Dinikahi Tuan Muda Buruk Rupa

Dinikahi Tuan Muda Buruk Rupa
Wanita keras kepala


__ADS_3

Selama rapat berlangsung, Diora tidak pernah ramah kepada asisten Yan, Diora selalu bersikap ketus dan dingin kepada pria itu, entah kenapa Diora sangat tidak suka dengan kehadiran sang asisten kepercayaan Sam, padahal Asisten Yan sudah berusaha untuk bersikap sopan dan baik kepada Diora, tanpa mengingat jika Diora pernah menyakiti sang bos.


Setelah rapat berakhir, dengan cepat Diora segera pergi dari tempat itu, ia ingin secepatnya kembali ke kantor, seolah-olah dirinya tidak ingin berlama-lama di sana.


"Kenapa Nona Diora buru-buru? Apa Non Diora sedang sakit perut? Sepertinya Anda terlihat sudah sangat tidak sabar, slow saja!" sang asisten tampak menggoda mantan tunangan Sam itu, Asisten Yan memang memiliki selera humor yang tinggi, meskipun ia berusaha untuk bercanda dengan Diora, tapi tetap sama saja. Diora tidak pernah memperhatikan asisten pribadi Sam tersebut, bagi Diora sangat tidak level berbicara dengan orang biasa dan hanya seorang asisten.


"Aku sedang tidak sakit perut, tapi aku sakit mata melihatmu di sini, Asisten Yan," jawab Diora dengan wajah yang kesal, setelah itu wanita itupun segera pergi meninggalkan Asisten Yan yang tampak geleng-geleng kepala.


"Hmm dasar wanita keras kepala," gerutu asisten Yan sembari melihat kepergian Diora.


Sesampainya di dalam mobil, Diora terlihat begitu kesal setelah bertemu dengan asisten Yan, bukannya dia harus bertemu dengan Sam, justru dirinya harus bertemu dengan pria yang menurutnya adalah seorang yang aneh itu.


"Sialan! Kenapa sih hari ini aku apes, dasar asisten menjengkelkan, mulut perempuan! Kalau saja dia tidak bilang kepada Sam, mungkin Sam tidak akan membenci Norman, gara-gara dia juga yang membuat keadaan semakin runyam, apa sih maunya tuh orang, dari dulu sampai sekarang selalu menyebalkan, dasar asisten nggak waras!" Diora tampak begitu kesal setelah pertemuannya dengan asisten Yan yang sedari dulu tidak pernah Ia sukai.

__ADS_1


*


*


*


Hari pun mulai gelap, Diora sudah sampai di kediamannya, ia pun melihat sejenak kondisi sang Papa yang masih belum sehat, wanita itu melihat sang ayah yang sedang tertidur pulas.


"Istirahatlah, Pa! Semoga saja papa bisa segera pulih, Diora sayang banget sama Papa." Diora membatin sembari menatap wajah sang papa yang sedang tertidur.


Diora kembali dan ia mengambil ponselnya, ia pun melihat sebuah nomor tak dikenal yang sedang menghubunginya.


"Nomor siapa ini? Hmm pasti telepon nyasar."

__ADS_1


Karena Diora merasa jika itu bukanlah nomor penting, ia pun membiarkan dan menolak panggilan itu. Diora kembali meletakkan ponselnya di atas meja, tapi telepon itu berdering kembali. Dan Diora pun kembali melihat ke layar ponselnya.


Lagi-lagi nomor yang sama yang sedang menghubunginya, karena Diora adalah wanita yang cuek, ia pun akan mereject nomor siapapun yang tidak ia kenal.


"Shiiit! Ganggu saja nih nomor!" umpat Diora yang meletakkan kembali ponselnya. Belum sempat ia berjalan menuju ke kamar mandi, ponsel miliknya berdering kembali. Dan kali ini Diora benar-benar kehilangan kesabaran, sepertinya Diora harus mengangkat siapa yang sedang menghubungi nya berkali-kali.


"Halo! Siapa ini?" sapa Diora yang akhirnya ia mengangkat juga telepon dari nomor tak dikenal itu.


"Halo Sayang! Apa kabar? Senang bisa berjumpa lagi denganmu!"


Seketika Diora membulatkan matanya saat mendengar suara itu, iya suara dari seseorang yang dulu pernah membuatnya sangat kesal.


"Brengsek! Ngapain kamu telepon aku lagi?" antara kesal dan takut, Diora terlihat berkeringat dingin saat mendengar suara itu.

__ADS_1


...BERSAMBUNG...


__ADS_2