Dimadu Karena Wasiat

Dimadu Karena Wasiat
DKW 12 - Sulitnya ikhlas


__ADS_3

Ayu menatap orang yang memanggilnya. Dia tidak percaya akhirnya bisa bertemu satu-satunya keluarganya yang masih hidup. Iya, dia adalah Tante Meta, adik dari almarhumah ibu kandung Ayu.


"Tante, Ayu senang bisa ketemu sama Tante." Ayu memeluk erat tantenya tersebut. "Bagaimana keadaan, Tante sekarang? Kenapa Tante tidak pernah lagi mengunjungi mama di Bandung?"


"Maafin, Tante, Yu. Sejak Mas Danu menceraikan Tante, kondisi keuangan Tante morat-marit. Jangankan untuk pulang ke Bandung untuk makan sehari-hari saja tante kesulitan," jawab Tante Meta.


"Astaghfirullah, Tante. Kenapa Tante dan Om Danu bercerai? Setahu Ayu, kalian berdua kan saling mencintai?"


"Panjang, Yu, kalau diceritakan. Kamu sendiri kenapa bisa ada di Jakarta? Bagaimana kabar ibumu? Siapa yang merawatnya kalau kamu ada di sini?" Tante Meta menghujani Ayu dengan berbagai macam pertanyaan.


"Ibu sudah meninggal Tante, 3 bulan yang lalu."


"Innalillahi wa inna ilaihi rojiun. Maafin tante ya, Yu. Tante nggak tahu kalau ibumu sudah meninggal."


"Nggak apa-apa kok, Tante. Alhamdulillah, Ayu sudah ikhlas menerima kepergian ibu."


Sekali lagi Meta memeluk keponakannya. "Terus kenapa kamu bisa di Jakarta? Apa sekarang kamu sudah bekerja di kota ini?"


Ayu menatap Nisa canggung. Dia tidak tahu harus memberikan jawaban seperti apa kepada tantenya itu.


"Terus dia siapa, Yu?" Kini Tante Meta juga menanyakan wanita yang berdiri di samping keponakannya tersebut.

__ADS_1


"Namanya Mbak Nisa, Tan. Sekarang aku tinggal bareng Mbak Nisa di kota ini," jawab Ayu. Belum waktunya Ayu memberitahu kepada sang Tante kalau sekarang dia sudah menikah dan menjadi istri kedua dari seseorang.


Meta mengajak Nisa bersalam dan tentu saja disambut dengan baik oleh wanita berhijab itu.


"Meta. Senang berkenalan dengan Anda. Semoga keponakan saya bisa bekerja dengan baik ya di rumah Anda," ujar Tante Meta. Dia mengira jika keponakannya bekerja di rumah wanita itu.


"Tapi, Ayu bukan.... "


"Tante, kapan-kapan kita ketemu lagi di sini ya. Sekarang Ayu pulang dulu. Permisi." Potong Ayu sebelum Nisa menyelesaikan kalimatnya. Dia segera menarik tangan istri pertama dari suaminya tersebut meninggalkan Tante Meta.


*


"Aku nggak mau Tante berpikiran macam-macam Mbak. Pasti Tante Meta akan marah kalau tahu sekarang ini aku jadi istri kedua," jawab Ayu dengan nada sendu. "Sejak dulu Tanteku selalu memiliki prinsip kalau sampai kapan pun dia tidak akan sudi untuk hidup berpoligami. Sebahagia apapun kehidupan poligami pasti tetap akan ada yang merasa tersakiti."


"Dan itulah yang aku rasakan." Jawaban Nisa memaksa Ayu untuk menatap ke arahnya.


"Mbak.... "


"Aku bercanda kok," ralat Nisa. Wanita itu menunjukkan senyum manisnya kepada Ayu. "Pak kita pulang sekarang!" suruh Nisa kepada sopir pribadinya.


"Iya, Nya."

__ADS_1


Mobil pajero berwarna putih itu mulai berjalan meninggalkan area parkir mall, membelah jalanan ibu kota yang semakin penuh sesak dengan kendaraan. Padatnya kendaraan yang tidak diimbangi dengan perluasan jalan membuat kota dengan sebutan kota metropolitan itu sering mengalami macet parah terutama dijam-jam kerja. Tidak ada yang memulai pembicaraan diantara kedua istri tersebut, keduanya sama-sama diam dalam pikiran masing-masing hingga akhirnya mobil yang mereka tumpangi tiba di halaman sebuah rumah.


Kedua istri tersebut sama-sama turun dari mobil. Menurunkan barang belanjaan dengan dibantu oleh sang sopir.


"Maafin aku, ya, Yu. Aku nggak bermaksud nyinggung kamu tadi," ucap Nisa. Dia sudah memutuskan untuk menerima wanita itu sebagai madunya dan seharusnya dia tidak lagi menyinggung soal bagaimana sakitnya diduakan.


"Nggak apa-apa kok, Mbak. Aku ngerti kok. Seikhlas apapun di duakan, tetap saja rasa sakit itu ada."


"Sekali lagi maafin aku, Yu."


Ayu mengangguk.


"Pak bawa semua barang belanjaan itu ke dapur, aku mau langsung ke kamar saja."


"Mbak nggak apa-apa?" tanya Ayu cemas.


"Hanya kecapekan. Aku langsung ke kamar ya."


Nisa meninggalkan Ayu dan sang sopir dengan barang belanjaan mereka. Baru tadi pagi dia sudah berusaha untuk tidak mempermasalahkan keberadaan Ayu dan bertekad akan menganggap wanita itu seperti adiknya. Tetapi, barusan dia malah kembali menyindir Ayu yang dianggap sudah menyakiti hatinya.


"Ya Allah, padahal aku sudah memutuskan menerima keadaan ini. Tapi kenapa kadang hati masih belum merasa ikhlas ya Allah," batin Nisa.

__ADS_1


__ADS_2