
Cukup lama Angga dan Cevan berbicara hingga pada akhirnya disepakati Angga akan kembali ke perusahaan seminggu lagi. Bukan tanpa sebab Angga meminta hal itu, dia ingin agar ada kejelasan untuk hubungannya dengan Nisa ke depan.
"Jadi, akhirnya lo ketemu dengan dia lagi?" tanya Cevan di akhir pembicaraannya.
"Iya, baru tadi pagi," jawab Angga.
"Kenapa bisa kebetulan begini ya?" Cevan menatap Angga dan dijawab oleh Angga dengan mengedikan bahu.
"Mungkin takdir," seloroh Angga.
"Bukannya waktu itu lo bilang kalau si Nisa balik lagi dengan mantan suaminya?"
"Tadinya gue kira juga begitu, tapi ternyata tidak," jawab Angga. "Dan percaya atau tidak, Bima pun baru bertemu dengan Nisa dan anaknya secara langsung pagi ini."
"Lo, Nisa, dan mantan suaminya, sepertinya kalian berputar di tempat yang sama. Entah siapa yang pada akhirnya akan memenangkan hati wanita itu," ujar Cevan. "Tapi, Ngga, beneran lo masih mau berusaha sekali lagi untuk mendapatkan hati Nisa? Maksudku, biasanya seorang anak akan lebih menyukai ayah kandungnya. Lo tahu kan kalau diantara Nisa dan mantan suaminya ada anak?"
"Jelas tahu lah, Cev. Kan gue ketemu Nisa aja pas dia lagi hamil dan gue juga sudah berteman dengan anaknya Nisa jauh sebelum gue tahu kalau dia adalah anak kandung Nisa," jawab Angga lagi. "Dan gue yakin bisa mendapatkan cinta mereka berdua."
__ADS_1
"Terserah lo deh. Gue nggak akan ikut campur dengan persoalan pribadi lo lagi. Gue rasa lo udah kelewat dewasa buat dengerin masukan dari orang sekitar. Jadi kali ini gue hanya berdoa semoga apa pun keputusan yang lo ambil saat ini adalah hal yang terbaik buat hidup lo." Cevan kembali menatap Angga.
"Makasih ya, Cev, karena akhirnya lo mau ngerti dan dukung keputusan gue," ucap Angga.
Cevan mengangguk. Dia tahu kalau dulu dirinya terlalu ikut campur dalam urusan pribadi dari sahabatnya tersebut. Hingga hal apa pun yang Angga lakukan, jika dirasa akan merugikan Angga dan keluarga besarnya dia selalu terang-terangan menentang.
"Mau makan di luar?" tanya Angga kepada Cevan.
"Gue kira selama disini gue bisa makan makanan buatan lo, ternyata... Hah." Cevan menghela napas panjangnya.
"Gue males kalau harus masak buat lo. Udah, kita keluar yuk cari makan! Kebetulan gue juga udah laper!" ajak Angga.
***
Malam itu Nisa tidak bisa memejamkan matanya. Bayangan kejadian di kamar putranya tadi masih tampak di pelupuk matanya. Nisa merasa ada yang salah dengan dirinya.
"Kenapa tadi aku sampai memejamkan mataku sih?" Nisa merutuki kebodohannya. Untung saja ada suara petir yang menyadarkannya, jika tidak entah apa yang sudah terjadi. Nisa juga menyentuh jantungnya yang sempat berdegup kencang saat ia ditatap oleh Angga.
__ADS_1
"Tidak, aku tidak boleh begini. Angga sudah punya tunangan dan mungkin dia sudah punya istri. Jadi, tidak seharusnya aku begini." Berkali-kali Nisa berusaha meyakinkan diri bahwa semuanya salah. "Mulai sekarang, aku harus menjauhinya. Aku tidak mau menjadi perebut laki orang apalagi sampai menghancurkan rumah tangga mereka," lanjutnya dalam hati.
Saat itulah ada telepon masuk di ponselnya dan itu dari Bima. Nisa menghela napasnya, kalau bukan demi Daffa dia tidak mau lagi berusan dengan mantan suaminya itu terlebih setelah mendengar saran dari mantan mertuanya yang mengharapkan ia kembali dengan laki-laki yang kini menjadi mantan suaminya itu.
"Iya, Mas. Assalammualaikum," jawab Nisa membuka pembicaraan setelah menekan tombol hijau di layar ponselnya.
"Waalaikumsalam, Nis."
"Daffa sudah tidur, Mas. Kalau kamu mau bicara sama dia besok saja ya," ujar Nisa.
"Aku sudah tahu kok kalau dia sudah tidur," jawab Bima.
"Terus?"
"Aku mau bicara sama kamu. Boleh kan?" jawab Bima seraya bertanya.
Nisa tidak menjawab. Dia tahu maksud dari perkataan mantan suaminya tersebut.
__ADS_1
"Nis?"
"Maaf, Mas. Sepertinya Daffa bangun dan minta aku temenin. Aku tutup teleponnya dulu ya, Assalammualaikum." Tanpa menunggu jawaban dari Bima, Nisa langsung mamatikan sambungan teleponnya.