Dimadu Karena Wasiat

Dimadu Karena Wasiat
DKW 61 - Bimbang


__ADS_3

Nisa berjalan mendekat ke arah jendela dan menatap luasnya langit dari sana. Dia menarik napas panjang kemudian menghembuskannya perlahan.


"Tidak ada alasan bagiku untuk tetap mempertahankan pernikahanku dengan Mas Bima," jawab Nisa yang kemudian membalas tatapan Angga tadi.


Angga senang mendengarnya.


"Memangnya kamu sudah tidak memiliki perasaan apa pun lagi terhadap Si Bima?" tanya Angga lagi. Entah kenapa dia ingin tahu tentang itu.


"Bohong, kalau aku bilang sudah tidak memiliki perasaan apa pun terhadapnya karena setidaknya aku masih bisa merasakan sakit hati saat perhatiannya hanya ditujukan untuk Ayu. Tapi.... " Nisa menggantung kalimatnya.


"Tapi apa?" tanya Angga penasaran.


"Entah sejak kapan kehadiranmu membuat sakit hati yang kurasakan itu berkurang." Kata-kata itu hanya terucap di hati Nisa.


"Nis," panggil Angga ketika wanita itu masih diam.


"E... iya, Pak," jawab Nisa.


"Kamu belum melanjutkan jawabanmu tadi lho," ucap Angga.


"Lupakan saja, Pak. Lagian itu juga bukan hal yang penting," jawab Nisa berusaha mengalihkan pembicaraan.


Ada sedikit rasa kecewa saat Nisa tidak melanjutkan jawabannya tadi. Tetapi, Angga tidak bisa memaksa wanita yang sedang hamil 7 bulan itu untuk memberikan jawaban.


"Pak, karena ini sudah larut, sebaiknya Pak Angga pulang sekarang. Takutnya besok Pak Angga kesiangan datang ke kantor," suruh Nisa.


"Ya sudah aku keluar ya, kamu juga istirahatlah yang cukup. Ingat! Jangan memikirkan hal apa pun yang membuat kesehatan dan bayimu terganggu! Jika perlu block semua nomor toxic yang bisa mengganggumu itu!" Angga mengingatkan.


"Iya, Pak," jawab Nisa. "Terima kasih karena Bapak sudah sengaja datang untuk menghibur ku dan terima kasih juga karena Bapak sudah mau membelaku tadi. Maafkan aku ya, Pak, karena gara-gara aku, pipi Bapak jadi kena tonjok Mas Bima," tambahnya.

__ADS_1


"Jangan pikirkan soal itu. Ya sudah aku keluar dari kamarmu sekarang ya, jangan lupa istirahat yang cukup."


"Iya, Pak Angga. Sekali lagi terima kasih."


Angga mengangguk, dia menatap Nisa sebentar sebelum akhirnya benar-benar keluar meninggalkan kamar rawat Nisa tersebut.


***


Sementara itu, Ayu yang pingsan dibawa oleh Bima ke IGD. Dia terpaksa membawanya ke sana karena rumah sakit itulah satu-satunya lokasi yang paling dekat dengan gedung kosong dimana ia dan Ayu mengikuti Nisa tadi.


Setelah beberapa saat menjalani pemeriksaan, dokter yang malam itu bertugas di IGD keluar dari ruangan tersebut untuk berbicara dengan Bima.


"Keluarga pasien," panggil Sang Dokter ketika keluar.


"Saya suaminya, Dok," jawab Bima sambil mendekat ke arah dokter tersebut. "Bagaimana kondisi istri saya? Apa yang menyebabkan dia pingsan?" tanyanya.


"Jangan khawatir, Pak. Kondisi istri Anda baik-baik saja. Dia pingsan karena kelelahan dan keadaan emosinya tidak stabil. Kalau bisa tolong jangan biarkan istri Bapak terlalu banyak pikiran karena itu bisa membuatnya stres dan keadaan janin di dalam kadungannya jadi kurang sehat," jelas Sang Dokter.


"Iya, Pak. Istri Anda sudah hamil 6 minggu. Jadi, jangan buat dia stres ya, Pak," terang Sang Dokter.


Bima masih tidak percaya dengan hal yang baru didengarnya barusan. Bagaimana istrinya bisa hamil, kalau dia sudah menyuruh istrinya tersebut menggunakan alat kontrasepsi sebelum berhubungan.


"Besok, istri Anda sudah bisa dibawa pulang. Malam ini biarkan dia istirahat di rumah sakit," ucap dokter lagi.


"Iya, Dok," jawab Bima.


Setelah Ayu dipindahkan.ke ruang rawat, Bima segera menemui istri mudanya tersebut.


"Mas, aku hamil, Mas. Aku hamil anakmu," ujar Ayu sambil mengusap perutnya.

__ADS_1


"Tapi, bukan kah aku selalu menyuruhmu untuk menggunakan alat kontrasepsi sebelum kita berhubungan? Bagaimana kamu bisa hamil?" Bima menuntut penjelasan dari istri keduanya tersebut.


"Maafkan aku, Mas. Sebenarnya sudah dua bulan ini aku tidak menggunakan alat kontrasepsi apa pun saat kita berhubungan karena aku mengingkan anak darimu, aku juga ingin disayang oleh mamamu sama seperti Mbak Nisa. Maaf kan aku ya, Mas," ucap Ayu sambil menangis.


Bima hanya bisa men de sah berat, tak pernah terpikirkan olehnya kalau Ayu akan melakukan hal itu.


"Kamu nggak akan menceraikan aku, kan, Mas?" tanya Ayu lagi. "Aku janji padamu, aku tidak akan lagi menyakiti Mbak Nisa. Aku akan berubah, aku janji, Mas."


Saat ini Bima tidak bisa memberikan jawaban apa pun, baik Nisa atau pun Ayu sama-sama sedang mengandung anaknya. Dia tidak mungkin melepaskan satu diantara mereka.


"Biarkan aku memikirkan soal ini, Yu. Aku butuh waktu," ujar Bima.


Ayu mengangguk. Kali ini, dia tidak ingin membuat suaminya merasa ditekan dan maah memilih Nisa.


"Tidurlah!" suruh Bima.


Tak mau membuat suaminya kesal, Ayu menuruti perkataan suaminya. Bahkan saat Bima keluar dari ruang rawatnya pun, dia terpaksa membiarkan.


***


Bima duduk di ruang tunggu rumah sakit yang sudah sepi, hanya ada beberapa orang yang ada di tempat itu.


"Ya Tuhan, sekarang apa yang harus aku lakukan?" tanya Bima dalam hati. Dia menyandarkan punggungnya di sandaran kursi stainles yang berjajar di ruang tunggu tersebut. Satu sisi dia ingin bisa mempertahankan Nisa, tetapi di sisi lain dia juga tidak bisa menceraikan Ayu sekarang.


🌼🌼🌼


TETAP BERIKAN LIKE, KOMEN, VOTE, DAN GIFT SEBANYAK-BANYAKNYA YA, GAES. TERIMA KASIH πŸ’™


Hai, bestie-bestie ku semua, author mau ngerekomendasiin novel seru and keren nih. Judulnya ETERNAL ENEMY, karya NAVIZAA.

__ADS_1


Jangan lupa mampir ya, Bestie 😁



__ADS_2