
"Mas, kok sudah pulang?" tanya Nisa kepada suaminya.
"Ada berkas penting yang ketinggalan," jawab Bima sambil berjalan mendekat ke arah mereka.
Orang yang baru saja datang tersebut adalah Bima. Pria tersebut pulang tanpa membawa tas kerjanya.
"Kenapa nggak telepon orang rumah saja buat nganterin?" tanya Nisa.
"Ku kira kamu masih jalan-jalan di luar, jadi aku tidak mau mengganggumu. Sementara Ayu, diakan tidak tahu apa-apa soal berkas perusahaan, makanya aku memilih untuk pulang dan mengambil berkas itu sendiri," jawab Bima. "Ohya, sebenarnya ada apa tadi? Kenapa kamu sampai meneriaki Ayu?"
Saat itulah Tante Meta memberi kode kepada Ayu untuk berakting.
"Mas, Mbak Nisa marah sama saya karena saya memakan makanan yang dia pesan. Padahal aku tidak sengaja melakukannya," ucap Ayu sambil menangis tersedu-sedu.
"Benar itu, Nis?" tanya Bima.
"Iya, benar. Kenapa? Mau memarahiku karena aku sudah memarahi istri keduamu itu?" tantang Nisa.
"Bukan begitu, Nis. Tapi, jika kamu delivery kenapa tidak sekalian kamu pesenin buat Ayu dan Tantenya? Kan tinggal nambah jumlah apa susahnya sih," ujar Bima. "Lagian hanya karena makanan kenapa sampai kamu harus meneriaki Ayu seperti itu?"
"Mas, mereka berdua baru pulang dan aku pesan makanan itu sebelum mereka pulang. Harusnya kalau mereka memiliki tata krama, mereka gak akan makan makanan itu seenaknya sendiri, minimal minta izin kek, karena aku juga lapar, Mas." Nisa membela diri.
"Bik Asih, kenapa Bik Asih tidak masak? Kalau Bibik masak keributan ini nggak akan terjadi." Bima justru menyalahkan asisten rumah tangganya.
"Jangan menyalahkan Bik Asih. Seharusnya Mas tanya kenapa sampai Bik Asih nggak masak? Itu semua juga karena istri keduamu itu, Mas sudah menyerahkan semua kebutuhan rumah tangga kepadanya, kan? Harusnya dia inisiatif untuk melihat stok di dapur. Tapi, kenyataannya apa? Dia nggak bertanggung jawab akan itu," ujar Nisa.
"Mbak Nisa, Mbak Nisa jangan sembarangan ngomong ya! Mentang-mentang saya cuma istri kedua, Mbak seenaknya saja memfitnahku begitu. Semua yang dikatakan Mbak Nisa nggak bener, Mas. Dia sendiri yang bilang kalau dia yang akan bertanggung jawab untuk memenuhi kebutuhan dapur, dia melarang aku ikut campur. Tapi, sekarang, dia malah menyalahkan aku. Mbak lupa ya, kartu atm yang khusus untuk kebutuhan dapur masih dipegang sama Mbak Nisa lho. Gimana saya belanja?" sentak Ayu tak terima.
"Apa kamu bilang? Mas Bima sudah menyerahkan itu kepadamu seminggu yang lalu, kamu lupa?"
__ADS_1
"Aku yang seharusnya bilang begitu, Mbak lupa ya kalau kemarin Mbak sudah meminta balikkartu atm itu? Mbak bilang katanya Mbak yang akan berbelanja karena Mbak sudah terbiasa dengan itu. Tapi, tidak kusangka, kalau ternyata Mbak mau meanfaatkan itu untuk menjelekkan aku di hadapan Mas Bima. Aku nggak terima, Mbak! Aku nggak terima!" ucap Ayu marah.
Nisa tidak mengerti dengan maksud ucapan dari madunya tersebut. Sejak Bima menyerahkan semua kebutuhan rumah tangga kepada Ayu, Nisa tidak pernah lagi memegang atm yang dimaksud. Lalu kapan ia pernah meminta kartu atm itu kepada Ayu?
"Aku yakin Mas akan lebih mempercayai Mbak Nisa dibanding dengan ucapanku, kan? Tapi, aku tidak akan berbicara sembarangan kalau tidak ada bukti," lanjut Ayu.
"Apa maksudmu?" tanya Nisa bingung.
"Mbak ngaku saja kalau kartu atm itu masih ada di tangan Mbak Nisa hingga saat ini. Ngaku saja, Mbak!" teriak Ayu.
"Kau!" Nisa menunjuk Ayu. Dia tidak menyangka kalau Ayu akan menuduhnya.
"Mas percaya dengan semua yang Ayu katakan?" tanya Nisa sambil menatap suaminya.
Bima menatap balik istri pertamanya tersebut. Dia yakin Nisa tidak akan melakukan hal yang dituduhkan oleh Ayu. "Nis, aku percaya kamu tidak.... "
"Geledah saja kamarku!" sela Nisa.
"Mas, jadi Mas kira aku yang berbohong? Mas harus adil dong, kita harus membuktikan diantara perkataan aku dan Mbak Nisa siapa yang paling bener disini," desak Ayu.
"Yu, sudah lah. Kita lupakan itu!" ujar Bima, dia tidak mau melihat kedua istrinya ribut.
"Tidak bisa begitu dong, Mas! Perkataan Mbak Nisa tadi seolah menuduhku kalau aku ini istri yang tidak bertanggung jawab. Aku tidak terima tuduhan itu, Mas. Pokoknya aku ingin buktikan kalau ucapanku bener dan Mbak Nisa lah yang berbohong." Ayu kekeh dengan pendiriannya.
"Yu.... "
"Mas, lakukan saja keinginan istrimu itu. Silakan geledah kamarku, aku yakin kalian tidak akan menemukan apa pun di kamar karena kartu atm itu memang masih ada sama Ayu!" Nisa mempersilakan suami dan madunya tersebut untuk menggeledah kamarnya.
"Maafkan aku ya, Nis," ucap Bima. Sejujurnya dia tidak enak harus menggeldah kamar istri pertamanya tersebut. Karena bagaimana pun selama 3 tahun membina rumah tangga, tak pernah sekalipun Bima melihat istrinya itu berbohong.
__ADS_1
"Aku ikut. Aku juga tidak terima Ayu terus dijelekkan." Tante Meta ikut menyahut. Dia bahkan menatap sinis Nisa.
Bima, Ayu, dan Tante Meta menggeledah kamar Nisa, bahkan satu persatu lemari dan laci yang ada di kamar tersebut turut dibukanya. Akan tetapi benda itu tidak ditemukan.
"Puas sekarang?" tanya Nisa kepada Ayu.
"Aneh, padahal Mbak sudah memintanya kenapa tidak ada di sini ya?" gumam Ayu. Dia dan Tantenya saling lirik kemudian saling menganggukkan kepala.
"Sudah ya, Yu. Mungkin memang kamu yang lupa," tutur Bima. Dia ingin menyudahi perseteruan kedua istrinya.
"Ya sudah, mungkin aku yang lupa," jawab Ayu.
"Tidak bisa!" cegah Tante Meta.
"Ada apa lagi Tante?" tanya Bima. Padahal niatnya pulang hanya untuk mengambil berkas yang tertinggal, tetapi ia malah disambut dengan pertikaian kedua istrinya.
"Kita belum memeriksa tas Nisa. Siapa tahu dia menyimpan kartu atm itu di tas Nisa," jawab Tante Meta.
"Tante benar, Mas. Kita belum memeriksa tas milik Mbak Nisa yang dipakai tadi," imbuh Ayu.
Bima menatap Nisa, laki-laki itu merasa enggan untuk memeriksa tas dari istri pertamanya. "Yu, lupakan itu. Siapa pun yang memegang kartu atm itu semoga kedepannya dia lebih bertanggung jawab," tutur Bima.
"Tidak bisa dong, Mas! Kan Mbak Nisa yang awalnya menuduhku tidak bertanggung jawab hanya gara-gara aku memakan makanan yang dibelinya." Lagi-lagi Ayu masih kekeh dengan keinginannya.
Nisa mengambil tas slempang yang baru dipakainya tadi. Dia membuka resleting tas tersebut dan mengeluarkan semua benda yang ada di dalamnya, mulai dari telepon genggam, obat dari dokter, parfum dan dompet. Namun, Nisa dibuat tercengang ketika dia menemukan atm yang dimaksud ada diantara benda-benda tersebut.
Ayu segera mengambil atm itu dan memperlihatkannya pada Bima. "Lihat, Mas! Ini apa?"
Bima mengambil atm tersebut dari tangan Ayu. "Nis, bisa kamu jelaskan ini!" suruh Bima. Dia menatap Nisa dengan tatapan marah dan kecewa.
__ADS_1
"Mas, aku tidak tidak tahu kenapa atm itu bisa ada di dalam tasku."
"Terus kamu ingin bilang kalau Ayu atau Tantenya yang sengaja menaruh atm tersebut di dalam tasmu, begitu?" tanya Bima. "Aku kecewa sama kamu, Nis. Sangat kecewa." Bima mengatakan hal itu sambil melempar kartu atm ke tubuh Nisa. Ia kemudian keluar dari kamar Nisa.