Dinikahi Tuan Muda Buruk Rupa

Dinikahi Tuan Muda Buruk Rupa
Telepon dari bi Imas


__ADS_3

Sementara itu di rumah sakit, Diora menunggu dokter yang saat itu sedang menangani sopir Sam, wanita itu terlihat cemas, ia terlihat mondar-mandir dengan keselamatan pria itu.


"Ya Tuhan! Semoga saja pria itu tidak apa-apa, kasihan sekali, apa sebaiknya aku menghubungi keluarganya, tapi bagaimana aku menghubungi keluarganya?" Diora terlihat bingung, bagaimana keluarga pria itu bisa tahu jika dirinya tidak memiliki identitasnya, pucuk dicinta ulam pun bisa, tiba-tiba seorang perawat datang menghampiri Diora dan menyerahkan dompet dan ponsel milik sopir itu.


"Permisi, Mbak! Kami menemukan ini di pakaian korban, mohon diterima barangkali ada keluarga yang bisa dihubungi." Melihat sang perawat memberikan dua benda itu, rasanya cukup bagi Diora untuk menghubungi keluarga pria itu yang diketahui bernama Sujiwo.


"Oh terima kasih, Sus!" balas Diora sembari menerima ponsel dan dompet milik Mas Ji.


Sembari menunggu informasi dari polisi tentang siapa yang sudah menyerangnya, setidaknya Diora juga akan menghubungi keluarga pria tak berdosa itu, Ia pun duduk di kursi tunggu sambil membuka dompet milik Mas Ji dan Diora berharap bisa menemukan alamat keluarga Mas Ji.

__ADS_1


Setelah Diora mengambil tanda pengenal milik Sujiwo, sejenak Ia menatap wajah pada foto itu, Diora mengerutkan keningnya, mengapa wajah pria itu sekilas mirip sekali dengan Norman, sang pacar. Kilas balik, Diora menjadi teringat dengan almarhum sang kekasih, untuk sejenak ia bersedih jika mengingat saat-saat mereka sedang memadu kasih.


"Norman! Kenapa wajah pria ini mirip sekali dengan wajah Norman? Dan juga suaranya? Ya Tuhan! Mungkin saja aku sedang bermimpi, aku terlalu mengharapkan Norman masih ada, tapi sebenarnya dia sudah pergi jauh dariku," lirih Diora sembari melihat foto di tanda pengenal milik Sujiwo.


Tidak ingin terlalu bersedih, Diora segera melihat nomor yang bisa dihubungi, tiba-tiba saja Diora mendapati ponsel milik Mas Ji berdering, dan Diora melihat jika itu tertera nomor bi Imas yang sedang menghubunginya.


Diora menekan tombol yes dan setelah itu ia menempelkan ponsel milik Mas Ji di telinganya, belum sampai Diora mengatakan halo, rupanya seseorang sudah terlebih dahulu mengatakannya.


"Halo, Sujiwo! Kamu di mana sekarang? Kenapa kamu tidak mengantar Tuan Sam pulang? Dia tadi pulang bersama asisten Yan, kamu baik-baik saja, kan? Aku berharap kamu tidak pergi jauh-jauh, ingat! Saudarimu ada di rumah Tuan Sam, dan aku berharap kamu segera mengingat masa lalumu dengan bertemu dengan Nyonya Naura, karena dia adalah adikmu!!" mendengar itu seketika Diora lemas dan membiarkan ponsel itu terjatuh.

__ADS_1


"Halo! Halo! Jiwo, Jiwo halo ... !" bi Imas tampak semakin cemas, bagaimana Norman tidak berkata apapun, ia hanya diam dan setelah itu telepon itu terputus.


"Ya Tuhan! Semoga saja Norman tidak kenapa-kenapa, aku sangat khawatir sekali." Bi Imas terlihat begitu cemas, ia pun memerintahkan beberapa orang suruhannya untuk mencari keberadaan Norman, dan semoga saja sang keponakan tidak mengetahui rahasia sebenarnya tentang sopir pribadi Samuel Alfonso.


Di sisi lain, Diora tidak bisa berkata apa-apa, apa yang ia dengar dari bi Imas adalah sesuatu yang membuatnya sangat terkejut dan shok.


"Norman! Jadi benar pria itu adalah Norman, kakaknya Naura!" seakan tak percaya, Diora mendapati kabar jika sang kekasih masih hidup. Dan ternyata selama ini Norman mengalami amnesia, pantas saja Diora sangat mengenali suara itu, dan itu memang tidak salah, itu adalah suara Norman, kekasihnya.


...BERSAMBUNG...

__ADS_1


__ADS_2