Dinikahi Tuan Muda Buruk Rupa

Dinikahi Tuan Muda Buruk Rupa
Percuma marah


__ADS_3

"Apa maksudmu, Sam?" Naura bertanya dengan nada suara yang mendesaah, karena saat itu dirinya sudah dikuasai oleh perasaan yang benar-benar membuatnya tidak bisa lagi melepaskannya. Sam tidak menjawab, justru pria itu membidikkan senapan itu pada sasarannya.


"Iya, Naura! Sekarang aku tahu jika kamu juga masih mencintaiku, bukan? Kamu tidak bisa menghindarinya lagi, kamu tidak bisa lari lagi dariku, bunuh diri itu, insiden itu dan amnesia yang menimpa diriku hanya ku buat untuk memastikan perasaanmu padaku, dan sekarang aku sudah menemukan jawabannya, kita masih saling menginginkan, ahhh!!"


Naura mendongak kala Sam kembali mengobrak abrik tempat itu. Keduanya semakin menggila, ranjang itu bergoyang dengan cepat, dan tentu saja suara-suara merdu yang membuat merinding bagi siapa saja yang mendengarnya.


Lenguhan keduanya yang saling berkejaran, hingga bunyi khas dari pusat percintaan itu terdengar begitu mengalun karena mereka berdua sama-sama saling merindukan sentuhan masing-masing.


Keringat sudah membasahi tubuh keduanya, mereka berdua bersatu kembali setelah beberapa hari keduanya berjauhan, bibir mereka kembali bertaut diiringi gerakan maju mundur yang sangat lincah.


Tak berselang lama, Naura merasa jika dirinya akan mencapai pelepasan yang hakiki, tempat itu semakin mencengkram erat milik Sam, otot-otot itu mulai menegang dan mempersiapkan diri untuk melepaskan cairan bening yang membawa Naura terbang melayang.

__ADS_1


"Oh ... Sam! A-aku nggak kuat lagi, aku mau ... aaaaahhhhh!" Naura terlihat mencengkram erat punggung sang suami dengan kedua kaki yang terbuka lebar.


Sam yang mendengar ucapan dari sang istri, tahu jika istrinya akan mencapai puncak pelepasan, Ia pun juga merasakan hal yang sama. Sam mempercepat ritme gerakan sehingga keduanya pun sama-sama saling menuju puncak.


"Sam ... aku!"


"Hmm ... Naura Sayang!!"


Peluh dan keringat membasahi tubuh keduanya, setelah Sam dan Naura menyatukan rasa rindu mereka, keduanya pun saling menatap dan tersenyum. Wajah maskulin Sam tak dipungkiri jika laki-laki itu sangatlah tampan, bola mata itu tidak pernah berubah, Naura masih bisa merasakan jika Sam yang dulu masih berada pada wajah baru suaminya.


"Aku masih melihat Sam ku yang dulu, tidak akan pernah berubah." Seru Naura sembari menatap kedua bola mata sang suami yang tentunya sangat ia kenali

__ADS_1


"Apa kamu tidak marah padaku?" tanya Sam menegaskan.


"Marah? Rasanya percuma saja aku marah, nyatanya aku sangat muna, aku tidak bisa berpisah denganmu, Sam! Bagaimana pun caranya aku berusaha untuk menjauhi mu, hatiku semakin tersiksa, apalagi kamu bersikap cuek padaku, rasanya ingin sekali aku pukul kamu, sakit tahu nggak dicuekin!" ungkap Naura sembari mencubit hidung suaminya. Sam yang saat itu masih berada di atas tubuh sang istri dengan menopang tubuhnya dengan kedua tangan tampak tersenyum tipis.


"Benarkah! Lantas, apa kamu pikir aku juga tidak seperti itu? Kamu usir aku dari kamar, kamu tidak mau menatapku saat berbicara, kamu tahu nggak sih itu rasanya tuh lebih sakit dari cambukan seribu cemeti, kalau saja beneran kamu tinggalkan aku, mungkin aku tidak mau melihat dunia ini lagi." Ucapan Sam seketika membuat Naura menutup bibir suaminya dengan satu jari tangan.


"Sssttt tolong jangan katakan itu lagi! Aku tarik ucapan ku yang dulu, anggap saja saat itu aku sedang emosi, jujur saat itu aku kecewa padamu, Sam! Aku tidak bisa berfikir sehat, aku hanya mementingkan diriku sendiri tanpa aku sadari jika ada sesuatu yang lebih penting dari apapun, yaitu anak kita. Apa jadinya jika anak kita tumbuh tanpa kedua orang tuanya," ungkap Naura dengan suara lembutnya.


"Harusnya aku yang minta maaf, aku sudah sangat meragukan cintamu, aku bodoh sekali, kenapa aku harus melakukan hal bodoh itu, tapi setidaknya aku tahu sifat aslimu jika berada di dekat pria lain yang bukan suamimu, hampir saja jantungku copot mendengar kata-katamu yang selalu kasar kepada Marcell, padahal itu adalah aku, suamimu sendiri, tak bisa kubayangkan jika setiap hari aku mendapatkan perlakuan seperti itu, bisa-bisa aku mati sebelum waktunya." Mendengar ucapan dari sang suami, Naura terlihat tertawa kecil mengingat bagaimana sikapnya yang ketus kepada Bodyguardnya yang tak lain adalah suaminya sendiri.


...BERSAMBUNG ...

__ADS_1


__ADS_2