Dimadu Karena Wasiat

Dimadu Karena Wasiat
DKW 22 - Kamu berubah, Mas.


__ADS_3

Hari itu adalah jadwal Nisa memeriksakan kandungannya. Seperti pada pemeriksaan sebelumnya, Bima masih tetap mendampingi istri pertamanya tersebut ke dokter seolah tidak sedang terjadi masalah pada rumah tangga keduanya.


"Calon bayi dan ibunya sehat," ucap Sang Dokter setelah selesai memeriksa. "Karena Nyonya Nisa sering mengalami kram perut, saya akan tetap berikan pil penguat kandungan. Diusahakan ya Pak agar istri Anda tidak stres dan tidak melakukan kegiatan yang menguras tenaga," tambah Sang Doktwr sambil menulis resep.


"Baik, Dok. Saya akan menjaga istri dan calon anak saya dengan baik." Bima mengusap perut Nisa dengan lembut.


"Ini, Pak, resepnya. Silakan ditebus di apotek." Sang Dokter memberikan selembar kertas berisi resep kepada Bima.


"Terima kasih, Dok," ucap Bima. Dia kemudian membawa istrinya pergi dari sana.


*


"Kamu dengar kan, Nis. Dokter menyuruhmu untuk tidak stres dan tidak melakukan kegiatan yang menguras tenaga. Jadi, mulai sekarang serahkan urusan rumah tangga ke Ayu. Biarkan dia yang mengatur keuangan rumah dan dapur dan kamu cukup memegang uangmu sendiri," kata Bima ketika dia dan istrinya sudah duduk di dalam mobil.

__ADS_1


Nisa menghela napas panjangnya, dia kemudian sedikit menyerongkan tubuhnya ke hadapan Bima agar bisa berbicara sambil menatap wajah suaminya tersebut.


"Mas tahu apa yang membuatku stres akhir-akhir ini? Kelakuanmu, Mas."


"Nis, aku tidak mau bertengkar denganmu ya."


"Aku juga tidak ingin bertengkar denganmu, Mas!" teriak Nisa. "Aku lelah dengan semua ini, Mas. Dan aku sudah tidak sanggup lagi untuk tetap berada di sisimu, jadi, aku mohon, jika kamu masih ingin melanjutkan rencanamu untuk melegalkan pernikahanmu dengan Ayu, ceraikan aku! Aku tidak akan menuntut apa pun padamu, Mas. Dan aku janji kapan pun kamu ingin bertemu dengan anakmu, aku tidak akan melarangnya," ucap Nisa diiringi dengan isakan.


"Turunkan aku di sini, Mas!" pinta Nisa ketika mereka melewati taman kota.


"Tidak akan, aku akan mengantarmu pulang."


"Mas, tolong turunkan aku di sini. Aku hanya butuh waktu untuk menenangkan diri. Aku janji setelah hatiku tenang, aku akan pulang dan memberikan keputusanku!" pinta Nisa.

__ADS_1


Bima menarik napas sebentar kemudian menghembuskannya. "Janji kamu akan pulang?" tanyanya sambil menatap istri pertamanya tersebut.


"Aku janji, Mas," jawab Nisa.


"Baiklah. Aku izinkan kamu jalan-jalan sebentar." Bima menepikan mobilnya. "Ingat jangan coba-coba untuk kabur karena nasib ketiga sahabatmu ada di tanganmu!" ancam Bima.


Nisa mengangguk, dia kemudian keluar dari mobil suaminya tanpa mengatakan sepatah kata pun.


"Jika kamu sudah cukup tenang, hubungi aku. Aku akan menjemputmu," ujar Bima setelah itu ia melanjutkan perjalanannya kembali.


Nisa menatap nanar mobil suaminya yang semakin menjauh. Dia masih tidak percaya jika suami yang dulu begitu perhatian dan peduli akan perasaannya berubah menjadi suami yang memaksakan kehendak dan tidak berperasaan yang hanya mementingkan egonya sendiri.


"Kamu sudah berubah, Mas. Kamu sudah tidak seperti dulu lagi," batin Nisa. Dia rindu dengan suaminya yang dulu. Suami yang selalu peduli dengan perasaannya dan tidak pernah membiarkannya mengeluarkan air mata. Bima juga tidak pernah membentak apa lagi mengancamnya. Sebesar itu kah pengaruh istri keduanya hingga membuat suaminya melupakan segala janji yang pernah ia ikrarkan dulu. Janji yang akan selalu membuatnya bahagia dan tidak akan pernah menduakan cintanya.

__ADS_1


__ADS_2