedulikan anak dalam kandunganmu lagi. Dan ketika saat itu tiba, akulah akan yang akan menjadi satu-satunya rumah di rumah Mas Bima. Bagaimanapun kebahagiaan yang sudah kamu rasakan selama 3 tahun ini, seharusnya adalah milikku karena sejak awal akulah istri yang diwasiatkan untuk Mas Bima," gumam Ayu. Dia membelai wajah Bima yang masih tertidur pulas di sampingnya.
"Jam berapa ini, Yu?" tanya Bima ketika membuka matanya.
"Sudah jam tujuh, Mas."
"Astaghfirullah hal adzim, kenapa kamu nggak bangunin aku buat sholat subuh sih, Yu," protes Bima.
"Aku juga baru bangun, Mas. Kan semalam kamu yang terus-terusan minta lagi dan lagi, sampai aku hampir kewalahan dibuatnya," jawab Ayu dengan nada manjanya.
Bima terlihat berpikir. Dia sendiri merasa heran, semalam sepertinya dia terlalu bergairah seolah tidak pernah merasakan kepuasan. Bahkan sentuhan kecil dari Ayu saja langsung membuat adik kecilnya kembali berdiri tegak.
"Aku mau telepon Nisa dulu, mau menanyakan kabar dia. Sekalian mau tanya kenapa semalam dia nggak ngabarin aku." Bima bangun dari tempat tidurnya. Sayangnya tangan Bima kembali ditahan oleh Ayu.
"Mas, apa kamu nggak pengen lagi?" tanya Ayu dengan suara manjanya.
"Aku takut kamu kelelahan, Yu. Nanti malam saja ya kita lanjutkan. Aku harus menghubungi Nisa dulu," tolak Bima.
"Bener nih, Mas, nggak mau?" kembali Ayu merayu suaminya kembali. Dia tidak bisa membiarkan Bima memikirkan istri pertamanya tersebut.
"Yu.... " Suara Bima tercekat di tenggorakan mana kala adik kecilnya kembali mendapat sentuhan dari tangan Ayu.
"Aku masih bisa lho melayani Mas Bima lagi." Ayu berbisik di telinga suaminya.
"Tapi.... " Lagi-lagi suara Bima tercekat ketika tangan Ayu semakin nakal. Bahkan kini istri keduanya tersebut menggunakan rongga terbuka tempat masuknya makanan dan air untuk memainkan adik kecil dari Bima.
Bima pun akhirnya pasrah dengan permainan istri keduanya tersebut. Dia kembali mengungkung tubuh Ayu dan melakukan ronde tambahan.
Sayangnya saat kedua insan yang sedang memadu kasih itu hampir mencapai puncak kenikmatan, dering telepon milik Ayu terus berbunyi dan membuat Bima langsung kehilangan selera.
"Kamu jawab dulu, gih! Aku tidak suka diganggu saat kita sedang bersenang-senang seperti ini," suruh Bima. Dia merebahkan dirinya di samping Ayu. Dan dengan terpaksa Ayu pun mengambil telepon genggamnya tersebut.
__ADS_1
"Iya, Tante. Ada apa?" kata Ayu tanpa basa-basi, dia juga kesal karena tante Meta sudah mengganggu aktivitasnya di pagi ini.
"Yu, gawat! Gawat, Yu!" teriak Tante Meta dari ujung sana.
Ayu melirik suaminya sebentar. "Gawat kenapa sih, Tante?" tanya Ayu dengan suara lirih.
"Nisa, Yu. Nisa."
"Kenapa dengan wanita itu?" bisik Ayu lagi.
"Nisa hilang."
"Apa!?" tanpa sadar Ayu berteriak.
"Ada apa, Yu? Kenapa kamu berteriak seperti itu?" tanya Bima, dia terkejut karena tiba-tiba istri keduanya tersebut berteriak.
"E... Ini, Mas. Tante Meta katanya jatuh dari tempat tidur," jawab Ayu asal.
"Itu dia, Mas. Makanya aku berteriak barusan," sahut Ayu.
"Gimana keadaan Tante kamu sekarang? Parah tidak?" tanya Bima lagi.
"Tidak parah kok, Mas. Hanya benjol dikt di kepala." Lagi-lagi Ayu asal menjawab.
"Mas, kamu mau kemana?" tanya Ayu ketika melihat suaminya bangun dari tempat tidur.
"Aku mau mandi. Sepertinya kita tidak bisa melanjutkan yang tadi," jawab Bima. Dia mencari handuk dan langsung berjalan masuk ke kamar mandi.
Setelah memastikan suaminya sudah benar-benar masuk ke kamar mandi, Ayu kembali berbicara kepada Tante Meta.
"Maksud perkataan Tante barusan apa? Kenapa Mbak Nisa bisa hilang? Gimana kalau Mas Bima atau Mama Vena tahu, bisa runyam semuanya?" ucap Ayu kesal.
"Semalam Tante nurunin dia di jalan, niatnya sih cuma mau ngerjain dia. Tapi, pas Tante kembali lagi ke jalan itu, Nisa sudah tidak ada di sana. Mana dia nggak pulang ke rumah lagi dari semalam. Tante kan bingung, Yu. Apalagi barusan mertuamu menelpon, dia bilang akan ke rumah untuk ngirim sarapan buat Nisa. Sekarang Tante harus gimana, Yu?" terang Tante Meta.
__ADS_1
"Tante tenang dulu, biar aku pikirkan caranya sebentar." Ayu mencoba menenangkan tantenya, dia segera memutar otak untuk mencari alasan yang tepat yang bisa diberikan kepada mertuanya dan Bima nanti.
"Gimana, Yu, sudah dapat?" tanya Tante Meta lagi.
"Sebentar, Tante, sebentar. Aku juga lagi mikir ini."
"Yu... Mertuamu sudah datang itu. Itu bunyi mobilnya sudah terdengar di depan rumah. Gimana ini Yu?" tanya Tante Meta panik.
"Ah, aku sudah punya jalan keluarnya. Sekarang Tante tarik napas dulu yang panjang kemudian hembuskan. Tante harus rileks, jangan terlihat gugup agar Mama Vena tidak curiga!" suruh Ayu.
"Tapi, jalan keluarnya apa, Yu?" tanya Tante Meta lagi.
"Tante dengerin baik-baik ya." Ayu mulai membisikkan jawaban yang harus Tante Meta berikan kepada mertuanya ketika wanita itu menanyakan soal keberadaan Nisa.
"Kamu yakin, mertuamu nggak akan curiga?" tanya Tante Meta memastikan.
"Yakin. Yang penting jawaban kita berdua kompak," jawab Ayu dengan penuh keyakinan.
"Ya sudah ya, Yu. Tante tutup dulu teleponnya, itu mertuamu sudah mengetuk pintu."
"Iya, Tante."
Keduanya kemudian mengakhiri panggilan mereka.
Ayu melihat layar ponselnya dan kembali melihat jam berapa istri kedua suaminya itu melihat story whatsapp-nya.
"Artinya nomor Mbak Nisa baru aktif pagi ini, aku yakin Mama Vena dan Mas Bima nggak akan curiga kalau Mbak Nisa sudah menghilang sejak semalam."
"Siapa yang menghilang sejak semalam, Yu?" tanya Bima yang baru saja keluar dari kamar mandi.
"Apa Mas Bima mendengar perkataanku barusan ya? Hadeh, bisa gawat kalau Mas Bima mendengarnya." Ayu membatin.
"Yu, kok diam saja? Siapa yang hilang sejak semalam?" tanya Bima lagi. Laki-laki yang kini memiliki dua istri itu bertanya. Dia bahkan memberikan tatapan tajamnya kepada Ayu.
__ADS_1