
Naura menunggu sang suami untuk keluar dari kamar mandi, nyatanya Sam begitu lama berada di dalam sana, Ia pun memutuskan untuk beranjak dari tempat tidurnya dan berjalan menuju ke arah kamar mandi. Tanpa memakai apapun, Naura menghampiri suaminya.
Sementara itu di dalam kamar mandi, Sam memasang kembali kulit palsu itu pada wajahnya, agar saat dirinya keluar dari kamar mandi, Naura masih melihatnya dengan wajah yang semula, tetap buruk rupa.
"Maafkan aku, Naura! Belum saatnya aku menunjukkan tentang siapa sebenarnya Samuel Alfonso." Ucap Sam lirih.
Setibanya Naura di depan pintu kamar mandi, Ia pun mengetuk pintunya sembari berkata, "Sam! Udah belum? Kamu ngapain aja sih lama banget?" tanya Naura dari arah luar pintu kamar mandi.
Sam mendengar suara sang istri yang sedang memanggil dirinya, dengan wajah yang terlihat begitu buruk, Sam membuka pintu kamar mandi dan melihat sang istri yang sedang bersandar di balik dinding di sebelah pintu kamar mandi. Naura menatap wajah suaminya sembari mengerutkan kening.
"Kamu ngapain aja di dalam? Kok lama sekali?" tanya Naura sembari menatap bola mata Sam.
Sam menghampiri istrinya dan menarik pinggang Naura yang saat itu masih terlihat polos.
"Maaf, jika kamu lama menunggu, aku butuh merelaksasikan tubuh ini, karena semalam kamu sudah membuatnya kehilangan banyak tenaga." Bisik Sam sembari mengelus lengan Naura.
__ADS_1
Naura tersenyum dan mengalungkan kedua tangannya pada leher sang suami. Ia terlihat begitu manja dan seolah dirinya tidak ingin berpisah dengan suaminya.
"Benarkah? Bukankah itu yang kamu mau, Tuan Sam? Apa aku salah, jika sudah membuatmu kelelahan?" seru Naura sembari menggoda suaminya dengan menyentuh ujung hidung Sam dengan ujung hidungnya. Meskipun terasa kasar dan menjijikkan, tapi Naura terlihat biasa saja tanpa takut jika kulit wajahnya terasa tidak nyaman.
"Hmm ... Kamu tidak salah sama sekali, itu semua sudah seharusnya terjadi, kamu milikku, Naura! Berjanjilah padaku apapun yang terjadi kamu akan tetap mencintaiku, dan kamu tidak akan pernah meninggalkan ku." Seru Sam serius.
Naura pun tersenyum dan semakin menyentuh wajah Sam dengan kedua tangannya, dengan tatapan mata yang mesra, Naura berucap kepada sang suami dengan penuh kasih sayang.
"Kamu bisa pegang kata-kataku, Sam! Tidak mungkin aku meninggalkan pria yang sudah membuat hidupku berubah, meskipun pertemuan kita begitu singkat, tapi aku sangat yakin jika kamu adalah pria yang pertama dan terakhir bagiku. Mungkin bagi kebanyakan wanita kamu pria yang menjijikkan karena wajahmu seperti monster, tapi bagiku kamu tetap tampan, biarpun aku tidak tahu wajahmu yang dulu seperti apa, tapi aku sangat yakin jika kamu adalah pria yang tampan. Justru aku takut jika kamu yang pergi meninggalkan ku, aku tidak bisa membayangkannya, Sam! Tidak bisa." Ungkap Naura dengan mata yang berkaca-kaca.
Naura terlihat menangis bahagia, ternyata pria yang ia temui karena sebuah perjanjian nyatanya hari ini pria itu menjadi belahan jiwanya, cinta itu tumbuh begitu saja, begitu subur dalam hati di antara kedua insan itu.
Sam mengusap air mata yang mulai membasahi wajah cantik Istrinya, tangan kokohnya membelai pipi itu dan menciumnya sekilas. Hingga akhirnya, sebuah pertanyaan dari Sam yang membuat Naura mengerutkan keningnya.
"Naura!"
__ADS_1
"Hmm!"
"Jika aku berandai-andai, kamu lebih memilih mana, seorang pria tampan nan mempesona membawa sebuah cinta untukmu, atau aku seorang pria buruk rupa berwajah monster yang membawa berjuta harapan untukmu, siapa yang akan kamu pilih?" tanya Sam yang membuat Naura terdiam sejenak.
"Sam! Untuk apa kamu memberiku pertanyaan seperti ini?" tanya Naura yang tidak mengerti kenapa pertanyaan itu harus Sam tujukan padanya.
"Jawab saja!" desak Sam yang penasaran ingin tahu jawaban dari sang istri.
Naura semakin merapatkan tubuhnya pada sang suami, sembari menatap dengan pandangan begitu dekat, Naura berucap kepada suaminya, "Tentu saja aku memilih dirimu, Sayang. Pria tampan buat apa jika hanya memberikan cinta tapi tidak ada harapan. Biarpun dia merayu dan membujukku dengan cintanya, tidak semudah itu aku luluh. Sementara kamu, dengan segala kekurangan mu, kamu memberikan berjuta harapan, karena di dalam harapan pasti ada cinta yang tulus, setulus cintamu padaku, Sam! Jadi, jangan berpikir jika aku akan meninggalkanmu, selamanya aku akan menjadi milikmu."
Setelah Naura mengatakan hal itu, Ia pun terlihat mengecup bibir sang suami, tak perduli jika pria di depannya itu begitu mengerikan. Tentu saja Sam pun menikmati kemesraan pagi ini dengan membalas ciuman itu dengan mesra.
Sejenak terlintas dalam benak Naura disela-sela dirinya berciuman dan menyentuh wajah Sam, Ia merasa jika wajah Sam sangat berbeda saat Sam bercinta dengannya semalam.
"Kenapa sekarang terasa begitu berbeda? Tidak seperti semalam, tak ada bulu-bulu halus di wajah suamiku, yang ada hanya luka parut yang terasa kasar ini. Ya Tuhan! Semoga saja perasaanku salah." batin Naura.
__ADS_1
...BERSAMBUNG...