
"Aku jadi teringat Almarhum Kakak, suara Mas Ji mirip sekali dengan suaranya, nggak tahu kenapa aku serasa sedang bertemu dengan kakakku. Maaf! Jika aku terlalu berlebihan." Naura menundukkan wajahnya karena dirinya tentu saja sangat merindukan sosok Kakak yang selama ini selalu menyayangi dan melindunginya. Sam memeluk istrinya dan berusaha menenangkan.
"Sudah, tidak apa-apa. Aku bisa mengerti, sekarang sudah ada suamimu, aku yang akan selalu melindungimu, kakakmu sudah tenang di sana, kita doakan saja semoga semua ini cepat terungkap." Sam mencium kening sang istri, sementara itu entah kenapa Mas Ji tiba-tiba ikut terharu melihat Naura yang sedang bersedih, ada setitik air mata yang jatuh pada sudut mata pria itu.
"Andai saja kalian tahu." Sebuah kalimat yang ada dalam hati sopir baru Sam tersedak.
Sementara di sisi lain, bi Imas hanya bisa memperhatikan dari jauh, saat mereka bertemu dengan sopir baru itu. "Mungkin ini satu-satunya cara agar Nyonya bisa memaafkan ku, semoga saja mereka bisa berkumpul kembali, aku berharap dia tidak marah karena aku menyelamatkan Norman dari kecelakaan itu, karena sebenarnya pria itu tidak bersalah." Bi Imas membatin dibalik sebuah dinding.
"Jangan celakai Tuan muda, bagaimana pun juga dia sudah sangat baik kepada kita," tukas bi Imas kepada keponakannya.
__ADS_1
"Tapi dia sudah membuat ku sakit hati, Bi. Dia sudah berani merebut perhatian Diora dariku, aku sangat membenci keduanya, aku pasti akan membalaskan rasa sakit hati ini kepada mereka berdua, apalagi sekarang Diora memiliki kekasih baru, aku tidak ingin siapapun bisa mendekati dan memiliki Diora, jika Diora tidak bisa menjadi milikku, maka dia juga tidak bisa menjadi milik pria lain,"
"Aku tahu itu tapi tolong! Aku tidak setuju jika kamu mencelakai Tuan muda lagi, cukup kamu sudah membuat Tuan muda menjadi rusak wajahnya dan ditinggal oleh Nona Diora, aku sangat menyayanginya seperti aku menyayangimu."
"Jika Bibi menyayangi ku, tolong lakukan sesuatu untukku, aku keponakan bibi yang sesungguhnya, bukan Samuel Alfonso. Aku mohon, Bi! Bantu aku untuk membalas perlakuan mereka semua. Jika Bibi tidak mau membantuku, maka untuk apa lagi aku hidup di dunia ini, lebih baik aku mati."
Pria itu berkata kepada bi Imas sembari membisikkan sesuatu pada telinga sang bibi.
Mendengar apa yang dibisikkan oleh sang keponakan, bi Imas sedikit berfikir, apa salahnya jika dia melakukannya, karena bi Imas juga sangat tidak suka kepada Diora, wanita itu sudah menyakiti dua orang yang disayangi nya, Sam dan keponakannya sendiri.
__ADS_1
"Baiklah! Itu bisa diatur!"
Sejenak bi Imas menghela nafas panjang, ia masih teringat akan percakapan nya dengan sang keponakan yang mendapat penolakan dari Diora, sehingga sang keponakan merasa dendam kepada siapapun yang mendekati wanita yang dicintainya itu, termasuk kepada Sam dan Norman.
Bi Imas yang sangat menyayangi Sam dan keponakannya, ia pun tidak akan membiarkan wanita yang sudah menyakiti dua orang yang disayanginya itu menderita, bi Imas pun bisa berbuat kejam jika melihat Sam atau keponakannya disakiti orang lain. Dan suatu ketika bi Imas menyuruh orang untuk memotong kabel rem mobil Diora, dan berharap wanita itu lenyap sehingga Ia bisa lega sudah membalas dendam atas rasa sakit hati Sam dan sang keponakan yang mencintainya. Namun, rupanya perhitungan bi Imas salah, bukan Diora yang mengendarai mobil yang sudah dipotong kabelnya itu. Ada seorang pria tak bersalah yang mengendarai mobil naas itu, dan dengan cepat bi Imas menyuruh anak buahnya untuk membuntuti mobil Diora yang dikendarai oleh Norman.
Rasa kemanusiaan bi Imas masih tergerak tatkala ia mendapat kabar jika mobil itu bukan Diora yang mengendarai, tapi seorang pria bernama Norman. Setelah mobil itu masuk ke dalam jurang, anak buah bi Imas segera turun untuk melihat keadaan Norman. Ternyata Tuhan masih menyayangi Norman, pria itu selamat meskipun mengalami luka parah, dan anak buah bi Imas mengganti tubuh Norman dengan orang lain.
...BERSAMBUNG...
__ADS_1