
Fattan kembali duduk sambil menyandarkan punggungnya pada sandaran kursi.
"Berapa banyak uang tutup mulut yang bisa Anda tawarkan kepada saya?" tanya Fattan. "Apa Anda bisa memberikan separuh dari harta yang akan Anda dapat dari Bima?"
"Gila kamu!" sentak Ayu.
"Nyonya, aku ini sudah berteman dengan Bima dari lama dan aku tahu berapa banyak harta kekayaan yang ia dan keluarganya miliki. Jika hanya 50 atau 100 juta, aku bisa dapatkan itu dari klinikku. Makanya aku tanyakan kepada Anda berapa banyak yang bisa Anda tawarkan kepada saya karena bagaimanapun membuat surat keterangan palsu banyak resikonya. Aku bisa berurusan dengan hukum dan izin klinikku bisa dicabut. Jadi, uang segitu bukan apa-apa bagiku," ujar Dokter Fattan meremehkan.
Ayu tampak sedang berpikir.
"Atau begini saja kita buat perjanjian, kapanpun aku butuh dana kamu akan memberikannya padaku." Fattan memberikan tawaran lain kepada istri kedua dari teman lamanya itu.
"Aku tidak bisa memutuskan ini sendiri," jawab Ayu.
"Kenapa? Apa ada orang lain yang membantumu menjalankan penipuan ini?" tanya Fattan lagi. Dia menatap Ayu dengan tatapan menyelidik.
Ayu tidak menjawab.
__ADS_1
"Apa dia adalah orang dekat Bima? Atau dia masih keluarga Bima?" tanya Fattan lagi.
"Dia.... " Ayu tidak melanjutkan kalimatnya ketika melihat ponsel milik dokter itu ternyata sedang melakukan panggilan.
"Kau ingin menjebakku?!" bentak Ayu. Dia mengambil ponsel milik Fattan tersebut dan langsung menekan tombol merah. Ayu segera keluar dari ruangan Dokter Fattan untuk kabur, sayangnya di tengah pintu sudah ada Bima yang menghadangnya.
"M-Mas Bima... aku... aku.... "
"Kamu benar-benar wanita bedebah. Ternyata kamu sudah merencanakan semua ini dari awal. Sebenarnya apa kesalahanku kepadamu? Kenapa kamu tega melakukan ini kepadaku?" Bima mencecar Ayu dengan emosi yang meledak-ledak.
"Mas Bima, lepaskan! Sakit!" Ayu berusaha melepaskan diri dari cengkraman tangan Bima itu.
"Gara-gara surat wasiat palsumu itu, aku menyakiti hati Nisa. Dan sekarang rumah tanggaku dengan Nisa juga diujung tanduk gara-gara ulahmu. Kamu benar-benar wanita berhati busuk, Yu!"
"Kamu bilang apa, Mas? Rumah tanggamu dan Mbak Nisa gara-gara surat wasiat palsuku itu? Apa aku tidak salah dengar?" Ayu menatap Bima dengan tatapan meremehkan. "Kamu sudah tertarik denganku sejak pertama kali melihatku, makanya ketika di surat itu kamu disuruh menikah denganku kamu langsung mengiyakan. Seandainya kamu tidak tertarik kepadaku kamu tidak akan langsung setuju untuk menikah denganku. Aku ingat perkataan Mbak Nisa waktu pertama kali kamu datang membawaku ke rumah dan mengenalkan sebagai istri keduamu dengan dalih menjalankan wasiat, Mbak Nisa bilang seharusnya kamu bisa menjalankan wasiat dengan cara lain, tidak harus dengan menikah. Hancurnya rumah tanggamu dengan Mbak Nisa, itu diakibatkan karena ketidak setiaanmu dengan Mbak Nisa. Jika kamu setia dan memegang teguh hatimu hanya untuk istri tercintamu itu, aku yakin sampai sekarang rumah tanggamu tetap baik-baik saja. Tapi, apa? Hatimu goyah karena melihat pesonaku, jadi jangan salahkan aku soal itu!"
Dalam hati Bima membenarkan perkataan Ayu itu. Seandainya ia tidak memiliki ketertarikan terhadap Ayu, tidak mungkin pernikahan itu akan terjadi. Ketika merasakan cengkraman Bima sedikit mengendur, Ayu segera melepaskan diri darinya. Dia mendorong tubuh Bima hingga terjatuh, kemudian segera melarikan diri dari sana.
__ADS_1
"Bim, kamu nggak apa-apa?" tanya Fattan sambil membantu Bima untuk berdiri.
"Aku akan suruh satpam untuk menghentikannya," lanjut Fattan.
"Tidak usah, Tan. Terima kasih ya karena kamu mau membantuku," ucap Bima.
"Bukan apa-apa, Bim. Bagaimanapun, kamu dan Nisa dulu pernah membantuku sewaktu kuliah. Dan kalau bukan karena uang darimu mungkin aku tidak akan bisa menjadi dokter seperti sekarang ini," jawab Fattan. "Aku berdoa semoga rumah tanggamu dan Nisa masih bisa diperbaiki."
"Sekali lagi terima kasih ya, Tan," jawab Bima.
Fattan mengangguk. "Kamu tidak ingin menyerahkan kasus ini ke pihak yang berwajib?"
"Aku sudah menghubungi pengacaraku untuk melaporkan hal ini. Sekarang aku akan mencari Nisa terlebih dulu sambil mencari informasi siapa orang yang sebenarnya sudah membantu Ayu."
"Semoga kamu berhasil."
"Aku cabut ya, Tan. Sekali lagi terima kasih." Setelah mengatakan itu, Bima pergi meninggalkan klinik milik Fattan tersebut.
__ADS_1