
Hari itu menjadi hari yang membahagiakan tidak hanya bagi Nisa dan Daffa, tetapi juga bagi Angga. Penantian cintanya selama hampir 5 tahun akhirnya terbalaskan. Nisa ternyata juga memiliki perasaan yang sama terhadap dirinya. Hal yang tak pernah ia duga sebelumnya.
Sepulang sekolah, Angga membawa calon istri dan anaknya berkunjung ke keluarga besarnya. Dia ingin memperkenalkan Nisa dan Daffa secara resmi kepada mama dan papanya. Agar mereka tak lagi menyuruhnya untuk kembali menjalin kasih dengan Thania, gadis yang sama sekali tidak pernah bisa ia cintai.
"Ngga, yakin, orang tuamu akan menerima kami dengan baik?"
Jujur, Nisa merasa sangat gugup karena ini pertama kalinya ia akan bertemu dengan orang tua Angga.
"Aku juga tidak tahu. Tapi, kemarin aku sudah membicarakan ini dengan mereka dan mereka bilang mereka akan mencoba mengenalmu dengan baik," jelas Angga.
Kemarin setelah menghadiri rapat perusahaan, Angga menyempatkan diri untuk berbicara serius dengan kedua rang tuanya. Dia meminta izin untuk bisa menikahi wanita pilihannya sendiri dan tidak mau diintervensi tentang masalah jodoh. Angga berjanji akan berusaha menyelesaikan masalah internal yang terjadi di perusahaan milik orang tuanya itu dengan baik, tanpa harus menikahi Thania dan Angga yakin, dia pasti bisa!
Dan semua perkataan Angga itu, sudah ia buktikan dalam rapat siang tadi. Beberapa investor yang ingin menarik dananya dari CAMP Grup, berhasil Angga pertahankan. Dan beberapa kontrak kerja sama yang hampir batal akhirnya bisa kembali terjalin. Sehingga membuat kedua orangtua Angga tidak memiliki alasan untuk menolak keinginan putranya itu.
"Apa mereka juga tahu tentang statusku?" tanya Nisa. Dia khawatir jika orangtua Angga akan mempermasalahkan status janda beranak satu yang ia sandang karena kebanyakan orangtua tidak akan suka jika anaknya menikah dengan janda.
Angga terdiam, dia memang belum mengatakan hal tersebut kepada kedua orangtuanya.
"Sepertinya kamu belum memberitahu mereka ya," tebak Nisa.
"Iya. Tapi, bukan karena aku malu memiliki calon istri janda beranak satu. Kemarin aku hanya tidak sempat mengatakan itu," jawab Angga dan memang itulah yang terjadi. "Aku yakin mama dan papa pasti akan menyukaimu dan Daffa. Percayalah!" Angga mencoba meyakinkan Sang Calon istri agar ikut meyakini keyakinannya tersebut.
"Mudah-mudahan saja mereka benar-benar akan menyukai kami," balas Nisa yang terdengar ragu.
"Aku yakin mama-papaku pasti akan menyukai kalian." Angga menatap kedua bola mata Nisa seraya menggenggam tangan.
"Mama, Om Angga, kapan kita akan mulai makan, Daffa sudah lapar?" tanya Daffa sambil cemberut.
Nisa melihat ke arah jam dan ternyata ini memang sudah lewat 1 jam dari jam makan siang putranya. Pantas saja, anak itu sudah merasa lapar.
"Sayang, kita tunggu sebentar lagi ya!" pinta Nisa. Dia mengusap pipi putranya.
"Memangnya siapa sih, Ma, yang sedang kita tunggu?" tanya Daffa lagi.
"Kakek dan neneknya Daffa." Kali ini Angga yang memberikan jawaban kepada calon anak tirinya itu.
"Kakek dan nenek? Bukannya Daffa cuma punya nenek saja, nenek Vena?" tanya Daffa dengan wajah bingung.
__ADS_1
"Iya, Nenek Vena adalah nenek dari Papa Bima. Kalau yang sebentar lagi akan Daffa temui adalah nenek dan kakek dari Om Angga. Jadi nanti Daffa akan memiliki 2 orang nenek dan seorang kakek," jelas Angga. Dia berusaha menjelaskan dengan logika yang bisa dimengerti oleh anak kecil.
"Kenapa Daffa harus panggil mereka nenek dan kakek kan mereka orang tuanya Om Angga bukan orang tuanya Mama?" tanya Daffa lagi.
Kali ini Angga yang bingung bagaimana menjelaskannya.
"E... Daffa sayang nggak sama Om Angga?"
"Sayang."
"Kalau Om Angga jadi papanya Daffa, Daffa mau nggak?" Angga bertanya dengan sangat hati-hati.
Selama ini ia dan Daffa memang dekat, akan tetapi kedekatan itu terjalin karena mereka menganggap diri mereka adalah sahabat satu sama lain. Nisa takut tidak bisa diterima oleh kedua orangtua Angga demikian juga sebaliknya, Angga takut Daffa tidak mau menerimanya sebagai papa sambung dan membuat kedekatan yang pernah terjalin justru menjadi rusak.
"Daffa sudah punya papa Bima."
Jawaban Daffa membuat Angga seketika terdiam, dia benar-benar takut kalau Daffa akan menolaknya menjadi papa sambung.
"Tapi, Daffa akan sangat senang kalau Daffa juga bisa memiliki papa seperti Om Angga," lanjut Daffa.
Angga merasa lega karena ternyata Daffa tidak menolaknya. "Jadi, Daffa mau jadi anaknya Om Angga?"
Jawaban polos Daffa tentu membuat Nisa dan Angga tertawa gemas.
"Sayang, kenapa kamu pingin buat kue ulang tahun setiap hari?" Jujur sebagai seorang ibu, Nisa penasaran kenapa anaknya terobsesi ingin bisa membuat kue ulang tahun.
"Daffa ingin bisa memberikan kue ulang tahun untuk teman-teman Daffa yang tidak bisa merayakan ulang tahunnya. Daffa kasihan, Ma," jawab bocah balita tersebut.
"Memang temannya Daffa ada yang seperti itu?" tanya Nisa lagi.
"Ada, Ma. Minggu lalu Tio ulang tahun, tapi ibunya nggak bisa ngasih dia kue, terus 2 minggu yang lalu si Reva juga ulang tahun, bapaknya juga gak bisa ngasih dia kue, dan yang terakhir 3 hari yang lalu, Boni ulang tahun. Tapi, karena neneknya gak punya uang, dia juga gak bisa beli kue. Makanya Daffa pingin bisa bikin kue yang banyak dan memberikan kue-kue itu untuk mereka. Jadi, setiap hari mereka bisa terus menikmati kue ulang tahun itu, Ma."
Penjalasan Daffa membuat Nisa merasa bangga kepada putranya. Dia tidak menyangka kalau putranya memiliki kepedulian yang besar kepada teman-temannya. Nisa memang sengaja menyekolahkan putranya di TK biasa, TK yang diperuntukkan untuk semua kalangan. Dia sengaja menyekolahkan putranya di tempat seperti itu agar putranya bisa berteman dengan siapa pun tanpa membeda-bedakan asal-asul mereka.
"Kamu jangan khawatir, Om pasti akan mengajari Daffa bikin kue ulang tahun yang enak." Angga mencubit dengan gemas hidung calon anak tirinya itu.
"Om, bolehkah Daffa memanggil Om dengan sebutan Papa?" tanya Daffa.
__ADS_1
Angga menatap Nisa demikian juga sebaliknya. Keduanya merasa bahagia karena Daffa bisa menerima Angga sebagai calon papa barunya dengan mudah.
"Tentu saja boleh, Sayang. Om seneng banhet kalau Daffa bisa manggil Om dengan sebutan Papa kayak Daffa manggil Papa Bima," jawab Angga. Dia menarik bocah yang memiliki chubby itu dan memeluknya.
"Papa," panggil Daffa.
"Bisa Daffa ulangi lagi?"
"Papa, Papa, Papa," panggil Daffa.
Angga benar-benar merasa bahagia karena hari ini selain berhasil mendapatkan cinta Nisa, dia juga berhasil membuat Daffa memanggilnya Papa.
"Ehem."
Deheman seseorang dari belakang ketiganya membuat mereka menoleh ke sumber suara. Daffa langsung berdiri dari tempat duduknya untuk memberikan hormat dan menyapa orang-orang itu.
"Assalammualaikum, Om, Tante," sapa Nisa. Dia kemudian bersalaman dengan kedua orangtua dari Angga.
"Hm." Bukannya menjawab, papa dari Angga itu hanya berdehem.
"Kakek menjawab salam hukumnya wajib lho," ujar Daffa.
"Siapa dia, Angga? Kenapa dia memanggiku Kakek?" tanya papa dari Angga itu.
"Dia... dia anaknya Nisa, Pa, Ma."
Jawaban dari Angga itu tentu membuat papa dan mama Angga terkejut.
"Apa kamu bilang? Anak? Jadi selain janda, dia juga seorang single parent?" papa dari Angga itu berusaha memperjelas status dari calon istri anaknya.
"Iya, Pa," jawab Angga. "Kenalkan Pa, nama dia Daffa, dia adalah anak dari Nisa, wanita yang putra kalian cintai."
Angga memperkenalkan dua orang yang disayanginya tersebut kepada mama-papanya.
"Ayo Daffa, salim sama kakek dan nenek!" suruh Angga.
Daffa maju satu langkah dan mengulurkan tangannya untuk bersalaman kepada dua orang tua yang saat ini berdiri tepat di depannya.
__ADS_1
Kedua orangtua Angga tersebut, masih belum membalas uluran tangan dari anak Nisa.