
"Pak Angga."
"Nisa."
Panggil Nisa dan orang itu bersamaan.
"Om dan Mama saling kenal?" tanya Daffa sambil menoleh ke arah mamanya dan Angga bergantian.
"Iya, Sayang. Mama kenal sama dia," jawab Nisa. Dia tersenyum sambil menatap mantan bosnya tersebut.
Hal yang sama pun dilakukan oleh Angga, pria berhidung bangir itu mengangguk sambil membalas senyuman dari Nisa.
"Ayo Boy katanya mau ikut Om buat potong pitanya!" ajak Angga.
Dengan sangat antusias Daffa ikut memegang gunting yang ada di tangan Angga. Keduanya kemudian menggunting pita yang ada di hadapan mereka sebagai simbol bahwa restoran tersebut resmi dibuka.
Para tamu undangan dan beberapa orang yang datang kemudian masuk ke restoran tersebut. Mereka menikmati beberapa menu yang akan dijual di restoran itu secara gratis. Pun demikian dengan Nisa dan yang lainnya mereka pun ikut masuk ke restoran itu dan duduk di tempat spesial yang sengaja Angga sediakan untuk Daffa dan keluarganya. Karena sebelum Angga tahu orang tua Daffa adalah Nisa, Daffa sudah memeberitahunya bahwa ia akan datang bersama dengan keluarganya. Dan tanpa diduga, keluarga Daffa ternyata adalah orang yang sudah Angga sebelumnya.
Daffa dan yang lainnya mulai menyantap makanan yang tersaji di ataa meja. Bocah kecil itu mendapatkan pelayanan khusus dari Angga karena mereka adalah teman, setidaknya itulah yang dikatakan Daffa kepada pria dewasa itu sebelum-sebelumnya.
"Dan ini menu makanan berat terakhir yang harus kalian santap, setelah menikmati ini hidangan penutup akan segera datang," ucap Angga sambil meletakkan menu spesial yang dia bilang.
"Kenapa ini dibilang menu spesial, Om?" tanya Daffa dengan mulut yang masih penuh dengan makanan.
"Karena Om sendiri yang memasak itu untuk Daffa. Coba Daffa cicipi, kalau ada yang kurang Daffa boleh protes sama Om," jawab Angga.
Melihat kedekatan Daffa dengan Angga membuat Bima merasa cemburu. Dia sedikit kesal dengan Nisa karena membiarkan putra mereka lebih dekat dengan orang asing ketimbang ayah kandungannya sendiri.
"Enak kok, Om," ujar bocah balita tersebut setelah mencicipi makanan buatan Angga itu.
"Nis, kamu tidak mau mencobanya juga?" tanya Angga kepada Nisa.
"Perutku sudah kenyang, Pak," jawab Nisa.
__ADS_1
"Ya ampun, Nis. Aku sekarang bukan lagi atasanmu lho. Kenapa kamu masih memanggilku Bapak?" protes Angga.
"Maaf, kebiasaan." Nisa meminta maaf. "Tapi, Pak. Kalau saya dilarang memanggil Bapak dengan sebutan Pak terus saya harus panggil Anda dengan sebutan apa dong?"
"Kita ini kan teman, lagian kita juga seumuran, jadi apa salahnya kamu memanggilku dengan nama saja," jawab Angga enteng.
Nisa hanya tersenyum mendengar perkataan Anga barusan.
"Ohya, Pak. Gimana ceritanya seorang Direktur tiba-tiba banting setir menjadi pengusaha restoran? Bukan kah perusahaan Bapak itu sudah lumayan besar ya," ucap Nisa.
"Entah kamu ingat atau tidak, tapi aku pernah cerita kepadamu kalau dulu aku memiliki mimpi memiliki restoran yang makanannya aku masak sendiri dan pelan-pelan aku berusaha mewujudkan mimpi itu," jawab Angga.
Nisa kembali mengingat kejadian lima tahun lalu ketika Angga datang ke tempat tinggalnya. Malam itu Angga memasak makanan untuknya hanya karena dia bilang ingin memakan makananan yang dibuat oleh pria itu. Iya, Nisa juga ingat bagaimana Angga bercerita tentang keinginannya yang ingin memiliki restoran yang menunya adalah hasil kreasinya.
"Selamat ya, Pak, karena akhirnya Bapak bisa mewujudkan impian Bapak itu. Aku ikut senang," ucap Nisa. Dia tahu pasti Angga sudah bekerja sangat keras untuk bisa sampai di titik ini.
"Terima kasih ya, Nis," ucap Angga. "Dulu kehamilanmu yang membuat kita bertemu dan sekarang kita bertemu juga karena anakmu. Sepertinya aku dan anakmu berjodoh."
Nisa tertawa mendengar perkataan Angga barusan dan tentu saja hal tersebut membuat Bima semakin kepanasan.
"Kamu tidak mau mencoba menu yang lain Pak Bima?" tanya Angga menawarkan.
"Tidak. Makanan di restoran ini sama saja kok dengan menu makanan di restoran laonnya nggak ada bedanya. Apanya yang menu spesial?" gerutu Bima.
"Mas!"
"Bima!"
Tegur Nisa dan Vena bersamaan. Bima hanya memutar bola matanya malas. Dia kemudian menghampiri Daffa yang sedang asik makan.
"Daffa, kalau Daffa udah selesai makan kita pergi dari sini yuk! Kita main ke tempat yang seru!" Bima sengaja mengajak putranya untuk segera meninggalkan restoran milik orang yang pernah menjadi pesaingnya tersebut. Bukan hanya dalam pekerjaan saja mereka bersaing. Mereka juga bersaing dalam memperebutkan hati Nisa. Sayangnya tak satu pun dari keduanya yang dulu berhasil menaklukan ibu dari anak balita bernama Daffa itu.
"Ke mana, Pa?" tanya bocah berpipi chubby tersebut.
__ADS_1
"Ke taman hiburan, ke playzone, atau ke wahana bermain lainnya yang Daffa mau," jawab Bima. "Bagaimana?" tanya Bima kepada putranya.
Daffa tampak memikirkan ajakan dari ayahnya tersebut. Dia kemudian menatap Sang Mama untuk bertanya.
"Terserah Daffa," jawab Nisa.
"Baiklah, Pa. Ayo kita main ke playzone aja! Daffa mau main lempar bola basket," jawab Daffa.
"Baiklah, sekarang Daffa pamit dulu sama Om Angga dan bilang terima kasih karena kita sudah diizinkan menikmati makanan yang sangat enak disini. Hm?" suruh Nisa.
"Baik, Ma." Daffa kemudian menghampiri Angga agar lebih dekat dengan pria yang masih menggunakan celemek tersebut.
"Om, Daffa pergi dulu ya. Terima kasih karena Om sudah mengizinkan Daffa makanan yang sangat sangat sangat enak. Sekali lagi terima kasih ya, Om," ucap Daffa.
"Iya, Sayang. Om juga berterima kasih karena Daffa sudah ngeluangin waktu buat datang ke peresmian restoran milik Om ini. Terima kasih ya," ucap Angga sambil mengajak rambut Daffa dengan gemas.
"Om, lain kali, Daffa masih boleh makan gratis disini kan, Om?" tanya Daffa.
"Daffa," tegur Nisa.
"Tidak apa-apa, Nis. Aku bakalan senang kalau Daffa bisa ke sini menikmati makanan buatanku," jawab Angga.
Bima lebih dulu keluar dari restoran milik Angga tersebut. Dia benar-benar kesal karena harus bertemu kembali dengan pria yang pernah menjadi pesaingnya tersebut.
"Pak, aku pamit ya," ucap Nisa dengan lembut.
"Om, Daffa mau main dulu sama Papa dan Oma. Da Om Angga."
Nisa dan Daffa berjalan keluar mengikuti Bima yang sudah keluar lebih dulu dari restoran.
Angga mengangguk sambil tersenyum. Ia ikut melambaikan tangannya ketika Daffa malambaikan tangan kepadanya.
Setelah mobil yang membawa Nisa tak lagi terlihat, Angga menghela napas panjangnya. Dia tidak menyangka jika anak yang menjadi teman baiknya selama enam bulan ini ternyata adalah anak dari wanita yang dulu sempat mencuri hatinya.
__ADS_1
"Apa masih ada kesempatan buatku untuk mendekati kamu, Nis?" batin Angga.
Dia pun kembali masuk ke dalam restorannya untuk melayani pengunjung lain.