
"Iya begitulah, Bi!" Sam terlihat pasrah, entah apa yang sekarang Naura lakukan, Sam berharap istrinya tidak akan pulang ke rumah kedua orang tuanya, jika itu terjadi bagaimana bisa Ia hidup tanpa Naura di sisinya.
Bi Imas terlihat membersihkan dan mengobati luka pada dahi Sam akibat terkena lemparan vas bunga yang Naura lakukan, dan Sam tidak merasakan sakit yang berarti, ia justru ingin sekali bertemu dengan Naura dan membicarakan semuanya dari hati ke hati.
Bi Imas melihat kesedihan pada wajah Sam, kesedihan yang teramat dalam dan itu membuat Bi Imas sangat iba kepada sang majikan.
"Tuan muda jangan bersedih seperti itu, semua masih bisa diperbaiki, Nyonya Naura masih butuh waktu, karena apa yang sudah Anda lakukan itu sudah sangat menyakiti hatinya, berdoa dan berjuanglah untuk mendapatkan hati Nyonya Naura lagi. Yang Bibi khawatirkan, jika Nyonya akan meninggalkan Anda setelah melahirkan bayinya nanti, dan semoga saja itu tidak akan terjadi, karena jika itu terjadi maka saya tidak akan biarkan ... emm maksud Bibi, semoga saja Nyonya Naura tidak akan meninggalkan Anda, Tuan!" seru bi Imas yang begitu mencemaskan keadaan sang majikan.
Sam hanya bisa menghela nafas panjang, dan semoga saja dirinya bisa mengambil perhatian Naura lagi, karena Sam sudah terlanjur mencintai Naura jiwa dan raga.
"Aku harus menemuinya, Bi! Aku tidak bisa seperti ini, semua ini membuatku tersiksa, Naura harus mendengarkan penjelasan ku, aku tidak mau dia meninggalkanku, aku harus menemuinya sekarang." Sam langsung beranjak pergi ke kamar sang istri dan berharap dirinya bisa meyakinkan Naura jika apa yang dilakukannya tidak seburuk yang Naura pikirkan.
"Tunggu Tuan muda, sebaiknya Anda memberikan Nyonya waktu." Rupanya Sam tidak mendengarkan ucapan dari bi Imas. Dan bi Imas pun tampak menatap kepergian Sam dengan tatapan mata yang tajam.
__ADS_1
"Tuan muda sangat mencintai istrinya, semoga saja Nyonya Naura tidak memiliki keinginan untuk meninggalkan Tuan muda, jika tidak maka ...." Bi Imas tidak melanjutkan kata-katanya dan Ia pun beranjak pergi ke kamarnya.
*
*
*
Sementara di tempat lain, Naura yang saat itu sedang berada di dalam kamar, gadis itu terlihat menangis sesenggukan, Naura berdiri di depan jendela dengan wajah sedihnya, bagaimana bisa dirinya ditipu mentah-mentah oleh suaminya sendiri, Naura merasa kesetiaannya tak layak untuk diakui, sehingga membuat Sam harus berbohong dan berpura-pura menjadi seorang bodyguard.
Hingga tanpa Ia sadari. Ternyata Sam masuk ke dalam kamar mereka dan melihat Naura yang saat itu sedang berdiri di depan jendela sembari sesenggukan dan terdengar di telinga Sam kata-kata yang keluar dari bibir Istrinya.
"Tolong jangan katakan itu! Plis Naura, aku tidak ingin kamu pergi dari sini, kamu akan tetap menjadi ibu dari anak-anakku, kamu akan tetap menjadi istriku, dan sebentar lagi aku akan mengesahkan pernikahan kita, kita tidak akan berpisah."
__ADS_1
Naura tidak menoleh ke belakang, ia tetap memandang lurus ke depan sembari berkata kepada suaminya.
"Untuk apa kamu lakukan itu, percuma. Aku sudah tidak percaya lagi padamu, lebih baik kita hidupkan kembali perjanjian kontrak nikah itu, memang seharusnya pernikahan ini harus berakhir, setelah aku melahirkan bayi ini, ceraikan aku! Dan kamu bisa hidup tanpa harus repot-repot menyamar lagi sebagai orang lain untuk menguji kesetiaan ku, dan aku sudah muak mendengar semua kata-kata cintamu."
Sam tidak akan bisa terima jika Istrinya harus pergi meninggalkan dirinya, dan ia pun akan berupaya sekuat tenaga untuk membuat Naura kembali percaya kepada-nya.
"Tidak! Aku tidak akan pernah menceraikan mu, kamu akan tetap menjadi istriku, jika memang kesalahanku ini terlalu membuatmu kecewa, maka aku siap untuk menerima hukumannya, asalkan kamu tetap berada bersamaku, katakan apa yang harus aku lakukan agar istriku mau memaafkan ku?" seru Sam dengan suaranya yang terdengar memelas.
Naura hanya diam, hatinya masih sakit dengan kenyataan jika Sam sudah membohonginya. Tapi, Naura tidak bisa membohongi perasaannya sendiri, jika hatinya masih mencintai sang suami.
"Ya Tuhan! Kuatkan lah hatiku menghadapi kenyataan ini, aku memang kecewa pada suamiku, tapi aku juga tidak bisa munafik, aku sangat mencintainya, apa yang harus aku lakukan?" batin Naura sembari membalikkan badannya dan menatap wajah sang suami yang nyatanya adalah seorang pria yang gagah dan tampan, bukan seorang pria yang berwajah parut dan kasar seperti kemarin-kemarin.
Sejenak keduanya saling menatap, hingga akhirnya Naura memalingkan wajahnya dan berkata kepada sang suami.
__ADS_1
"Aku ingin melihat wajah suamiku yang dulu, aku muak dengan wajah mesum bodyguard ini," seru Naura dingin, yang seketika membuat Sam meraba-raba wajahnya sendiri, apa ada yang salah dengan kesempurnaan wajahnya sehingga sang istri ingin melihatnya dengan wajah yang buruk rupa.
...BERSAMBUNG...