
Kini posisi keduanya saling berhadapan dengan Naura yang duduk di atas pangkuan suaminya, tidak ada penolakan dari Naura, yang ada hanya tatapan mata keduanya yang saling bertemu. Kali ini Naura berhadapan langsung dengan wajah tampan suaminya, Naura tampak menundukkan wajahnya karena malu, namun rupanya Sam memiliki cara yang sangat ampuh untuk membuat sang istri kembali ke dalam pelukannya. Pria itu meminta izin kepada Naura untuk memeluknya.
"Maaf jika aku membuatmu merasa tidak nyaman, aku hanya ingin kamu memelukku,maukah kamu melakukannya?" rengek pria itu dengan wajah memelas, Naura teringat akan ucapan dokter jika dirinya tidak boleh membuat suaminya semakin tertekan, Naura harus bisa membantu Sam melewati masa-masa sulit untuk mengingat memori yang hilang beberapa hari yang lalu.
"Iya tentu saja!" balas Naura dengan tatapan matanya yang mengatakan jika dirinya juga sangat menginginkannya. Sam tersenyum dan akhirnya Ia bisa merasakan kembali pelukan istrinya yang beberapa hari ini tidak ia rasakan.
Naura memeluk Sam dengan mesra, kedua tangan Naura berada pada leher sang suami, sementara kepala Sam berada dalam dada sang istri, tentu saja Sam bisa mendengar suara debaran jantung Naura yang terasa begitu kencang dengan sangat jelas.
"Kamu gugup?" pertanyaan itu tiba-tiba mengagetkan Naura yang saat itu sedang menahan hasratnya. Naura melepaskan pelukannya dan menatap dalam-dalam bola mata sang suami.
Entah apa yang terjadi saat itu, rasa cinta yang mengalahkan segalanya membuat Naura lupa jika dirinya masih memiliki perasaan kesal kepada Sam, rasa sayang yang teramat besar mengalahkan rasa bencinya kepada sang suami, mulut berkata tidak tapi hati tak bisa dibohongi. Naura juga sangat merindukan suaminya, apalagi ada janin yang tumbuh dalam rahimnya, yang pastinya membuat Naura kian ingin dekat dengan ayah dari bayi yang sedang dikandungnya.
__ADS_1
Hingga tak terasa bibir itu saling bersentuhan, apalah daya jika perasaan cinta mengalahkan segala kebencian, Sam menyentuh bibir itu dengan sangat mesra, seiring keduanya yang mulai terbakar gelora asmara.
Pagi yang manis itu, terasa begitu panas bagi dua insan yang sedang terbakar dalam asmara, Naura terlihat begitu menikmati setiap sentuhan yang diberikan oleh sang suami. Begitu juga dengan Sam, yang tentunya dirinya berharap setelah kejadian ini tidak ada lagi rahasia di antara mereka.
Naura membusungkan dadanya, tatkala kecupan mesra itu menjelajahi dua perbukitan yang sangat menantang itu.
"Ahhh ... Sam!!" desaahan manja itu lolos begitu saja tanpa filter, terdengar begitu indah dan sangat membantu jiwa Sam untuk melakukan sesuatu yang lebih dalam lagi.
Disela-sela mereka memadu kasih, tiba-tiba Sam membisikkan sesuatu pada telinga sang istri. "Apa kamu mencintaiku?" tanyanya lembut.
"Hmm ... sangat!!" jawab Naura sembari terus bergerak lembut.
__ADS_1
"Katakan padaku! Apa kamu ingin meninggalkanku?" tanyanya lagi.
"Kamu sudah gila, Sam! Mana mungkin aku meninggalkanmu. Itu tidak benar, aku tidak akan meninggalkanmu, sampai kapanpun aku akan selalu bersamamu." Akhirnya, jawaban yang sangat ditunggu-tunggu oleh pria itu, Sam tersenyum dan sejenak menghentikan gerakan Naura. Kemudian Sam menangkup wajah sang istri sembari berkata, "Apa aku tidak salah dengar, kamu tidak membohongiku, kan?"
"Untuk apa aku membohongimu? Jelas tidak, aku berharap kamu ingat semuanya tentang kita, Sam! Jangan-jangan kamu sudah ingat semuanya?" tanya Naura yang merasa jika ingatan suaminya itu sudah kembali normal seperti dulu lagi.
Sam menyeringai dan sepertinya ia harus berkata jujur kepada istrinya jika dirinya sebenarnya tidak amnesia, Sam hanya ingin mengetahui jika istrinya itu masih mencintai dirinya.
Dengan cepat, Sam memutar posisi yang semula dirinya duduk, kini Ia berada di atas, dengan tatapan mata yang liar, Sam kembali membisikkan sesuatu pada telinga sang istri yang saat itu terlihat begitu mendamba.
"Dengarkan aku, Naura! Sebenarnya aku sudah ingat semuanya, dan aku sedang tidak amnesia," bisik Sam yang seketika membuat Naura membulatkan matanya.
__ADS_1
...BERSAMBUNG...