
"Angga, kamu gila ya! Barusan kamu itu seolah ngajak perang Bima? Ingat, kamu baru mengembangkan usahamu di kota ini, jangan sampai hanya karena perasaan konyolmu pada Nisa perusahaanmu terkena masalah." Cevan kembali mengingatkan sahabat sekaligus atasannya itu untuk tidak melakukan hal sembrono. "Bagaimana kalau nyokap bokap kamu itu tahu tentang masalah ini? Bener-bener gila kamu ya!" lanjut Cevan. Dia menggeleng merasa tidak mengerti dengan sikap Angga.
"Udah lah, Cev. Jangan selalu dibikin ribet. Santai saja." Angga menanggapi dengan santai segala perkataan dari Cevan. "Kalau aku memang ngajak perang Si Bima itu memang kenapa? Sepertinya keyakinanku sudah bulat, meski Si Bima tidak mau menceraikan Nisa. Aku yang akan merebut Nisa dari dia," ungkap Angga dengan sungguh-sungguh.
"Gila kamu! Kamu benar-benar sudah gila! Seharusnya sebulan yang lalu aku tidak meloloskan dia sebagai karyawan di perusahaanmu agar kamu tidak menjadi gila seperti ini." Kecam Cevan, dia benar-benar menyesal telah meloloskan Nisa menjadi karyawan di perusahaan Angga tersebut. "Bagaimana kalau si Bima beneran nyebarin ke media kalau kamu lagi berusaha mendekati istrinya?" tanya Cevan, dia sedikit khawatir jika Bima mengimplementasikan ancamannya.
"Aku tidak peduli," jawab Angga, dia langsung melenggang menuju ke ruangannya yang ada di lantai sepuluh.
"Astaga, apa yang harus aku lakukan untuk menghentikan kegilaan Angga itu? Bagaimana kalau Tuan dan Nyonya Besar tahu? Kalau sampai Tuan dan Nyonya Besar tahu bukan hanya Angga yang akan dapat masalah, tetapi Nisa juga. Astaghfirullah hal'adzim, Ya Tuhan, tolong bantu aku menyelesaikan masalah ini." Cevan mengesah kasar, dia benar-benar bingung harus berbuat apa. Cevan pun mengikuti langkah bosnya itu.
***
"Sialan! Sialan! Sialan!" Bima masih mengeram kesal. Berkali-kali dia memukul kemudi mobilnya. Dia tidak menyangka kalau keputusannya untuk melegalkan pernikahannya dengan Ayu dan memperkenalkan istri keduanya itu kepada dunia, malah berakhir seperti ini.
Bima mengira, Nisa akan terus diam asal dia tetap bisa menggunakan sahabat-sahabat istrinya itu untuk mengancam. Tetapi, kenyataannya wanita itu lebih pintar dari yang dia pikirkan. Dia sengaja mencari kerja ke perusahaan lain agar bisa membawa pergi para sahabatnya sehingga Bima tidak bisa menjadikan mereka alat untuk mengancam istrinya lagi.
__ADS_1
Bima kembali mengingat ucapan terakhir Angga yang sengaja mencibirnya karena tidak datang ke rumah sakit untuk menjenguk Nisa. Padahal dirinya adalah seorang suami.
"Apa ucapan Mama tadi pagi itu benar ya kalau semalam Tante Meta sengaja menurunkan Nisa di tengah jalan dan membuat Nisa harus berada di rumah sakit sekarang?" Bima bergumam. Kebimbangan kembali menyeruak di hati laki-laki yang kini memiliki dua istri itu.
Bima bingung siapa diantara Nisa dan Tantenya Ayu yang berbohong? Selama berpacaran sampai dengan 3 tahun usia pernikahan mereka Nisa tidak berbohong. Tatapi disisi lain, Bima juga tidak percaya kalau Ayu akan tega membohonginya. Setahu dia, Ayu adalah gadis desa yang polos yang tidak akan pernah menyakiti orang lain. Hati wanita itu juga sangat lembut dan penyayang.
"Aku tidak tahu siapa diantara mereka yang sebenarnya berbohong. Sebaiknya sekarang aku ke rumah sakit untuk memastikannya," batin Bima. Dia kemudian kembali menghidupkan mesin mobilnya untuk menuju ke rumah sakit tempat Nisa saat ini sedang menjalani perawatan. Dia juga ingin memastikan apa perkataan mamanya yang mengatakan bahwa Nisa akan menggugat cerai dirinya itu benar adanya. Dan jika itu terjadi bagaimana dengan reputasinya. Bima tidak bisa membiarkan reputasinya jatuh hanya gara-gara itu. Dia harus bisa membujuk Nisa untuk membatalkannya.
*
"Nis, tolong batalkan gugatanmu itu, jika kamu tetap melakukannya reputasiku bisa hancur, Nis!" pinta Bima tiba-tiba ketika masuk ke ruang perawatan tersebut. Nisa yang saat itu sedang melihat ke luar jendela pun langsung menoleh.
"Akhirnya kamu datang juga ya, Mas. Sayangnya kamu datang bukan untuk menanyakan kesehatanku ataupun kesehatan calon anak kita, melainkan untuk memintaku membatalkan gugatan cerai itu. Ternyata aku dan calon bayi kita tidak berarti apa-apa jika dibandingkan dengan reputasimu." Nisa tersenyum miris.
"Nis, bukan itu maksudku. Aku hanya.... "
__ADS_1
"Tidak ada yang perlu kita bicarakan lagi sekarang. Pergilah dari sini! Kita bertemu di pengadilan!" usir Nisa.
"Nis.... "
"Aku bilang pergi! Pergi kamu dari sini, Mas! Pergi!" usir Nisa lagi, kali ini dengan volume yang lebih tinggi.
Bima hanya bisa menghela napas panjangnya, dia menatap Nisa sebentar kemudian keluar dari ruang rawat tersebut.
Setelah Bima pergi, Nisa kembali menangis. Hatinya kembali terluka karena ternyata dirinya tidak lebih berharga dari sebuah reputasi.
"Ya Allah, kuatkan lah aku! Berilah kelancaran pada proses perceraianku ini. Hamba tahu, Engkau membenci perceraian. Tetapi, bukankah Engkau juga tidak melarangnya? Aku hanya sudah lelah dengan keadaan ini ya Allah. Aku sangat lelah," rintih Nisa dengan derai air mata.
"Sayang, kamu juga harus kuat ya. Hanya kamu satu-satunya harta yang mama miliki." Nisa mengusap perutnya.
ššš
__ADS_1
Aku sudah penuhi janji lho ya buat update lagi. Jadi, plis plis plis, tetap berikan like, komen, vote, dan gift sebanyak-banyak. Terima kasih.