
"Kamu pergi? Terus aku bagaimana? Aku ikut! Pokoknya aku mau ikut." Rengek Naura yang memaksa dirinya untuk ikut serta dengan Sam.
"Itu ngga mungkin, Naura! Aku tidak mau membahayakan mu, karena pastinya apa yang kulakukan ini sangat beresiko, aku ingin kamu tetap aman di sini, dan kamu tenang saja, aku pasti pulang, tidak mungkin aku biarkan kamu menungguku terlalu lama, karena pastinya aku juga sangat merindukanmu." Sam berkata dengan tatapan mata yang sendu.
"Kenapa kamu harus pergi, Sam! Apa tidak bisa diwakilkan oleh asisten kamu, atau orang kepercayaan kamu. Plis Sam! Bagaimana nanti jika malam hari terus ada hujan petir, siapa yang memelukku, kamu tega aku peluk guling dan bantal." Naura tampak memukuli dada sang suami. Sam tersenyum dan berusaha untuk menenangkan istrinya.
"Tidak akan ada hujan atau petir, selama aku tidak ada di sini, petir tidak akan berani menakutimu, ada Bi Imas yang akan bersamamu, Bi Imas sudah kuanggap seperti keluarga ku sendiri, sesampainya di sana aku akan segera menghubungimu. Aku akan selalu mengabarkan tentang diriku. Jadi, kamu tidak perlu khawatir, ya! Semua ini demi kita juga. Aku, kamu dan anak-anak kita.
Naura pun akhirnya mencoba menerima keputusan sang suami, bagaimana pun juga Sam bukan orang sembarangan, sudah resiko bagi Naura menjadi istri seorang konglomerat. Ia harus rela ditinggalkan untuk urusan bisnis suaminya.
Hingga akhirnya Naura meminta sesuatu kepada Sam untuk dipertemukan dengan kedua orang tuanya, karena selama menikah, Naura belum pernah bertemu dengan kedua orang tuanya sama sekali, Ia pun juga meminta izin untuk berkunjung ke makam kakak kandungnya yang meninggal beberapa tahun yang lalu. Naura bukanlah anak satu-satunya pasangan Pak Surya dan Bu Lani, Naura memiliki seorang kakak laki-laki yang meninggal dua tahun yang lalu karena sebuah tragedi yang membuat Naura sampai sekarang tidak bisa melupakan kematian kakak laki-lakinya itu.
"Sam!" seru Naura sembari beranjak turun dari pangkuan sang Suami, Ia pun duduk di samping suaminya sembari menyandarkan kepalanya pada pundak Sam. Keduanya bersembunyi di balik selimut yang menutupi tubuh mereka.
"Ada apa?" tanya Sam sambil menoleh ke arah istrinya.
__ADS_1
"Bolehkah aku bertemu dengan Ayah dan Ibu? Aku sangat merindukan mereka."
Mendengar ucapan dari istrinya, Sam meraih tangan Naura dan menggenggamnya erat sembari berkata, "Tentu saja! Bagaimana bisa aku menolaknya, aku sangat beruntung bisa bertemu dengan ayahmu, dan aku sangat bersyukur jika ayahmu memiliki hutang kepada Mister Rogi." Ucap Sam yang seketika membuat Naura menatapnya sinis.
"Maksud kamu?" Naura bertanya dengan tatapan yang tajam. Sementara itu Sam tampak tersenyum melihat ekspresi wajah sang istri yang begitu terkejut. Ia pun mencium tangan istrinya kemudian berkata, "Kamu tahu! Jika bukan karena ayah memiliki hutang kepada Mister Rogi, mana mungkin kita bisa bertemu, dan mana mungkin ayah menukar dirimu padaku demi bisa melunasi hutang-hutangnya kepada Mister Rogi."
Sejenak Naura tertawa kecil dan teringat dengan asal muasal mereka bertemu dan menikah.
"Hmm ... iya! Dan ketika aku bertemu denganmu, kamu tuh menyebalkan banget, udah jelek belagu lagi." Ungkap Naura sembari menatap nakal wajah suaminya.
"Apa kamu bilang? Aku jelek? Ya ya aku memang jelek dan mengerikan. Kalau aku jelek kenapa kamu mau?" tanya Sam dengan tatapan matanya yang mulai liar.
"Yang jelek kan cuma mukanya doang, tapi yang lainnya sangat bagus, dan aku sangat tergila-gila." Balas Naura sembari memeluk Sam.
"Yang lainnya? Apa maksudmu dengan yang lainnya dariku?" tanya Sam saat Naura memeluknya. Kemudian Naura melepaskan pelukannya dan menatap wajah sang suami dalam-dalam.
__ADS_1
"Yang lainnya adalah matamu, dadamu, lenganmu, tanganmu, bentuk tubuhmu yang sangat sempurna, dan paling istimewa adalah hatimu, kamu sudah berhasil mencuri hatiku hai pria buruk rupa, apapun yang kamu sentuh semua terasa hidup dan terasa bergetar." Ungkap Naura yang membuat Sam tersenyum smirk.
"Oh ya! Sentuhan ku yang mana? Aku sudah banyak menyentuh dirimu."
Mendengar ucapan dari sang suami, Naura meletakkan tangan Sam pada dada sebelah kiri miliknya, di mana debaran jantung itu begitu terasa.
"Di sini! Kamu sudah menyentuh hatiku, Sam! Dalam Jantungku hanya ada namamu dan tak akan pernah tergantikan oleh siapapun." Seru Naura yang semakin membuat Sam tergila-gila padanya.
"Ohhh di situ, aku kira sentuhan ku yang mana, aku pikir ada di tempat lain," sahut Sam menyeringai. Naura pun tersenyum malu karena ia tahu di mana yang Sam maksud.
"Iya ... sentuhan kamu yang di sinj juga tak kalah membuatku tergila-gila," jawab Naura sembari meletakkan tangan sang suami pindah ke tempat yang dimaksudkan.
Sam menyeringai dan Ia kembali menggelitik tempat itu dengan lembut.
...BERSAMBUNG...
__ADS_1