Dimadu Karena Wasiat

Dimadu Karena Wasiat
DKW 18 - Hasutan Tante Meta


__ADS_3

Sepulang dari kantor Bima, Tante Meta mengajak Ayu untuk jalan-jalan ke mall. Mereka berdua berkeliling di sebuah butik kenamaan yang ada di salah satu lantai di mall tersebut.


"Yu, lihat deh baju ini bagus. Aku yakin kamu akan terlihat elegant pakai baju ini," ujar Tante Meta sambil menunjukkan dres panjang tanpa lengan berwarna dusty kepada Ayu.


"Tapi, aku nggak biasa pakai baju kayak gitu Tante. Rasanya risih," jawab Ayu.


"Pantas saja si Bima nggak memperlakukanmu lebih spesial dari si Nisa wong penampilan kamu aja masih gini-gini aja," ucap Tante Meta sambil menatap penampilan Ayu dari atas hingga bawah.


"Tapi, Tante, Mbak Nisa juga penampilannya biasa aja. Bahkan dia nggak pernah memperlihatkan lekuk tubuhnya di saat keluar dari kamar," jawab Ayu lagi.


"Itu beda Ayu, si Nisa dan Bima ketemu pas mereka sama-sama single. Jadi, mereka bisa menerima kelebihan dan kekurangan mereka masing-masing. Lah kamu? Kamu itu jika diibaratkan hanya perempuan yang kebetulan hadir di sisi Bima karena wasiat, jadi Bima belum menaruh cinta ke kamu. Kalau dia cinta sama kamu, dia nggak perlu izin dari Nisa untuk melakukan segala sesuatu. Makanya mulai sekarang kamu harus bisa berpenampilan menarik agar kamu bisa mendapatkan cinta Bima," bujuk Tante Meta.


Ayu tampak terdiam, dia memikirkan perkataan tantenya barusan.


"Sudah, jangan terlalu banyak berpikir. Ikuti saja nasehat dari tante agar kamu bisa mendapatkan cinta Bima." Tanpa menunggu jawaban dari Ayu, Tante Meta mengambil beberapa baju untuk dipakai oleh Ayu. Mereka kemudian menuju kasir untuk membayar.


"Totalnya 50jt ya Nyonya," ucap penjaga kasir.


"Tan, ini terlalu mahal. Bagaimana kalau Mbak Nisa atau Mas Bima marah?" bisik Ayu.


"Udah, kamu jangan pikirkan itu dulu. Yang penting kamu bayar semuanya, urusan yang lain biar nanti tante yang akan menyelesaikannya," jawab Tante Meta. "Kamu bawa kartu kredit, kan?"

__ADS_1


"Bawa Tante. Tapi, Mbak Nisa bilang aku harus pandai mengatur keuangan Mas Bima," jawab Ayu.


"Itu bisa-bisanya si Nisa saja biar kamu nggak membeli sesuatu. Ingat, Yu. Bima itu kaya raya, pemilik perusahaan ternama. Jadi wajarlah kalau sebagai istri kamu ikut nikmatin hasil kerja dia."


Dengan perasaan ragu, Ayu menyerahkan kartu kredit kepada penjaga kasir tersebut. "Ini, ya Bu. Terima kasih atas kunjungannya," ucap kasir itu sambil menyerahkan kartu kredit dan barang belanjaan Ayu.


"Tante ini sudah hampir jam empat sore, kita pulang yuk! Takutnya Mamanya Mas Bima marah kalau tahu aku belum pulang. Apalagi, kita kan sebenarnya keluar hanya untuk mengantarkan makan siang untuk Mas Bima!" ajak Ayu.


"Memang mertuamu itu masih suka datang ke rumah kalian?" tanya Tante Meta ingin tahu.


"Biasanya sih tiga hari sekali dia datang untuk melihat keadaan Mbak Nisa. Tapi, akhir-akhir ini katanya dia sedang agak sibuk dengan kegiatan sosialnya makanya udah seminggu lebih belum mengunjungi Mbak Nisa lagi," jawab Ayu.


"Iya, dia sangat menyayangi Mbak Nisa. Setiap dia baru pulang dari luar kota, dia selalu membawakan Mbak Nisa hadiah. Katanya sih untuk calon cucunya. Tapi, mana ada bayi yang belum lahir dikasih hadiah berlian." Mendengar jawaban dari Ayu membuat mata Tante Meta melotot.


"Berlian? Kamu yakin itu berlian asli?" tanya Tante Meta penasaran.


"Iya, aku yakin karena ada suratnya gitu."


"Terus kamu dikasih hadiah apa sama mertuamu itu?"


Ayu menggeleng.

__ADS_1


"Ini sih sudah keterlaluan. Makanya Yu, kamu harus bisa memaksa Bima untuk melegalkan pernikahan kalian dan usahakan agar kamu juga bisa secepatnya mengandung anaknya Bima, biar nggak keenakan tuh si Nisa dikasih hadiah mewah sama mertuanya." Tante Meta kembali mengompori.


"Mas Bima belum mengizinkan aku untuk hamil Tante, dia bilang minimal harus menunggu anak dalam kandungan Mbak Nisa berumur 3 bulan," jawab Ayu.


"Jangan mau, Yu. Mulai sekarang jika Bima menyuruhmu untuk memakai alat pengaman apa pun pura-pura saja mengiyakan, tapi kamu jangan pakai itu."


"Maksud Tante?"


"Pokoknya bagaimanapun caranya kamu harus secepatnya mengandung anaknya Bima."


"Tapi, Tan. Kalau Mas Bima marah bagaimana?"


"Bilang saja kalau kamu lupa memakai atau meminum pil pencegah kehamilan itu sekali. Tante yakin kalau kamu udah terlanjur hamil, Bima nggak akan marah dan kamu juga akan dimanjakan oleh suamimu itu sama halnya Bima memanjakan si Nisa," jawab Tante Meta. "Tidak usah banyak berpikir lakukan saja nasehat Tante. Oke!"


Ayu mengangguk. "Iya, Tante," jawabnya. "Tapi sekarang kita pulang, yuk! Aku nggak mau bikin keributan dengan Mbak Nisa nanti!"


"Ya sudah kita, pulang. Tapi, kamu belikan Tante itu dulu ya." Tante Meta menunjuk kalung emas yang ada di etalase salah satu toko emas yang ada di mall tersebut.


Ayu menghela napas panjangnya. "Ya udah, ayo kita beli, setelah itu kita pulang!" jawab Ayu.


"Keponakanku memang baik. Terima kasih ya, Yu," ucap Tante Meta.

__ADS_1


__ADS_2