
Malam itu juga, Naura memutuskan untuk tidur sendirian, hatinya benar-benar gondok, padahal malam itu kebetulan hujan turun dengan derasnya, daun jendela yang melambai-lambai terkena hembusan angin kencang membuat suasana kamar semakin dingin.
Naura pun beranjak untuk menutup pintu jendela kamarnya, hujan disertai angin kencang itu membuat Naura sedikit was-was, jika hanya sekedar hujan dan angin dirinya masih bisa berani tidur sendiri, namun jika disertai dengan kilat dan petir itu yang Naura takutkan.
"Ya ampun hujannya gede banget, semoga aja nggak ada petir-petir segala, mana takut banget, kenapa sih aku tuh takut sama petir? Nggak-nggak, aku harus berani tidur sendirian, aku akan tunjukkan kepada Sam jika aku bisa tidur tanpa dia, diiihh apaan, aku kan lagi ngambek sama dia, bodo!" gerutu Naura sembari beranjak untuk tidur kembali, belum sampai ia merebahkan tubuhnya di atas ranjang, tiba-tiba tampak cahaya kilat putih yang memasuki kamar tidurnya, diiringi suara gemuruh yang sangat keras.
Seketika Naura menjerit dan langsung masuk ke dalam selimutnya sembari menutup kedua telinganya dengan tangan, Naura sangat takut sekali, sungguh jika dihadapkan dengan situasi seperti ini, Naura tidak sanggup.
"Ya Tuhan, plis! Tolong hentikan petir ini, bisa-bisa aku mati kaku si Kamar ini, mana sendirian lagi, biasanya ada Sam, ah enggak ah, gengsi banget aku meminta dia untuk nemenin tidur di sini, bisa-bisa besar kepala dia, dikiranya aku bakal maafin dia, diihhh malas banget." Gumam Naura yang masih bersembunyi di bawah selimut dengan tetap menutup kedua telinganya.
Sementara di sisi lain, setelah Sam memasang wajah palsunya dan berharap jika sang istri bisa memaafkannya.
"Baiklah Naura, tak masalah kamu membenci wajah Marcell sang Bodyguard itu, setidaknya kamu tidak membenci wajah Sam yang jelek ini." Ucapnya sembari menatap ke arah cermin yang memantulkan bayangan wajah Sam yang kasar dan terlihat menjijikkan itu.
__ADS_1
Untuk sejenak, Sam menoleh ke arah jendela kamarnya, bagaimana kilat dan petir yang mulai terdengar cukup keras, ia pun mengkhawatirkan keadaan istrinya yang tentu saja pasti Naura ketakutan dengan suara petir itu.
"Naura! Aku akan datang ke kamarmu, pasti kamu sangat ketakutan." Ucap Sam sembari mengambil kunci cadangan kamar mereka, tentu saja dengan mudah Sam masuk ke dalam kamar mereka meskipun Naura menguncinya dari dalam..
Sam keluar dari kamar dan segera menghampiri sang istri yang berada di kamar utama, kilatan-kilatan cahaya petir tampak menghiasi setiap ruangan yang mulai temaram karena lampu yang sebagian sudah dimatikan.
Langkah kaki Sam berhenti di depan pintu di mana istrinya sedang berada di dalamnya. Kemudian perlahan Sam mengambil sebuah kunci dan membuka pintu itu dengan pelan.
Sejenak Sam tersenyum melihat istrinya yang sesungguhnya sedang ketakutan, dan dirinya memutuskan untuk duduk di sebuah kursi yang berada di sudut kamar tidur mewah itu, dan tentu saja Sam tidak mudah terlihat dari arah ranjang Naura karena pencahayaan pada sudut ruangan itu sangat gelap. Namun, Sam masih bisa melihat dan mengawasi Naura dengan mudah.
Setelah beberapa saat, akhirnya badai petir itu berlalu, Naura bisa bernafas dengan lega, setidaknya ia bisa melalui ketakutannya saat sendirian tanpa Sam kala badai petir itu datang.
"Huffftt! Akhirnya, aku bisa tidur dengan nyenyak, hmm aku bisa buktikan jika aku bisa tidur sendiri tanpa dia," gumam Naura sembari membuka selimut yang menutupi seluruh tubuhnya. Kemudian Ia mulai memejamkan matanya perlahan. Tapi, ada sesuatu yang membuat Naura tidak bisa tidur dengan nyenyak, sejenak Ia menoleh ke arah bantal milik Sam, baru dua hari ini Ia tidur tanpa ada Sam di sampingnya. Tentu saja ada kerinduan yang terselip dalam hati Naura.
__ADS_1
Naura mengusap bantal yang biasa Sam gunakan untuk tidur, hati Naura mulai berkecamuk, rindu itu selalu menghantuinya, tapi rasa kesalnya kepada Sam masih belum hilang. Kemudian Naura beranjak duduk dan Ia melepaskan bra miliknya yang terasa sesak, mungkin karena sekarang ukuran dadanya lebih besar karena efek hormon kehamilan yang mempengaruhi ukuran PD lebih besar dari sebelumnya.
Setelah membuang bra miliknya, Ia pun kembali tidur dan mencoba menutup kedua matanya. Tapi sayangnya, Naura justru terngiang-ngiang bayangan sang suami yang selalu menghantuinya.
"Kenapa aku tidak bisa melupakanmu, Sam! Apakah aku ini wanita yang terlalu bodoh? Bagaimana bisa aku tergila-gila dengan pria yang jelek seperti kamu Tuan Sam! Banyak wanita yang jijik lihat tampang kamu, Tuan buruk rupa. Tapi, kenapa aku enggak, malah aku kangen banget sumpah! Dah lah bodo amat, aku kan masih kesal sama dia, pantang bagiku untuk datang padanya, hmm mending bobo aja." Ucap Naura sembari memaksakan dirinya untuk tidur tanpa ditemani suaminya, meskipun suaminya berada di dalam satu atap.
Sementara itu di pojok ruangan, Sam tertawa kecil mendengar ucapan dari isterinya, dan Ia pun memutuskan untuk tetap berada di tempatnya, agar Naura bisa lebih tenang tanpa dirinya. Tapi, yang membuat Sam tetap membuka matanya lebar-lebar adalah saat Naura melepaskan ikatan bra miliknya dan membuang bra itu di atas lantai.
"Naura-Naura, sampai kapan kamu betah ngambek seperti ini? Shiiit kenapa sih pakai dilepas segala, jadi pingin mimik, kan!" batin Sam yang mulai panik, tentu saja godaan terbesar dalam dirinya adalah tubuh sang istri yang melambai-lambai, demi agar sang istri tidak marah lagi padanya dan secepatnya mendapatkan maaf dari Naura, untuk sementara Sam harus kuat menahannya. Dan ia pun berusaha untuk tidur meskipun yang dibawah tidak bisa tidur.
Malam itu pun keduanya tidur di tempat masing-masing, meskipun masih berada di dalam satu kamar, Sam tetap menjaga sikapnya untuk membuat Naura tenang, meskipun sebenarnya dirinya sangat ingin sekali berdekatan dengan anak dan istrinya.
...BERSAMBUNG...
__ADS_1