
Ayu terlihat sedikit tenang ketika mendapati klinik dokter kandungan tersebut sudah ada beberapa pasien disana, dia jadi memiliki alasan untuk tidak memeriksakan kandungannya di klinik tersebut.
"Mas, kita ke dokter langgananku saja yuk! Lihat lah di sini kita harus ngantri, bukankah katanya kamu ada meeting penting? Kalau begini kamu bisa terlambat ke tempat meeting, Mas!" Ayu berusaha membujuk Bima.
Bima tampak berpikir. Dia kemudian terlihat menghubungi seseorang melalui ponsel. Beberapa detik kemudian seorang perawat datang mengahampiri Bima dan Ayu.
"Dengan Tuan Bima?" tanya perawat tersebut.
"Iya, saya Bima," jawab Bima.
"Mari, Pak, Bu, ikut saya. Dokter Fateh sudah menunggu Anda di dalam!" ajak perawat tersebut.
"Tapi, Sus, bukannya antreannya masih panjang ya? Kenapa kita diizinkan untuk langsung masuk? Apa pasien yang lain tidak akan marah?" tanya Ayu. Dia tetap berupaya untuk mencari alasan untuk meninggalkan klinik tersebut.
"Bukan masalah, Bu. Mari silakan masuk!" jawab perawat tersebut sambil menyuruh Bima dan Ayu untuk mengikutinya.
"Tapi.... "
Belum selesai Ayu berbicara, Bima sudah memotongnya. "Buruan, Yu! Kalau kamu nanti-nanti justru kita memperlambat pasien lain!"
"I... iya, Mas," jawab Ayu yang terpaksa harus pasrah mengikuti ajakan Bima.
"Kalau begini aku harus mencari cara lain agar dokter itu juga mau bekerjasama denganku." Ayu membatin.
__ADS_1
"Mari, Pak, Bu!" Perawat itu kembali menyuruh Bima dan Ayu untuk masuk ke ruang pemeriksaan.
"Iya, Sus," jawab Ayu.
Ayu dan Bima masuk ke dalam ruang pemeriksaan.
"Ini istri yang kamu ceritain barusan itu, Bim?" tanya Fattan.
Fattan Al Ghozali adalah teman sekampus Bima dulu.
"Iya, Teh," jawab Bima.
Fattan tampak memperhatikan Ayu dari atas hingga bawah.
"Iya, Dok," jawab Ayu.
"E... Mas, aku haus. Mas Bima bisa beliin aku minuman nggak? Aku mau jus yang ada di depan sana!" pinta Ayu.
"Yu, kita beli setelah kamu periksa ya!" jawab Bima.
"Mas, tapi, anakmu inginnya sekarang. Kamu nggak mau kan anak kita ileran nanti? Mas, beliin sekarang ya! Lagian penjualnya juga deket kok Mas, ada di sebelah klinik ini. Nanti pas Mas udah selesai beli, aku juga udah selesai diperiksa. Jadi, kita bisa menghemat waktu juga. Bukanya tadi Mas Bima bilang ada meeting penting habis ini?" bujuk Ayu. Dia berusaha agar Bima mau keluar meninggalkan ruang pemeriksaan agar dia bisa membujuk Sang Dokter untuk mau bekerjasama dengannya.
Bima menatap Fattan sebentar.
__ADS_1
"Turuti keinginan istrimu, Bim!" suruh Fattan
"Tapi.... "
"Mas," rengek Ayu.
"Baiklah, aku beliin sekarang," jawab Bima. "Tan, aku keluar sebentar ya."
Fattan mengangguk. Setelah Bima keluar dari ruang pemeriksaan itu, Ayu segera mengeluarkan amplop berisi uang yang sebelumnya ia siapkan untuk dokter kandungan langganannya.
"Ini untuk Anda, isinya 50 juta," ujar Ayu sambil menaruh amplop tersebut di atas meja.
"Untuk apa Anda memberikan uang itu?" tanya Fattan bingung.
Ayu keluar dari ruang pemeriksaan itu sebentar untuk memastikan jika Bima memang sudah benar-benar menjauh dari ruangan tersebut. Setelah yakin tidak ada Bima, ia pun kembali masuk.
"Sebenarnya saya hanya pura-pura hamil. Jadi, tolong Anda buatkan saja surat atau apa kek yang menyatakan kalau kondisi saya dan janin yang ada di dalam perut saya ini sehat," jelas Ayu.
Fattan mengernyit. "Anda membohongi suami Anda? Kenapa?"
"Sudah nggak usah ikut campur! Kamu buat aja surat keterangan itu dan uang ini akan menjadi milik kamu," jawab Ayu. "Cepat ambil uangnya dan buatkan surat itu!"
Fattan masih diam. Dia menatap amplop coklat yang ada di depannya. Uang 50 juta bukanlah uang yang sedikit. Tetapi mengkhianati teman juga bukanlah hal yang baik karena bagaimanapun Bima pernah membantunya saat kuliah dulu.
__ADS_1
"Jika itu masih kurang, aku bisa transfer kekurangannya sekarang. Sebutkan saja nominal yang kamu inginkan!" bujuk Ayu lagi. "Bagaimana? Bisa kan kamu memberikan keterangan sesuai dengan yang aku kataka barusan?"