Dimadu Karena Wasiat

Dimadu Karena Wasiat
DKW 101 - TAMAT


__ADS_3

Nisa dan Angga begitu lega ketika kedua orang tua tersebut akhirnya mau membalas uluran tangan dari Daffa. Keduanya bahkan tersenyum kala melihat papa Angga itu menggendong Daffa.


"Anak kalian lucu. Pasti akan sangat menyenangkan kalau kalian bisa secepatnya menikah dan memberikan adik untuknya." Perkataan mama Angga barusan membuat wajah Nisa bersemu merah.


"Mamamu benar, Ngga. Rencananya kapan kalian akan menikah?" Kini giliran papanya Angga yang bertanya.


"Ma, Pa, kita ini baru resmi jadian hari ini. Masa sudah ngomongin soal pernikahan sih."


"Ngga, ini bukan soal baru jadian atau atau sudah jadian lama. Bukankah kalian sudah saling cinta? Umur kalian juga udah nggak muda lagi dan usia Daffa juga sudah cukup untuk memiliki seorang adik. Jadi menurut papa tidak ada salahnya kalau kamu dan Nisa menikah secepatnya." Papanya Angga memberikan pandangannya.


"Daffa, Daffa pasti pingin kan punya adik?" Mamamya Angga sengaja memprovokasi cucu tirinya agar ikut memaksa anaknya cepat menikah.


"Daffa pingin punya adik perempuan yang cantik," jawab Daffa.


"Daffa setuju kan kalau mama Daffa dan Papa Angga nikah secepatnya?" kembali Mamanya Angga bertanya.


"Kalau mama dan papa Angga menikah apa Daffa akan segera punya adik perempuan yang cantik, Nek?" tanya Daffa.


"Tentu. Jangan kan satu adik, beberapa adik cantik pun bisa mama dan papa Angga kasih buat Daffa, makanya Daffa buruan gih suruh mama dan papa Angga nikah," jawab Mamanya Angga yang terus mengompori bocah lima tahun tersebut.


"Mama, Papa Angga, ayo kalian cepat nikah. Terus kasih Daffa adik perempuan yang cantik segini." Bocah lima tahun yang menyukai kue ulang tahun itu menunjuk kesepuluh jarinya.

__ADS_1


"Bagaimana, Nis. Apa kamu bersedia menikah denganku secepatnya?" tanya Angga.


"Mana ada orang ngajak nikah tanpa ngasih cincin sih," gumam Nisa.


"Kamu salah. Aku sudah menyiapkan cincin istimewa buat kamu," jawab Angga di telinga Nisa.


Lelaki yang memiliki usia lebih dari 30 tahun tersebut mengambil sebuah kotak perhiasan berwarna biru dari dalam saku jasnya. Ia kemudian berlutut sambil membuka kotak tersebut. "Emilia Sarah Ziannisa bersediakah engkau menjadi istriku? Menjadi ibu dari anak-anakku kelak dan bersedia mendampingiku dalam keadaan apa pun, baik suka atau pun duka?"


"Terima! Terima! Terima!" ujar Daffa dan kedua orang tua Angga.


"Aku mau," jawab Nisa dengan malu-malu.


Angga kemudian menyematkan cincin di tangannya di jari manis Nisa. Ia kemudian menghambur dan memeluk calon istrinya tersebut.


"Maaf, maaf, rasanya aku sudah tidak sabar untuk menjadi suamimu dan papa untuk Daffa." Angga mengambil calon anaknya dari gendongan Sang Papa.


Hari itu menjadi hari bahagia untuk tidak hanya untuk Nisa dan Angga, tetapi juga kedua orang tua Angga. Setelah sekian lama hubungan mereka dengan Angga renggang, kini mereka bisa kembali dekat dengan putra keduanya. Keduanya berjanji akan menjadi orangtua yang tidak lagi egois.


Dan soal perjodohan dengan Thania, sebelum datang menemui Nisa, keduanya sudah menemui kedua orangtua Thania untuk meminta maaf karena tidak bisa melanjutkan rencana perjodohan anak-anak mereka. Keduanya pun bersedia menanggung konsekuensi atas semua keputusan yang sudah mereka ambil dan beruntungnya, kedua orang tua Thania tidak mempermasalahkan hal tersebut. Mereka tetap bersedia menjalin kerja sama meski pernikahan anak-anak mereka batal.


***

__ADS_1


Beberapa minggu kemudian....


Akhirnya acara pernikahan Nisa dan Angga segera digelar. Meski ini bukan pernikahannya yang pertama, tetap saja Nisa merasa gugup. Dia bahkan sampai bolak-balik ke kamar mandi.


"Nyonya jangan gugup, rileks saja," ujar Rini.


"Aku sudah berusaha, tapi rasanya tidak bisa," jawab Nisa.


"Nis, santai saja. Mama yakin pernikahanmu ini akan berjalan dengan lancar." Vena berusaha menenangkan. Meski awalnya dia sedikit kecewa karena Nisa tidak mau rujuk dengan putranya. Tetapi akhirnya dia bisa menerima keputusan mantan menantunya tersebut saat melihat ketulusan di mata Angga terhadap cucunya. Ia yakin, Angga akan menjadi ayah sambung yang baik bagi cucu semata wayangnya tersebut.


Pun demikian dengan Bima. Dia akhirnya menyerah terhadap Nisa. Meski sedih, namun dia tetap mendoakan kebahagiaan bagi mantan istrinya itu.


...~ TAMAT ~...


Terima kasih buat pembaca yang sudah mengikuti cerita ini dari awal hingga end. Maaf, jika akhir dari cerita ini tidak sesuai dengan ekspektasi kalian. Sekali lagi terima kasih untuk kalian semua, lope you pull.


Ohya, jangan lupa baca karya on goingku yang lain ya:


1) Rahim Kontrak


2) Desain Cinta Kyra

__ADS_1


3) Juan dan Mentari.


Ditunggu kunjungannya. Terima kasih.


__ADS_2