
"Ini benaran cuma 5 juta per tahun sewanya, Nis?" tanya Wulan ketika mereka tiba di rumah yang menjadi tempat tinggal baru sahabatnya tersebut.
Rumah dengan dua lantai yang terdiri dari 2 kamar utama, 2 kamar tamu, ruang tamu, dapur, dan ruang keluarga itu terlihat begitu mewah. Bahkan bisa dilihat jika barang-barang yang ada di rumah tersebut adalah barang mahal.
"Iya. Kata Pak Angga itu karena pemiliknya sebenarnya nggak butuh duit. Dia cuma butuh orang buat nempatin rumah ini," jawab Nisa.
"Kamu tahu siapa nama pemiliknya?" kini giliran Dewi yang bertanya.
Nisa menggeleng. "Aku lupa menanyakan itu sama Pak Angga. Nanti kalau dia ke sini aku tanyakan deh sekalian mau bayar uang sewanya," jawab Nisa karena memang dia tidak tahu siapa pemilik rumah mewah tersebut.
"Rumah tipe begini kalau kita nyewa per tahun itu biasanya harganya di atas 10 juta, Nis." Dewi ikut berbicara. "Temen sekantorku ada yang baru pindah ke rumah kontrakan yang baru, katanya harga sewa setahunnya 15 juta dan aku lihat rumahnya lebih kecil dari ini."
Dewi ikut mengamati tempat tinggal Nisa yang baru tersebut.
"Kamu akan tinggal disini sendiri, Nis?" kini giliran Ratna yang bertanya.
"Begitulah, tapi mungkin aku akan cari art untuk membantuku," jawab Nisa. Ia kemudian duduk di salah satu sofa yang ada di ruang tengah.
"Itu apa, Nis?" tanya Dewi ketika melihat Nisa meletakkan wadah makanan di atas meja.
"Ini makanan dari Pak Angga, tadi aku belum sempat memakan ini karena udah buru-buru pingin segera meninggalkan rumah sakit. Padahal makanan itu kelihatan enak banget," jawab Nisa.
"Mau aku angetin?" tanya Wulan.
"Boleh, soalnya aku udah lapar. Tapi, apa di dapur udah ada alat buat manasinnya?" jawab Nisa sambil bertanya. Tadi dia lupa menanyakan soal ini kepada Angga.
"Bentar, biar aku lihat aja ke dapur." Wulan pergi dari sana da mencari keberadaan dapur. Tidak lama kemudian dia kembali lagi ke ruangan tersebut.
"Semua peralatan dapurnya juga lengkap, Nis. Sini aku angetin makanan dari Pak Angga tadi!" Wulan mengambil wadah makanan yang ditaruh Nisa di atas meja tadi. Dia kemudian membawa makanan tersebut ke dapur untuk dihangatkan.
Tidak berselang lama, Wulan sudah kembali ke ruang tengah dengan makanan yang sudah dihangatkan.
"Ini, makanlah!" suruh Wulan.
"Makasih ya, Lan. Akhirnya aku bisa menikmati makanan ini juga," ucap Nisa. Dia pun mulai menikmati makanan tersebut dengan lahap.
__ADS_1
Ketiga sahabat Nisa itu menemani Nisa hingga sore hari. Ketiga meninggalkan rumah kontrakan baru Nisa itu sekitar jam lima sore.
***
Setelah dari rumah sakit pagi tadi, Bima langsung menemui kliennya di restoran untuk membahas kontrak kerjasama yang baru karena kontrak kerjasama sebelumnya sudah selesai. Sayangnya, Bima kembali harus menelan kekecewaan karena gagal bekerjasama dengan perusahaan itu dan ketiadaan Nisa menjadi alasan dari pimpinan perusahaan itu menolak kerja sama yang ditawarkan oleh Bima.
Selama menjalankan perusahaan milik almarhum papanya, ide-ide dari Nisa itulah yang berhasil menarik pimpinan dari perusahaan lain untuk mau bekerjasama. Bahkan setelah risign pun, Nisa bisa melobi pimpinan-pimpinan perusahaan itu melalui telepon.
Bima menghela napas panjangnya. Entah sudah keberapa kali ia gagal menjalin kerjasama dengan perusahaan lain dan jika ini terus terjadi cepat atau lambat perusahaannya pasti akan hancur.
"Ya Allah, apa ini teguran dariMu karena aku sudah menyakiti hati Nisa?" batin Bima. Dia memasukkan berkas-berkas untuk meeting tadi ke dalam tas kerja.
"Aku akan mencari Nisa dan meminta maaf untuk semua kesalahanku selama ini. Tapi, bagaimana dengan Ayu? Aku tidak mungkin menceraikannya, apalagi saat ini dia juga sedang mengandung anakku," gumam Bima lagi.
"Sudahlah, lebih baik aku mencari Nisa dulu. Urusan selanjutnya, biar aku pikirkan nanti."
Bima bangun dari tempat duduknya. Saat akan meninggalkan restoran itu tanpa sengaja ia bertemu dengan anak dari mantan pengacara pribadi papanya yang bernama Cristian.
"Pak Cristian."
Kedua orag itu saling berjabat tangan.
"Gimana kabar Pak Yohanes? Dia masih sehat kan?" Bima menanyakan kabar dari mantan pengacara papanya tersebut.
"Lho, memang Pak Bima belum tahu kalau papa sudah meninggal?" tanya Cristian.
"Kapan?" kembali Bima bertanya.
"Papa meninggal satu tahun setelah kematian papanya Pak Bima," jawab Cristian. "Ya... meski dua tahun sebelumnya papa tetap tidak bisa ngapa-ngapain karena mengalami stroke," tambahnya.
"Maksud Pak Cristian, Pak Yohanes stroke satu tahun sebelum papa meninggal?"
"Ya kurang lebih seperti itu," jawab Cristian. "Tapi, kenapa raut wajah Pak Bima tiba-tiba berubah begitu ya? Apa ada yang salah dengan jawaban saya, Pak?"
"Ah, tidak ada apa-apa. Maaf, kalau reaksi saya barusan membuat Anda merasa aneh," ucap Bima. "E... kalau begitu Pak Yohanes sudah tidak menjadi pengacara pribadi papa setahun sebelum papa meninggal ya?"
__ADS_1
"Begitulah kira-kira, kan beliau stroke," jawab Cristian.
"Sebentar." Bima mengambil sesuatu dari dalam tas kerjanya.
"Pak Cristian, ini tandatangan papa Anda, kan?" tanya Bima sambil menunjuk sebuah tandatangan yang ada pada selembar kertas.
Cristian mengambil kertas itu dan mengamatinya.
"Mirip sih, tapi ini bukan tandatangan papa," jawab Cristian. Cristian kemudian menunjukkan tandatangan papanya pada berkas yang ia miliki.
Tandatangan itu memang mirip, tetapi jika diperhatikan dengan teliti ada sedikit perbedaan di tandatangan tersebut.
"Pak Bima ada apa?" tanya Cristian ketika melihat Bima seperti sedang berpikir.
"E... tidak ada apa-apa," jawab Bima kemudian tersenyum.
"Kalau begitu saya pamit ya, Pak. Ada urusan dengan klien." Setelah mengatakan hal tersebut Cristian meninggalkan tempat itu.
*
Selama dalam perjalanan pulang, Bima terus memikirkan tentang tandatangan yang ada di surat wasiat almarhum papanya yang diduga palsu.
"Kenapa aku tidak pernah memikirkan kemungkinan ini? Kenapa aku tidak menyelidiki dulu tentang keaslian surat tersebut? Kenapa aku bisa segagabah itu hanya karena ingin segera menuntaskan keinginan papa?" batin Bima. Dia menyanyangkan kecerobohannya tersebut.
"Jika surat wasiat itu palsu, mungkinkah Ayu dalang dibalik semua ini? Tapi untuk apa?" Bima kembali bermonolog.
Bima akui saat dia mendatangi rumah Ayu dan bertemu dengan wanita itu pertama kali. Dia langsung terpesona dengan paras ayu wanita itu dan sempat melupakan keberadaan Nisa.
Apalagi ketika ibunya Ayu memintanya untuk menikahi putrinya, tanpa banyak berpikir Bima langsung mengiyakan.
"Tidak! Pasti Ayu juga korban dari surat wasiat palsu itu. Aku harus menyelidiki ini, aku tidak boleh gegabah lagi dalam mengambil keputusan." Kembali Bima membatin.
"Maaf, Pak, kita mau pulang ke rumah atau ke rumah sakit?" tanya si supir yang mengendarai mobil lexus berwarna abu tua tersebut.
"Ke rumah sakit. Nanti sekalian antar aku untuk mencari Nisa."
__ADS_1
"Baik, Pak."