
Sebelum mereka memulai pertandingan, Norman mengucapkan tantangannya, jika Sam menang dia boleh mengambil istrinya dari sang kakak, tapi jika Sam kalah maka untuk seminggu kedepannya Sam harus mendapatkan hukuman yaitu tidur terpisah dengan Naura, tentu saja Sam tidak ingin itu terjadi, Ia pun akan berusaha untuk mengalahkan Norman agar dirinya bisa terus bersama sang istri.
Sam dan Norman duduk berhadapan, dengan satu tangan mereka berada di atas meja, Sam dan Norman bersiap untuk adu kekuatan, sedangkan Diora tampak menghitung mundur dari 3.
"Oke siap, tiga ... dua ... satu!!"
Kedua pria itu saling menunjukkan kekuatan masing-masing, benar-benar imbang, Sam mampu mengimbangi kekuatan kakak Naura itu dengan maksimal. Wajah keduanya yang terlihat memerah, hampir saja Norman mampu merobohkan tangan adik iparnya itu, tinggal selangkah lagi.
Naura terlihat khawatir jika saja sang suami kalah dari sang kakak, karena Naura ingin menunjukkan kepada Norman jika pria yang ia pilih benar-benar laki-laki yang kuat.
"Norman ... Norman ... Norman ... ayo Norman!!" teriak Diora dibalik punggung Norman. Gadis itu memberikan semangat untuk kekasihnya agar bisa mengalahkan Sam.
Tentu saja, Naura tidak mau kalah, ia pun memberikan semangat kepada Sam yang hampir kalah itu dengan meneriaki suaminya.
"Ayo Sam ... jangan menyerah, lawan Kakak!! Kamu pasti bisa!!"
Norman terus membuat pertahanan Sam goyang, Sam merasa sang kakak ipar benar-benar adalah lawan yang sebanding, tapi kali ini ia merasa akan kalah dari Norman. Hingga akhirnya, Naura yang melihat suaminya hampir saja kehilangan tenaga, dengan cepat Naura mendekati suaminya dan menciumnya pipi Sam sembari memberikan semangat.
'Cup'
__ADS_1
"Ayo kalahkan Kakak, Sam! Kalahkan dia seperti kamu mengalahkan aku, jika tidak selama seminggu kamu tidak akan tidur denganku," mendengar ucapan dari istrinya, entah kenapa kekuatan Sam tiba-tiba menjadi full, ia pun dengan sekuat tenaga berusaha untuk melawan Norman. Tentu saja gerakan Sam yang tiba-tiba keras membuat Norman terkejut. Sam tidak ingin berpisah dengan sang istri meskipun sedetik saja.
Perlahan namun pasti, tangan Norman mulai bergerak ke atas dan dalam hitungan detik, Sam berhasil mengalahkan sang kakak ipar dan menghempaskan tangan Norman di atas meja.
Melihat suaminya menang, Naura spontan memeluk suaminya dengan senang, akhirnya Sam bisa mengalahkan sang kakak ipar dengan perjuangan yang benar-benar melelahkan.
"Kamu menang, Sam! Aku bahagia sekali!" ucap Naura yang masih dalam pelukan sang suami.
"Aku akan berusaha untuk tetap mempertahankan mu, Naura. Apapun akan kulakukan untuk bisa selalu berada di dekatmu, aku tidak tahu bagaimana nasibku jika tidak ada kamu di sisiku," Sam menciumi wajah istrinya, seolah dirinya begitu bahagia karena hukuman dari Norman tidak akan pernah terlaksana.
Norman dan Diora tersenyum melihat kedua pasangan sejoli itu, Norman kemudian menghampiri Sam dan Naura sembari berkata, "Aku sangat bangga padamu, baru kali ini ada seseorang yang mengalahkan ku. Dan adikku benar-benar sudah tepat memilih mu untuk menjadi suaminya, selamat!!"
"Baiklah kalau begitu, aku mau pulang ke rumah ayah dan ibu, mereka pasti sangat terkejut saat melihat aku masih hidup," pamit Norman kepada keduanya.
"Anak buahku akan mengantarkan mu, apa sebaiknya tidak menunggu besok saja, sekarang sudah malam," seru Sam.
"Sepertinya tidak, lagipula aku tidak mau mengganggu malam kalian, lebih baik aku pulang ke rumah dan memberi tahukan kepada ayah dan ibu, jika aku juga ingin seperti Naura, punya teman tidur yang sah," ungkap Norman sembari merangkul sang kekasih.
Diora tampak tersipu malu, dan ia pun mengucapkan terima kasih banyak kepada Sam yang sudah menyelamatkan nyawa Norman.
__ADS_1
"Sam, aku juga minta maaf padamu, atas kata-kataku waktu itu, dan sekarang kamu sudah tahu semuanya, dan aku juga sangat berterima kasih kepadamu karena kamu sudah menyelamatkan Norman, entah bagaimana caranya aku bisa membayar semua kebaikanmu, semua itu sangatlah begitu berharga," ungkap Diora dengan mata yang berkaca-kaca.
Sam tersenyum dan ia pun hanya berkata. "Kamu ingin membayar kebaikan ku padamu, itu mudah saja, kamu cukup menikah dan menjadi teman tidur kakak ipar ku saja, itu sudah sangat cukup, dan ... aku tunggu kabar baik itu!!"
Norman dan Diora pun terlihat malu-malu, kemudian dengan tegas Norman menjawabnya, "Kamu tenang saja, itu tidak akan lama, aku sendiri juga tidak ingin menunda-nunda," mendengar jawaban Norman, Sam pun tertawa kecil dan membalas, "Kamu sangat benar, tidak usah terlalu lama menunda, karena itu sangat menyakitkan dan selalu membuat penasaran."
Mendengar obrolan Sam dan Norman, Diora pun tampak mengerutkan keningnya dan tie mengerti maksud keduanya.
"Sebenarnya kalian berdua tuh ngomong apaan sih?" tanya Diora yang memaksa Naura membisikkan sesuatu pada calon kakak iparnya itu.
"Aduh Mbak Diora! Itulah yang namanya laki-laki, mereka tuh paling nggak bisa nahan untuk yang satu itu," bisik Naura yang tentunya sudah faham dengan perbincangan dua laki-laki itu.
"Maksudnya?"
"Nanti kalau Mbak Diora udah nikah, pasti tahu! Saran aku ya Mbak, jangan sering-sering pakai baju minim kalau nggak ingin keramas setiap hari, belum kering udah keramas lagi, bahkan aku nggak sempat pakai daleman gara-gara itu."
Seketika Diora membulatkan matanya mendengar pengakuan dari Naura.
"Masa sih seperti itu?"
__ADS_1
"Hmm ... memang seperti itu, tapi nggak usah ditakuti, nggak seburuk yang Mbak kira kok, karena itu adalah sebuah kewajiban yang indah, tak jamin Mbak Diora pasti menikmatinya," ungkap Naura yang membuat Diora memikirkan bagaimana dirinya saat sudah menjadi istri Norman.