Dimadu Karena Wasiat

Dimadu Karena Wasiat
DKW 74


__ADS_3

"Iya, aku kemarin menghubungi detektif untuk mencari keberadaan Nisa," jawab Bima sambil mengambil telepon genggamnya dari tangan Ayu.


"Kenapa sampai harus sewa detrktif, Mas?"


Mendengar pertanyaan Ayu, Bima memberikan tatapan tajam kepadanya.


"Mak-maksudku memangnya Mas Bima nggak bisa mengira-ngira kemana Mbak Nisa pergi?" ralat Ayu.


"Kalau aku tahu, pasti Nisa sudah ada di sini," jawab Bima agak kesal. "Atau jangan-jangan kamu memang menginginkan Nisa tidak pernah kembali ke rumah?"


Melihat kekesalan di wajah Bima, Ayu segera meminta maaf karena bagaimanapun tujuannya untuk menguras harta suaminya itu belum terpenuhi.


"Bu-bukan begitu, Mas," jawab Ayu gugup. "Maafkan aku ya, Mas. Aku juga sama kok ingin Mbak Nisa cepat kembali ke rumah ini. Ya sudah ya, Mas. Jangan marah lagi, aku selalu berdoa kok agar Mbak Nisa bisa secepatnya kembali ke rumah ini."


"Hm," jawab Bima.


"Sekarang antar aku ke dokter kandungan langgananku yuk! Aku mau memeriksakan kondisi janin kita ini!" ajak Ayu. Dia tahu kelemahan Bima saat ini hanya kehamilan palsunya tersebut.


"Baiklah. Ayo, aku juga sudah tidak sabar ingin melihat perkembangan anak kita," jawab Bima.


Keduanya kemudian keluar dari rumah dan langsung naik ke dalam mobil. Di tengah perjalanan tiba-tiba terlintas di otak Bima untuk mengetes kejujuran Ayu tentang kehamilannya tersebutn


"Jika semua yang ditampilkan Ayu selama beberapa bulan ini adalah palsu, mungkin kah kehamilan Ayu ini juga palsu?" Bima membantin sambil menyetir. Diam-diam dia memperhatikan bentuk tubuh Ayu yang menurutnya tidak ada perubahan.


"Ya Allah semoga kali ini kecurigaanku tidak benar. Setidaknya ada sesuatu yang bisa aku percayai dari istri keduaku ini," batin Bima lagi.


Bima sengaja membawa Ayu ke dokter kandungan yang lain.


"Lho, Mas, ini kan bukan jalan menuju ke dokter kandungan langgananku," protes Ayu ketika Bima ke arah jalan lain.


"Kebetulan setelah ini aku ada meeting di sekitar sini. Jadi, sekalian saja kita periksakan kandunganmu ke dokter kandungan kenalanku," jawab Bima. "Kebetulan dia praktek disekitar jalan ini."


"E... Kalau Mas Bima memang sibuk dan ada meeting penting, aku bisa kok ke dokter kandungan sendiri," ujar Ayu. Dia terlihat gugup dan gelisah.


"Tidak apa-apa, Yu. Aku juga kan ingin melihat perkembangan calon anak kita ini." Bima menatap Ayu sambil tersenyum.


"M-Mas Bima kan bisa melihatnya lain kali. Lagian aku nggak enak Mas kalau harus ngebatalin janji sama dokter kandunganku itu." Kembali Ayu beralasan. "Dia pasti sudah menungguku sekarang."


Bima kembali menatap Ayu. "Semakin kamu berusaha menghindari ajakanku, semakin aku yakin pasti ada sesuatu yang kamu sembunyikan tentang kehamilanmu," batin Bima.

__ADS_1


"Mas."


"Tanggung, Yu. Tuh klinik dokter kandungan kenalanku udah terlihat." Bima menunjuk sebuah klinik yang tidak jauh dari tempatnya berada sekarang.


"Tapi.... "


"Yu, kan sama-sama dokter kandungan. Jadi, nggak masalah lah menurutku. Aku sudah sangat tidak sabar melihat perkembangan calon anakku ini." Tak mau membuat Ayu curiga Bima tetap memasang wajah penuh senyum dengan satu tangan mengusap perut datar Ayu.


"Aduh, bagaimana ini? Bagaimana kalau kehamilan palsuku ini ketahuan?" batin Ayu. Dia terlihat semakin gelisah ketika mobil yang dikendarai Bima itu memasuki halaman klinik.


"Ayo, Sayang. Kita turun!" ajak Bima.


"I-i-iya, Mas," jawab Ayu tegang.


"Kok wajah kamu tegang gitu sih Sayang? Ada apa?"


"Tidak... tidak apa-apa, Mas," jawab Ayu.


Meskipun tegang, Ayu tetap ikut turun dari dalam mobil mengikuti suaminya.


***


"Saya heran apa ya yang membuat Pak Angga memperlakukan Mbak Nisa itu spesial? Sampai-sampai demi wanita itu Pak Angga rela berbohong jika rumah yang ditempati oleh wanita itu adalah rumah orang yang sedang berada di luar negeri. Padahal kita semua kan tahu bahwa seluruh perumahan yang ada di komplek ini adalah rumah milik Pak Angga."


"Iya, ya. Padahal aku dengar Pak Angga sudah punya calon tunangan. Kira-kira kedekatan Pak Angga sama Mbak Nisa ini bakalan bikin kita ikutan kena masalah gak ya kalau Tuan dan Nyonya besar tahu?"


"Semoga saja enggak. Kalau sampai kita juga kena, mau dikasih makan apa anak-anak kita."


"Begini nih nasib bawahan, selalu serba salah."


Itulah pembicaraan yang tanpa sengaja Nisa dengar. Para Satpam itu langsung terdiam ketika melihat keberadaan Nisa yang tidak jauh dari tempatnya.


"Maaf, Pak. Apa benar yang saya dengar barusan kalau semua rumah di komplek ini adalah milik Pak Angga?" tanya Nisa memastikan.


Kedua Satpam yang sedang berjaga itu saling tatap.


"Tanpa kalian menjawab pun saya sudah tahu jawabannya dari sikap kalian ini."


"Mbak, tolong jangan bilang sama Pak Angga ya. Kalau Anda mendengar itu dari kami. Kami takut Pak Angga marah karena kami sebenarnya disuruh merahasiakan ini dari Anda!" pinta salah satu dari satpam tersebut.

__ADS_1


"Jangan khawatir. Aku nggak akan bilang apapun soal ini," jawab Nisa.


*


Nisa mengepak kembali barang-barangnya ke dalam koper. Dia tidak mau membuat masalah untuk Angga dan orang-orang yang bekerja pada Angga itu.


"Lho Nyonya Nisa mau kemana?" tanya Ibu Rumi.


"E... Saya mau pindah dari sini, Bu."


"Memangnya kenapa, Nyonya? Apa Tuan Angga sudah tahu?" tanya Bik Rumi lagi.


"Sudah, dia sudah tahu kok. Dia bahkan sudah memberiku izin," jawab Nisa berbohong. Dia tidak mau Bik Rumi memberitahu Angga tentang kepergiannya saat ini.


"Kok aneh? Kalau Tuan Angga sudah tahu Anda akan pindah kenapa Tuan Angga malah menyuruh saya kemari?" tanya Bik Rumi bingung.


"E... itu karena saya minta izinnya baru saja," jawab Nisa.


"Ohya Nyonya, memangnya Nyona mau pindah kemana?"


"Ke rumah saudara," jawab Nisa. "Sudah ya Bu Rumi, saya pamit. Assalammualaikum," pamit Nisa kemudian.


"Waalaikummussalam," jawab Bik Rumi.


Nisa menyeret kopernya sampai di ke depan rumah karena taksi yang ia pesan sudah menunggunya.


Selang beberapa menit taksi yang membawa Nisa itu pergi, Angga datang ke rumah Nisa. Dia langsung menerobos masuk ke dalam rumah untuk mencari keberadaan Nisa.


"Bu Rumi dimana Nisa?" tanya Angga kepada asisten rumah tangga itu.


"Baru saja dia pergi," jawab Bik Rumi.


"Pergi? Kemana? Kenapa Bu Rumi nggak ngasih tahu aku?"


"Lho... kata Nyonya Nisa, dia sudah berpamitan dengan Pak Angga."


"Kapan dia pergi?" tanya Angga lagi.


"Sekitar sepuluh menit yang lalu."

__ADS_1


Mendengar jawaban itu, Angga segera keluar dari rumah itu dan naik ke dalam mobilnya lagi untuk mencari keberadaan Nisa.


__ADS_2