
Wanita tua itu terjatuh dengan bersimbah darah, tembakan Rio tepat mengenai dada sebelah kanan bi Imas dan membuat wanita itu tidak berdaya, dengan cepat Sam menahan tubuh wanita yang sangat ia sayangi itu.
"Bi Imas, kenapa Bibi melakukan itu? Kenapa? Bertahanlah aku akan membawa Bibi ke rumah sakit," Sam tampak panik, tentu saja pria itu menjatuhkan air matanya tatkala melihat tubuh sang pengasuh terjatuh. Rupanya tembakan itu membuat bi Imas tidak bisa bertahan lagi, perlahan Ia menutup kedua matanya, sebelum bi Imas menutup matanya ia terdengar berkata kepada Sam dengan sangat lemah, "Maafkan Bibi ...!!"
Kepala bi Imas terkulai lemas, tubuhnya juga tidak merespon, Sam langsung memeriksa denyut nadi bi Imas, tidak ada detak jantung di sana, dan nafas bi Imas pun berhenti, seketika Sam berteriak sekencang kencangnya sambil menyebut nama sang pengasuh yang sudah merawatnya sedari kecil.
"Bibiiiii ... haaaaaaaa!!!"
Diora dan Norman tampak terkejut ternyata bi Imas sudah tidak bisa diselamatkan lagi. Sementara di ujung sana, Rio melihat bi Imas yang sudah tidak berdaya karena dirinya, tubuhnya diam dan ia masih memegang senjata itu di tangannya.
Sam pun menangis sejadi-jadinya sembari memeluk jasad bi Imas, sungguh ia sangat kehilangan bi Imas, meskipun wanita itu telah melakukan kesalahan, tapi Sam tetap menyayanginya dan tidak akan pernah membencinya.
Sam sangat marah kepada Rio yang sudah menembak bi Imas, perlahan Sam meletakkan kepala bi Imas dengan pelan, setelah itu Ia bangkit dengan mengepalkan kedua tangannya, ia menghadap ke arah Rio yang saat itu sedang berdiri mematung melihat sang Bibi yang sudah berpulang ke pangkuan Nya.
__ADS_1
"Kau lihat! Sekarang kau puas? Kau sudah melenyapkan nyawa orang yang sangat aku sayangi dan sekarang aku juga yang akan memberikan pelajaran untukmu!" Sam tampak mengambil senjata yang ia simpan di balik bajunya, sebuah pistol yang akan ia tembakkan ke arah Rio, Sam sudah sangat kalap dan tidak bisa mengontrol emosinya.
"Sam! Jangan lakukan itu, itu artinya kamu akan menjadi pembunuh, ingat Sam! Ada Naura yang sedang menunggumu di rumah, apa kau sudah lupa jika ada seorang bayi sedang menanti untuk bertemu dengan Ayahnya!" bisik Diora kepada Sam. Untuk sejenak Sam menghela nafasnya dan menurunkan senjatanya.
Di saat Sam baru saja menurunkan senjatanya, tiba-tiba terdengar suara tembakan dari arah Rio.
"Haaaaa ... tidaaakkkkk!!" Diora berteriak sekeras-kerasnya sambil menutupi kedua matanya saat melihat Rio menembak kepalanya sendiri.
Sam dan Norman tercengang melihat kenekatan Rio untuk membunuh dirinya sendiri dengan menembak kepalanya. Dengan cepat, Sam dan Norman berlari ke arah Rio yang sudah terkapar di lantai dengan darah yang mengalir dari kepalanya, matanya terbuka dan Rio pun sudah tidak bernyawa lagi.
"Ya Tuhan! Semoga Engkau mengampuni Rio, meskipun ia sudah jahat kepadaku, tapi Rio masih berjasa kepadaku, dia yang selalu menyemangati ku untuk mendapatkan Naura dan dia juga yang meyakinkan aku jika Naura adalah cintaku, selamat jalan Rio, semoga kamu dan bi Imas bisa bahagia di sisi Nya," Sam menutup kedua mata Rio, tak berselang lama petugas kepolisian dan ambulance datang ke tempat itu, Sam melihat jasad bi Imas yang dibawa ke dalam mobil ambulance, di susul jenazah Rio yang juga dibawa ke mobil ambulance.
Sementara di rumah, Naura tampak menunggu kedatangan sang suami hingga tak terasa dirinya tertidur di sebuah kursi. Seolah-olah Naura didatangi oleh bi Imas dan mengatakan jika Sam dan Norman baik-baik saja, dan bi Imas pun berkata agar Naura menjaga kandungannya baik-baik, tentu saja Naura terkejut kenapa bi Imas berkata demikian.
__ADS_1
"Nyonya Naura! Tuan Sam dan Kakak Anda baik-baik saja, Bibi pamit dulu! Jaga kandungan Anda baik-baik, Bibi yakin kelak putra Anda akan menjadi seorang yang hebat seperti Ayahnya,"
"Bi Imas mau kemana? Memangnya bi Imas tidak ingin melihat anak kami? Bukankah bi Imas sangat menginginkan kelahiran putra kami?"
"Maafkan saya, Nyonya! Saya harus pergi, tugas saya sudah selesai, Tuan Sam pasti akan bahagia bersama Anda dan saya ikhlas melepaskan Tuan Sam hidup bersama Anda. Saya pergi dulu, selamat tinggal!"
"Bi Imas! Bi Imas ... tunggu!"
Seketika Naura membuka matanya dan Ia memperhatikan sekeliling sambil memanggil nama bi Imas.
"Bi Imas! Bi ... bi Imas??"
Nyatanya tidak ada siapapun, rupanya Naura sepertinya sedang bermimpi, tapi mimpi itu terlihat sangat nyata.
__ADS_1
"Kok bi Imas nggak ada? Apa ini cuma mimpi? Tapi aku benar-benar berbicara dengan bi Imas tadi!" ucapnya sambil berpikir keras, apa benar dirinya sedang bermimpi.
...BERSAMBUNG...