
"Ma, Mama," panggil Daffa dengan suara lirih.
"Daffa?!" sontak saja Nisa terkejut karena ternyata putranya tidak tidur dan hanya pura-pura tidur.
"Papa sudah pergi kan?" tanya bocah balita itu lagi.
"Iya, papa baru saja pergi," jawab Nisa. "Kenapa kamu harus pura-pura tidur sih, Nak? Hm?"
Daffa turun dari gendongan mamanya. "Ma, tadi saat sedang main sama papa, Daffa ingat kalau Daffa mau diajarin bikin kue ulang tahun yang enak."
"Terus?"
"Daffa mau ke tempat Om Angga dan minta diajarin bikin kue sekarang. Karena Daffa nggak mau bikin papa sedih, makanya Daffa pura-pura ngantuk. Maafin Daffa ya, Ma," jawab Daffa dengan ekspresi memelas.
Nisa hanya menghela napasnya. "Sayang, restorannya Om Angga kan baru saja buka, pasti Om Angga sedang sibuk melayani pelanggannya. Lain kali saja ya kita ke tempat Om Angganya?" tawar Nisa. Dia merasa tidak enak jika harus mengganggu pekerjaan mantan bosnya tersebut.
"Ya... Mama, Om Angga nggak akan marah kok sama Daffa. Lagian Om Angga kan udah janji sama Daffa sebelumnya. Ya, Ma, ya, antar Daffa ke tempatnya Om Angga!" Seperti yang sudah Nisa katakan kepada Bima tadi, putranya akan merengek saat dia menginginkan sesuatu.
Dan akhirnya dengan terpaksa, Nisa mengiyakan. "Baiklah, kita ke tempat Om Angga sekarang," jawab Nisa.
"Yey akhirnya Mama mau ngaterin Daffa ke tempatnya Om Angga," celetuk Daffa senang.
"Mbak Rini kita ke tempat Pak Angga sekarang yuk! Kamu siapkan susu Daffa, takutnya dia minta susu pas ada di sana!" seru Nisa kepada babysitter putranya tersebut.
"Mbak Rini nggak boleh ikut!" seru Daffa.
"Lho kenapa Mbak Rini nggak boleh ikut, Sayang?" Nisa mempertanyakan seruan putranya tersebut.
"Mbak Rini suka ganit sama Om Angga, suka cari-cari perhatian Om Angga," jawab Daffa frontal.
"Nggak, Nyonya. Saya nggak seperti itu kok," elak Rini. Dia malu karena dikatain genit oleh anak majikannya tersebut.
"Daffa, memang kenapa kalau Mbak Rini genit? Selama Om Angga nya nggak masalah kenapa Daffa yang keberatan?"
"Justru itu Ma, Om Angga kelihatan risih kalau Mbak Rini genit-genit gitu," jawab Daffa sambil melirik Rini dengan tatapan tidak suka.
"Memang Daffa tahu artinya genit?" tanya Nisa lagi. Dia berpikir mungkin saja genit yang dimaksud putranya tidak sama dengan genit yang dimaksud orang dewasa pada umumnya.
"Mbak Rini suka lirik-lirik Om Angga. Mbak Rini juga suka pura-pura jatuh kalau Daffa lagi main sama Om Angga," jelas Daffa.
Nisa hanya tersenyum mendengar penjelasan putranya.
__ADS_1
"Pokoknya Mbak Rini nggak boleh ikut." Kembali Daffa bersuara.
"Terus kenapa pas kita kesna tadi, Mbak Rini boleh ikut?"
"Soalnya tadi kan ada Oma, ada Papa, pasti Mbak Rini malu kalau mau genit-genit sama Om Angga."
Nisa melirik ke arah Rini sebentar. "Rin, maaf ya. Daffa nggak ngebolehin kamu ikut," ucap Nisa. Dia merasa tidak enak dengan babbysitter putranya itu.
"Nggak apa-apa, Nyonya. Saya bisa bantu pekerjaan si Bibik di rumah," jawab Rini.
Rini memang mengagumi Angga, namun kekagumannya hanya sebatas seperti ia kagum pada artis atau penyanyi tampan di tv. Namun ternyata hal itu disalah artikan oleh anak dari majikannya tersebut.
"Ya sudah kalau begitu kamu siapin susunya Daffa saja ya. Aku tunggu!"
"Baik, Nyonya." Rini segera pergi ke dapur untuk menyiapkan susu.
"Ma, kenapa Mbak Rini lama sih?" protes Daffa, dia sudah tidak sabar ingin belajar membuat kue ulang tahun dengan Angga.
Tidak lama kemudian, Rini datang dengan membawa kotak susu dan gelas plastik yang biasa dipakai Daffa untuk minum susu. Dia menyerahkan semua barang itu kepada Nisa.
"Terima kasih ya, Rin," ucap Nisa.
"Ayo, Ma, buruan! Nanti kalau restorannya tutup gimana?" ajak Daffa lagi. Dia kembali menarik tangan mamanya agar segera jalan.
"Iya, Sayang, iya."
Nisa dan Daffa berjalan kaki menuju ke restoran milik Angga tadi. Kebetulan restoran sudah mulai tutup. Para pegawai restoran itu sedang bersih-bersih sekaligus merapikan kembali meja dan tempat duduk yang agak berantakan.
Tanpa rasa canggung, Daffa masuk ke restoran tersebut seolah restoran itu miliknya dan pegawai disana juga tidak melarangnya karena sebelum restoran itu resmi dibuka, Daffa sudah sering keluar masuk restoran bersama dengan bos mereka.
"Om Angga," panggil Daffa ketika melihat Angga baru saja keluar dari ruang kerjanya.
"Hai Boy, ada apa datang lagi ke sini? Apa ada yang ketinggalan?" Angga menghampiri Daffa dan berjongkok di depan balita tersebut.
"Om Angga kan udah janji mau ngajarin Daffa bikin kue ulang tahun, makanya Daffa ke sini lagi," jawab Daffa.
"Maaf ya, Pak. Daffa bersikeras ingin kesini lagi, aku sudah berusaha menahan dia, tapi dia tetap memaksa," ucap Nisa. Dia merasa tidak enak karena sudah mengganggu mantan bosnya tersebut.
"Tidak apa-apa kok, Nis. Lagian aku memang sudah janji sama dia buat ngajarin bikin kue ulang tahun," balas Angga.
"Kalau begitu ayo Boy, ikut Om ke dapur!" ajak Angga dia menggandenga tangan Daffa dan mengajaknya menuju dapur.
__ADS_1
"Sebentar, Om." Daffa menginterupsi.
Bocah yang usianya belum genap lima tahun itu kembali menarik tangan Nisa dan mengajaknya ikut ke dapur. Tangan kanan Daffa menggandeng tangan mamanya dan tangan kirinya menggandeng Angga. Kini ketiganya berjalan ke dapur bersama-sama dengan Daffa berada di tengah-tengah antara Nisa dan Angga.
"Sekarang Om ambil bahan-bahannya dulu ya, Daffa dan mama tunggu di sini!" suruh Angga, dia melepaskan pegangan tangan Daffa untuk mengambil bahan-bahan yang digunakan untuk membuat kue yang ada di dalam kulkas.
Angga menyiapkan semua bahan untuk membuat kue tersebut di atas meja.
"Daffa mau buka itu, Daffa mau buka itu," oceh Daffa ketika Angga hendak membuka kantung tepung terigu.
Angga pun memberikan kantung berisi tepung terigu itu kepada Daffa. Dia juga memberikan gunting di tangannya kepada pria kecil yang tidak bisa diam itu.
"Daffa tahu gimana cara bukanya?" tanya Angga dengan lembut. Daffa menggeleng.
"Sini Om ajarin!" Angga menununtun tangan kecil Daffa untuk menggunting kantung tepung terigu itu pelan-pelan.
"Daffa bisa sendiri, Om," ujar Daffa begitu kantung itu berhasil digunting sedikit.
"Benaran kamu bisa?" tanya Angga memastikan.
"Daffa, nanti kalau tepungnya jatuh berantakan gimana? Biar Om Angga aja yang buka." Nisa yang berada di sebelah kanan putranya tersebut.
"Daffa mau buka sendiri," kekeh Daffa.
"Biarin saja, Nis. Anak-anak suka bereksplorasi," balas Angga.
"Tapi, Pak.... "
Benar saja, belum selesai Nisa berbicara tepung itu malah muncrat tidak hanya ke wajah Daffa, namun juga wajah dan kerudung yang Nisa gunakan.
"I'am sorry," ucap Daffa sambil menunjukan deretan gigi putihnya.
"It's Ok. No problem," jawab Angga.
Saat sedang mengibaskan tepung itu dari kerudung, tanpa sengaja tepung itu malah masuk ke mata Nisa. Nisa mencoba mengucek matanya tersebut dengan tangan, namun dicegah oleh Angga.
"Aku bantu tiup," ucap Angga.
Dia mendekatkan bibir ke mata Nisa dan mulai meniupnya.
"Sudah baikan?" tanya Angga sambil menatap bola mata Nisa. Nisa menjawabnya dengan anggukan. Bukannya menjauh, keduanya malah saling menatap dalam.
__ADS_1