
"Ha-halo Nyonya Vena, ada apa ya menelpon?" tanya Tante Meta. Dia berusaha keras agar suaranya tidak terdengar gugup.
"Saya cuma mau tanya kalian sudah sampai rumah belum?" jawab Vena sembari bertanya.
"Sudah dari tadi, Nyonya."
"Tapi, kok Nisa nggak ngabarin saya ya? Hp nya juga nggak bisa dihubungi?"
"E... kalau soal itu saya tidak tahu, Nyonya Vena. Soalnya tadi begitu tiba di rumah, Nisa langsung masuk ke kamarnya. Katanya dia capek dan ingin istirahat," dusta Tante Meta.
"Ya sudah kalau begitu, titip Nisa ya. Besok saya akan ke rumah sekalian bawain sarapan untuk dia."
"Iya, Nyonya Vena. Jangan khawatir! Saya pasti akan menjaga Nisa dengan baik, saya kan juga sudah menganggap Nisa seperti keponakan saya sendiri," jawab Tante Meta.
"Sekali lagi terima kasih ya Tante Meta sudah mau jagain Nisa," ucap Vena.
"Sama-sama."
Namun, pada saat Vena akan menutup panggilannya, tiba-tiba dia mendengar bunyi klakson mobil.
"Tunggu!" cegah Vena. Buru-buru Tante Meta menutup hpnya dengan tangan.
__ADS_1
"Ada apa Nyonya, Vena?" tanya Tante Meta gusar, dia takut kebohongannya akan bisa ditebak oleh ibu dari suami Ayu tersebut.
"Kamu dimana? Kok barusan aku seperti mendengar bunyi klakson mobil?" tanya Vena penasaran.
"Mampus aku!" batin Tante Meta. Dia harus bisa mencari alasan yang sesuai agar tidak membuat Vena semakin curiga.
"E... Ini apa namanya, kebetulan saya sedang mencari sesuatu di minimarket yang ada di depan komplek, makanya Nyonya Vena mendengar bunyi klakson mobil barusan." Lagi-lagi Tante Meta berbohong.
"Ouh begitu ya. Jangan lama-lama ya di luarnya, takutnya Nisa membutuhkan bantuan."
"Iya, Nyonya Vena. Ini saya juga lagi di depan kasir mau bayar, setelah itu saya langsung pulang kok," jawab Tante Meta. "Sudah dulu ya, Nyonya Vena, ini kasirnya sudah nungguin."
"Baiklah. Terima kasih ya karena sudah mau jagain Nisa." Setelah mengatakan itu, Vena mengakhiri panggilannya.
"Kalau si Nisa tidak ada di sini, terus kemana dia? Jangan-jangan dia kembali ke hotel lagi. Bisa gawat kalau dia ngadu sama Bima bahwa aku nurunin dia di jalan," gumam Tante Meta.
"Tunggu! Kalau dia kembali ke hotel pasti Bima atau Ayu bakalan menelponku, kan? Tapi sampai sekarang baik Ayu atau pun Bima tidak ada yang menghubungiku, artinya si Nisa nggak kembali ke hotel. Kalau dia nggak ada di rumah dan nggak juga di hotel, terus kemana dong tuh cewek rese pergi." Kembali Tante Meta bermonolog. "Bodo amat deh, malam ini aku mau tidur dulu. Urusan Nisa bisa aku cari solusinya besok."
Tante Meta pun kembali naik ke dalam taksi yang ia tumpangi sebelumnya. Dia pun mengarahkan taksi itu untuk kembali ke rumah.
***
__ADS_1
Keesokan paginya....
Sudah sejak semalam Nisa sengaja menonaktifkan telepon genggam miliknya. Selain karena memang sedang tidak ingin diganggu, dia juga ingin tahu apa sang suami mengkhawatirkan keadaannya.
Nisa menekan tombol power yang ada di samping kanan telepon genggamnya dan mengaktifkan kembali telepon genggam tersebut. Pada saat telepon genggam tersebut kembali aktif ada beberapa panggilan tak terjawab dan beberapa pesan masuk yang didominasi oleh mertuanya. Sementara Bima hanya dua kali pria itu mencoba menghubunginya, setelah itu tidak ada pesan atau panggilan lagi darinya.
"Apa sebegitu tidak pedulinya kamu terhadapku, Mas, sampai-sampai hanya dua kali kamu mencoba menghubungiku, setelah itu tidak ada lagi? Bahkan pagi ini pun kamu tidak mencoba menanyakan kondisiku," batin Nisa sambil menatap layar hp di tangannya.
Hatinya semakin sakit mana kala ia melihat story whatsapp Ayu yang memperlihatkan Bima sedang tertidur pulas di samping wanita itu dengan bertelanjang dada.
"Sepertinya Ayu benar-benar sudah menggantikan posisiku di hatimu ya, Mas? Mungkin ini saatnya aku sudah benar-benar harus menyerah," batinnya lagi.
"Sayang, maafin Mama ya. Kali ini Mama sudah menyerah dengan papamu. Maafin, Mama ya Sayang." Nisa mengatakan itu sambil mengusap perutnya. Air mata kembali jatuh di kedua pipinya.
Nisa kemudian menelpon nomor pengacara kenalannya, kali ini ia sudah benar-benar yakin akan menggugat cerai suaminya tersebut. Apalagi dia sudah bisa mendapatkan kepastian tentang nasib ketiga sahabatnya.
"Assalammualaikum Pak Syarif, saya mau minta tolong kepada Anda untuk membantu saya menggugat cerai suami saya!" pinta Nisa dengan lugas kepada pengacara kenalannya.
ššš
Hayo kira-kira Mbak Nisa beneran bakalan cerai gak ya sama Bima?
__ADS_1
Maafin author ya karena belum bisa crazy up š. Terima kasih bagi yang sudah like dan komen. Apalagi lagi yang udah ngasih gift karena sekecil apa pun bentuk dukungan kalian, itu adalah moodbooster buat saya untuk tetap melanjutkan cerita ini. Lope you pull semua.