Dinikahi Tuan Muda Buruk Rupa

Dinikahi Tuan Muda Buruk Rupa
Aku harus pergi


__ADS_3

Sesampainya di rumah, Sam terlihat masih diam sejak dirinya dan Naura ditertawakan oleh banyak orang, Sam seolah merasa tidak percaya diri ketika jalan berdua dengan istrinya.


Naura yang melihat sang suami yang terlihat murung, Ia pun mendekati Sam dengan duduk di atas pangkuan sang suami sembari mengusap wajah Sam dengan mesra.


"Apa yang kamu pikirkan? Aku lihat dari tadi kamu diam aja? Kamu masih memikirkan perkataan mereka tentang kita, hmm?" seru Naura.


"Aku merasa sangat tidak pantas untukmu, mereka benar, Naura. Kamu cantik, masih banyak pria tampan di luar sana yang pantas mendampingi mu, tidak seperti aku yang cacat seperti ini." Ungkap Sam dengan tatapan matanya yang sayu.


Naura pun menggelengkan kepalanya dan berkata, "Jangan pernah katakan itu lagi, Sam. Aku tidak pernah berpikiran seperti itu, kalau aku mau, aku bisa mendapatkan banyak pria tampan di luar sana, tapi aku tidak tertarik, mereka hanya melihat sisi luar seorang Sam, tapi mereka tidak melihat di balik wajah mengerikan ini terdapat sebuah hati yang sangat lembut, romantis, aku suka semua yang ada pada dirimu, Sam. Caramu memperlakukan aku, sentuhan mu, kelembutan mu, apapun yang kamu lakukan padaku, tidak akan pernah bisa aku melupakannya."


Naura berkata dengan suara manjanya, memaksa Sam tersenyum dan mencumbu leher Naura, lagi-lagi kemesraan selalu terjadi di antara mereka. Tapi, bukan di dalam kamar mereka saja keduanya menghabiskan waktu untuk bermesraan.

__ADS_1


Mansion yang dihuni oleh sepasang yang sedang dimabuk cinta itu adalah saksi bisu bersatunya cinta mereka, jika Sam berada di dalam rumah, semua pelayan pergi dan tidak ada satupun yang muncul kecuali Sam panggil. Sehingga Sam lebih leluasa untuk bercinta dengan istrinya di mana pun dan kapanpun Ia mau.


Di setiap sudut ruangan Mansion itu, Sam dan Naura selalu menciptakan suasana romantis, tak perduli di atas sofa, di atas meja, di atas tangga, di dalam air saat mereka berenang, karena sekarang Sam sudah memakai kulit palsu yang lebih bagus agar tidak mudah terkelupas saat dirinya bercinta di dalam air.


Saat itu keduanya sedang bermesraan di ruang tengah dengan cahaya yang sengaja mereka redupkan. Saat ini usia pernikahan mereka masih berjalan tiga Minggu, tentu saja masa-masa subur Naura telah terlewati, masa-masa dimana sel telur telah dibuahi oleh sel seorang pria, dan sekarang masanya kedua insan itu menunggu untuk dua garis merah.


Sam terdengar melenguh panjang dan akhirnya dengan deru nafas yang terlihat naik turun, Sam menahan bobot tubuh sang istri yang saat ini sedang berada di atas pangkuannya. Naura pun terlihat masih terpejam merasakan sisa-sisa denyutan kenikmatan yang masih terasa. Keduanya masih dalam posisi berpelukan di atas sofa.


"Sam!"


"Hmm!"

__ADS_1


"Jangan pernah tinggalkan aku! Aku bisa gila jika kamu tidak ada di sisimu, kamu tahu itu." Ungkap Naura dalam perjalanan posisi dirinya masih berada di atas pangkuan Sam dengan kedua kaki terbuka lebar.


Sam tersenyum dan berkata, "Kamu takut?"


"Sam, plis! Jangan bercanda, aku tidak suka ada kata perpisahan, aku mau selalu bersamamu." rengek Naura.


Sam pun menghela nafas panjang, karena ada sebuah urusan bisnis yang tidak dapat ia tinggalkan, maka terpaksa Sam harus mengatakan hal itu kepada istrinya.


"Naura! Sepertinya aku harus pergi sebentar, aku tidak akan lama, mungkin sekitar dua Minggu aku pergi, aku harus mengurus bisnisku yang ada di Amsterdam, jika bukan aku sendiri yang menangani, terus siapa lagi, aku harus melanjutkan bisnis keluargaku. Kamu tidak apa-apa, kan?" Seru Sam sembari menatap bola mata yang indah itu.


...BERSAMBUNG...

__ADS_1


__ADS_2