
5 tahun kemudian....
"Ma, kapan Oma dan Papa akan datang?" tanya anak laki-laki dengan tidak sabaran.
Sejak diberitahu bahwa oma dan papanya akan datang, Daffa-anak laki-laki yang berusia 4,6 tahun merasa tidak sabar ingin bertemu. Ini adalah pertemuan pertama mereka secara langsung setelah beberapa kali mereka melakukan panggilan video call.
"Sebentar lagi sayang, mungkin mereka sedang di jalan. Daffa yang sabar ya." Wanita dengan setelan baju berwarna toska dan kerudung berwarna senada itu menjawab.
Nisa bisa mengerti kenapa Daffa begitu tidak sabar ingin bertemu papanya. Sejak tahu bahwa ternyata ia masih memiliki seorang papa, anak balita itu tidak sabar ingin bertemu dengan papanya secara langsung.
Awalnya Nisa ingin terus bersembunyi dari mantan suami dan mertuanya itu. Namun, pertemuannya dengan Vena secara kebetulan seberapa yang lalu membuat dirinya akhirnya mengalah dan mulai mengenalkan sosok papa kepada Daffa, meski itu hanya melalui sambungan telepon.
Nisa sadar, hubungannya dengan Bima memang tidak bisa lagi diperbaiki. Tapi, bukan berarti hak Daffa untuk mendapatkan kasih sayang dari papa kandungnya itu harus ia halangi.
"Ma, nanti kita makan di restoran yang baru buka di depan jalan sana ya?" tanya Daffa seraya meminta.
"Memang di depan sana ada restoran baru?" tanya Nisa.
"Ada Nyonya. Den Daffa malah sudah kenal sama pemilik restorannya," jawab Rini. "Iya, kan, Den?"
Rini adalah babysuster yang sengaja Nisa pekerjakan untuk membantu mengurus Daffa ketika ia sedang bekerja.
Daffa mengangguk.
"Ohya? Kok bisa?" tanya Nisa lagi.
"Jadi ceritanya gini Nyonya.... " Rini mulai menceritakan awal mula Daffa bisa berkenalan dengan pemilik restoran itu.
Hari itu di sekolah Daffa ada acara anak dan ayah. Tak membuat ibunya bersedih, Daffa memilih tidak menceritakan kegiatan di sekolahnya itu kepada ibunya. Daffa tetap datang ke sekolah meski hanya ditemani sang babysuster. Namun sebelum datang ke sekolah anak laki-laki berusia 4,6 tahun itu meminta untuk bermain di taman kota sebentar. Ia beralasan jika nanti melihat teman-temannya datang bersama ayah mereka, dia tidak akan terlalu bersedih.
Dan saat sedang bermain itulah tanpa sengaja ia menabrak seorang laki-laki dewasa yang akhirnya menjadi teman baik Daffa. Laki-laki itu bahkan mau datang ke sekolah Daffa dan berpura-pura sebagai ayahnya.
"Sayang, kenapa nggak cerita sama Mama kalau ada acara itu di sekolah?" protes Nisa sambil menatap putranya.
"Daffa tidak mau lihat Mama sedih kalau Daffa bahas-bahas soal Papa," jawab Daffa sambil memonyongkan bibirnya.
Nisa menarik putra kesayangannya itu kedalam dekapan. Seharusnya dia tidak mengeblok nomor Bima dan mamanya sejak dulu. Karena sekecewa apa pun dia kepada mantan suaminya seharusnya dia tetap memberikan akses kepada Bima untuk menemui putranya.
"Maafin Mama ya sayang, karena Mama, kamu jadi baru bisa bertemu dengan Papamu sekarang," ucap Nisa.
"Tidak apa-apa, Ma. Lagian Daffa akhirnya bisa melalui hari itu sama seperti anak yang lain berkat Om pemilik restoran itu," jawab Daffa. "Ma, nanti ajak Papa dan Oma makan di restoran itu ya. Daffa sudah janji sama Om itu mau datang bawa Mama ke restoran pas pembukaan!"
__ADS_1
"Iya, Sayang. Nanti kita kesana bareng papa dan oma kamu." Nisa mengusap lembut pipi putranya.
Tin!
Suara klakson mobil dari luar membuat Daffa menoleh ke arah mamanya. "Ma, apa itu Oma dan Papa?" tanya Daffa.
"Sepertinya," jawab Nisa. "Ayo kita keluar untuk menyambut mereka!"
Nisa menggandeng tangan putranya dan berjalan keluar rumah.
Seorang laki-laki dan wanita paruh baya keluar dari dalam mobil. Ibu dan anak itu melangkah mendekati Nisa dan Daffa.
"Nis, apa kabar?" sapa Bima. Laki-laki tampak lebih kurus dari terakhir kali yang Nisa lihat.
"Alhamdulillah baik, Mas. Mas sendiri apa kabar?" jawab Nisa seraya menanyakan balik kabar dari mantan suaminya itu.
"Kabarku buruk sejak kita berpisah. Tapi, sekarang aku senang karena akhirnya aku bisa bertemu denganmu dan putra kita secara langsung. Aku sudah lama mengharapkan ini," ujar Bima, dia kemudian berjongkok di depan anak balita yang berdiri di samping Nisa.
Mata Bima berkaca-kaca melihat putranya tersebut. "Apa dia anak kita, Nis?" tanyanya tanpa mengalihkan pandangannya tersebut.
"Iya, Mas. Namanya Daffa." Nisa mengenalkan anak laki-lakinya itu.
"Apa Om, papanya Daffa?" tanya Daffa dengan ekspresi polosnya.
"Papa merindukanmu, Sayang. Sangat merindukanmu."
"Daffa juga," jawab Daffa.
"Ma, Mas Bima. Silakan masuk!" ajak Nisa. Dia mempersilakan mantan suami dan mertuanya untuk masuk ke dalam ke rumah.
Mereka berempat pun masuk ke dalam rumah.
"Nis, ini." Bima menyerahkan amplop coklat kepada mantan istrinya tersebut.
"Apa ini, Mas?" tanya Nisa bingung.
"Itu uang nafkah untuk Daffa. Aku menyisakan pendapatanku tiap bulannya untuknya. Mungkin tidak banyak, tapi itu yang bisa aku berikan kepadaku putraku," jelas Bima.
"Mas, aku tidak.... "
"Seorang ayah memiliki kewajiban memberikan nafkah kepada anaknya sampai anaknya berusia baligh dan bisa mendapatkan uang sendiri. Jadi, tolong terima lah. Jangan biarkan aku menambah dosa-dosaku yang sudah menggunung ini!" pinta Bima dengan sungguh-sungguh.
__ADS_1
"Terima lah, Nis. Itu hak Daffa!" suruh Vena.
Nisa menghela napasnya. Ia kemudian menatap Bima dan mantan mertuanya itu sebentar.
"Baiklah, aku terima ini. Aku akan tabung uang ini atas nama Daffa," jawab Nisa sambil menerima amplop coklat pemberian Bima tersebut.
Nisa tidak menghitung berapa besar uang yang Bima berikan untuk putranya, karena dia sebenarnya tidak membutuhkan uang itu. Ia masih bisa memberikan penghidupan yang layak bagi putranya dengan uangnya sendiri.
"Terima kasih, ya, Nis," ucap Bima dan hanya dijawab dengan anggukan oleh Nisa.
Nisa masuk membiarkan anaknya untuk bermain dengan Bima dan mantan mertuanya. Namun, di tengah kebersamaan mereka tiba-tiba Daffa mengajak Mama, Papa, dan Omanya untuk datang ke pembukaan restoran. Dia sudah berjanji kepada pemilik restoran itu akan datang di acara pembukaan tersebut.
"Memangnya siapa dia sih, Nis, sepertinya Daffa menyukai orang itu?" tanya Bima. Ada perasaan tidak suka ketika putra yang baru saja ia temui itu terlihat menyukai sosok lain selain dirinya.
"Aku juga belum kenal dia, Mas. Tapi dari cerita yang juga baru saja aku dengar sepertinya Daffa menyukainya," jawab Nisa.
"Ayo, Ma, Pa, cepetan. Acara potong pitanya sebentar lagi mau dimulai!" rengek Daffa.
"Iya, Sayang. Ini juga kita udah jalan kan," jawab Nisa karena memang saat ini mereka semua sudah berada di dalam satu mobil.
Mobil itu pun kemudian berhenti tepat di depan restoran yang dimaksud.
"Tuh kan acaranya mau dimulai," ujar Daffa.
"Sayang hati-hati." Nisa memperingatkan putranya yang langsung melompat turun dari dalam mobil.
Daffa langsung berlari menghampiri laki-laki yang sudah bersiap untuk memotong pita.
"Om," panggil Daffa.
"Hai Boy, kenapa telat?" tanya laki-laki tersebut.
"Maaf, Om. Tadi Daffa main dulu sama Papa dan Oma," jawab Daffa dengan polos.
"Papa? Bukannya waktu itu kamu bilang papa kamu.... "
"Hari ini Papa dan Oma datang Om," jawab Daffa. "Dan... selain mengajak Mama ke sini, Daffa juga ngajak Papa dan Oma," lanjutnya.
Laki-laki itu mengernyit.
"Itu mereka!" tunjuk Daffa.
__ADS_1
Orang yang dipanggil Om oleh Daffa itu melihat ke arah yang ditunjuk olehnya. Dia terkejut ketika melihat orang-orang yang ditunjuk oleh Daffa. Pun demikian dengan Nisa dan Bima. Mata keduanya juga membeliak ketika melihat wajah orang yang dipanggil Om oleh anak mereka.