Dimadu Karena Wasiat

Dimadu Karena Wasiat
DKW 69


__ADS_3

"Maksud Pak Angga, Pak Angga ada di depan rumah?" tanya Nisa lagi. Dia segera membuka gorden di ruang tamu dan benar, Angga sudah berdiri di depan rumah tersebut. "Tunggu sebentar, Pak!" Nisa segera mematikan teleponnya.


Wanita yang sedang hamil 7 bulan tersebut langsung membukakan pintu untuk Angga.


"Pak, kok nggak ngetuk pintu sih? Sejak kapan Pak Angga ada di luar?" tanya Nisa.


"Sejak jam sembilan tadi. Tapi, aku lihat lampu di rumahmu sudah mati. Jadi, aku putuskan untuk tidak mengganggumu," jawab Angga.


"Ya Allah, Pak, jadi selama dua jam Bapak berada di depan rumah? Kenapa Bapak nggak pulang saja kalau tahu aku sudah tidur."


"Entahlah, aku merasa khawatir meninggalkanmu sendirian apalagi kamu dalam keadaan hamil," jawab Angga.


Mendengar jawaban Angga membuat Nisa tiba-tiba mengeluarkan air mata.


"Nis, kenapa kamu nangis? Apa aku salah karena mengkhawatirkanmu?" tanya Angga panik.


Nisa menggeleng. "Aku hanya terharu, Pak. Di saat suamiku tidak peduli padaku dan calon anak kami, Bapak justru memikirkan kami. Padahal aku hanya karyawan Pak Angga," jawab Nisa.


"Sudah, jangan nangis! Ntar kalau ada yang lihat dikiranya aku udah berbuat yang enggak-enggak lagi sama kamu. Bukannya tadi kamu bilang kalau kamu lapar dan ingin makan makanan yang aku bawakan tadi pagi, jadi kita masuk yuk!" ajak Angga.


Tanpa menunggu Nisa mempersilakannya masuk, Angga masuk ke dalam rumah dan langsung menuju ke dapur.


"Pak Angga ngapain?" tanya Nisa ketika pria yang masih mengenakan setelan kerja itu melepas jas dan menggulung lengan kemeja panjangnya hingga sebatas siku.


"Masak," jawab Angga. Dia membuka plastik yang ada di tangannya. Plastik itu berisi bahan-bahan makanan yang sengaja ia beli sebelum datang ke rumah Nisa.


"Tadi, pulang kerja kebetulan aku lewat super market dan aku ingat kalau kamu kan baru pindah, jadi pasti belum sempat membeli bahan keperluan dapur untuk sarapan besok pagi, makanya aku belikan semua bahan itu," jelas Angga.


Laki-laki berparas tampan dengan tinggi 180 cm tersebut mulai dengan lincah mempersiapkan bahan makanan yang akan dimasaknya.


"Pak Angga beneran bisa masak ya?"


"Bisa. Dulu aku pernah kursus memasak."


"Buat?"

__ADS_1


"Sebenarnya, cita-citaku dulu ingin memiliki restoran yang semua masakannya adalah hasil kreasiku sendiri," jawab Angga.


"Tapi, kenapa Pak Angga malah berkecimpung di dunia bisnis lain? Kenapa nggak melanjutkan cita-cita Pak Angga itu?"


Angga terdiam sebentar, beberapa detik kemudian dia pun menjawab, "Aku terpaksa terjun ke dunia bisnis ini untuk menggantikan peran almarhum Kakakku."


"Pak..... "


"Kamu duduk saja dulu, aku akan menyelesaiakan masakan ini dengan cepat!" potong Angga.


Nisa tidak tahu apa yang sebenarnya terjadi dengan hidup bosnya sebelum ini. Tapi, Nisa yakin itu pasti hal yang menyakitkan baginya. Apalagi demi menggantikan peran sang kakak, pria yang biasanya terlihat tegas itu rela meninggalkan mimpinya.


Nisa pun duduk di meja makan yang berada tidak jauh dari dapur. Dia hanya bisa diam sambil memperhatikan Angga yang sedang memasak.


Lima belas menit kemudian, masakan yang dibuat Angga akhirnya matang. Pria itu membawa makanan yang dibuatnya tersebut ke hadapan Nisa.


"Makanlah!" suruh Angga.


Nisa mengangguk, dia kemudian mulai menikmati makanan buatan Angga tersebut.


"Tidak. Kamu makan saja."


"Memang Pak Angga tidak lapar?" tanya Nisa.


"Tidak," jawab Angga. Namun, baru selesai dia menjawab itu. Perut Angga berbunyi.


Kruyuk!


"Sudahlah, Pak. Kita makan ini sama-sama ya. Lagian aku juga pasti nggak akan bisa ngabisin ini sendiri." Nisa mengambil satu piring dan membagi makanan yang dibuat Angga tadi menjadi dua.


"Selamat makan," ucap Nisa.


Angga tersenyum. Dia pun mulai memakan makanan yang ada di depannya.


"Nis," panggil Angga.

__ADS_1


"Apa?"


Angga menunjuk bibir Nisa yang sedikit belepotan karena makanan.


"Sudah bersih belum?" tanya Nisa setelah mengusap bibirnya sendiri.


Bukannya menjawab, Angga malah langsung membersihkan sudut bibir Nisa yang sedikit belepotan itu menggunakan ibu jarinya. Saat itulah mata keduanya kembali bertemu.


"E... maaf, Pak. Sepertinya ini sudah terlalu larut. Rasanya tidak baik kalau Pak Angga masih ada di sini," ujar Nisa.


Angga melihat jam tangannya. Jam itu menunjukkan pukul 23.45 WIB. "Kamu benar. Ya sudah, aku pulang sekarang ya. Lagian makananku juga sudah habis," jawab Angga. "E... Nis, apa suamimu sudah tahu kalau kamu tinggal di sini?"


"Belum, Pak. Aku sengaja memblokir nomornya. Aku sudah menyerahkan urusan gugatan ceraiku kepada pengacara. Dan aku memilih untuk bertemu dengan Mas Bima saat di pengadilan nanti," jawab Nisa.


"Apa kamu benar-benar sudah yakin dengan keputusanmu itu?"


"Sudah, Pak. Aku tidak mau dipoligami. Aku tidak bisa membagi suamiku dengan orang lain."


"Kamu masih mencintai suamimu? Maksudku seandainya suamimu tiba-tiba bilang kalau dia bersedia bercerai dengan istri keduanya dan ingin kembali bersamamu, apa kamu masih mau menerimanya lagi?"


"Istri keduanya juga sedang hamil, Pak. Dan aku rasa nggak mungkin kalau Mas Bima akan menceraikannya."


"Tapi, jika Bima benar-benar bersedia menceraikannya, apa kamu akan kembali kepadanya?" sekali lagi Angga bertanya.


"Entahlah, Pak. Aku tidak tahu," jawab Nisa.


Ada perasaan kecewa ketika Angga mendengar jawaban Nisa tersebut.


"Ya sudah, kalau begitu. Aku pulang sekarang. Setelah makananmu habis, tidurlah! Ingat kata dokter kamu harus banyak istirahat dan tidak boleh stres," pamit Angga.


"Iya, Pak. Terima kasih karena Bapak sudah mau masak untukku," jawab Nisa.


Angga tersenyum. Dia kemudian keluar dari rumah Nisa.


"Aku tidak tahu apa aku masih mencintai Mas Bima, karena sekarang yang membuat jantungku berdegup dengan kencang bukan dia, melainkan kamu Pak Angga," lirih Nisa. Dia berusaha menetralkan irama jantungnya yang sempat kembali tak beraturan saat Angga mengusap bibirnya.

__ADS_1


__ADS_2