Dimadu Karena Wasiat

Dimadu Karena Wasiat
DKW 33 - Harus Kuat


__ADS_3

Nisa menaruh tas miliknya di atas meja. Dia kemudian duduk di depan meja rias sambil melihat pipinya yang berwarna kemerahan akibat ditampar suaminya barusana.


Sakit? Sudah pasti, tapi yang lebih membuatnya sakit adalah luka batin yang pria itu berikan. Selama menjalani biduk rumah tangga dengan Bima, ini pertama kalinya laki-laki itu melakukan kekerasan fisik dan melukai batinnya secara bersamaan. Padahal sebelum menikah, Bima sudah berjanji tidak akan pernah menyakitinya apalagi memukulnya. Tapi, semua janji indah itu ia lupakan sejak ia membawa Ayu ke rumah dan mengenalkan sebagai istri keduanya.


Nisa mengambil dompet dari dalam tasnya dan menatap foto saat pria melamarnya dan meminta Nisa untuk mau menjadi istri.


"Emilia Sarah Ziannisa bersediakah engkau menjadi istriku, ibu dari anak-anakku. Aku berjanji akan selalu menjagamu, tidak akan pernah menyakiti hatimu, apalagi sampai memukulmu." Pinta Bima waktu itu di perjamuan makan malam perusahaannya sambil berlutut dengan cincin berlian di tangan.


"Terima."


"Terima."

__ADS_1


"Terima."


Suara riuh karyawan dan kolega Bima yang menghadiri perjamuan makan malam tersebut.


"Mas, bangun! Jangan seperti ini, malu ah!" suruh Nisa dengan pipi merona.


"Aku tidak akan berdiri sampai kamu menjawab iya," jawab Bima.


Semua mata tertuju pada mereka. Dengan malu-malu Nisa mengangguk dan menjawab, "Aku bersedia, Mas. Aku mau menjadi istrimu dan ibu dari anak-anakmu. Bimbing aku agar aku bisa menjadi makmum yang baik untukmu," jawabnya.


Nisa tersentak dari lamunannya, masa-masa indah sudah lewat bahkan tidak menyisakan bekas sedikit pun. Kenangan indah itu bahkan seperti tidak pernah ada di mata suaminya. Laki-laki itu lebih mempeledulikan perasaan Ayu ketimbang perasaannya.

__ADS_1


Dengan perasaan yang masih diliputi rasa marah dan sakit hati, Nisa mengambil dokumen yang diperlukan untuk menggugat cerai suaminya, seerti buku Nikah, KTP, dan Kartu Keluarga, dia kemudian menelpon nomor pengacara kenalannya. Nisa sudah tidak tahan dengan penderitaan yang diberikan oleh suaminya, dia ingin secepatnya terbebas dari laki-laki yang terus memberikannya luka itu.


"Hallo disini kantor pengacara Syarifudin SH, ada yang bisa kami bantu," suara seseorang dari ujung sana.


"Saya.... "


Nisa tidak melanjutkan ucapannya, bayang-bayang wajah ketiga sahabatnya tiba-tiba muncul dan berputar di kepalanya. Wajah kebingungan dan wajah putus asa ketiga sahabatnya tergambar jelas di pelupuk mata. Nisa tidak sanggup jika benar-benar harus menyaksikan sahabat-sahabatnya terluka. Jika dia nekat menggugat cerai Bima sekarang dan laki-laki itu melaksanakan ancamannya, bagaimana nasib ketiga sahabatnya tersebut? Mereka semua masih membutuhkan pekerjaan itu tidak hanya untuk mereka pribadi, tapi juga untuk seluruh anggota keluarganya.


"Hallo, ini siapa? Bisa kami bantu?" tanya orang diujung sana lagi.


"Ma-maaf, aku salah sambung," jawab Nisa dengan suara bergetar menahan isakan. Dia segera menutup teleponnya tersebut karena tidak mau orang yang diujung sana mencurigainya.

__ADS_1


"Tahan sedikit lagi, Nis. Kamu pasti kuat! Kamu pasti bisa melewati ini semua. Kamu sudah berhasil masuk di perusahaan besar itu, tingkatkan kemampuanmu agar kamu bisa merekomendasikan semua temanmu untuk bisa diterima di perusahaan itu. Kamu bisa, Nis dan harus bisa!" Kembali Nisa menyemangati dirinya untuk tetap bisa tetap kuat dan selalu kuat dalam menjalani ini karena memang hanya itu yang bisa ia lakukan sekarang.


Nisa menyimpan kembali dokumen yang baru saja diambilnya ke dalam lemari. Dia kemudian meringkuk di atas tempat tidur.


__ADS_2