
Bi Imas merasa sesak kala dirinya mengingat kejadian dimana ia menemukan Norman untuk pertama kali, hampir saja ia membunuh kakak kandung dari istri sang majikan, tentunya bi Imas pasti sangat menyesal jika saja Norman tidak bisa diselamatkan, beruntung nyawa pria itu bisa tertolong, meskipun harus mengalami hilang ingatan, bi Imas berharap Norman bisa mengingat kembali tentang masa lalunya dan tentunya bi Imas ingin mendekatkan Norman dengan sang adik yang merupakan istri dari Samuel Alfonso.
Kala itu bi Imas melihat bagaimana tulusnya wajah Naura, ia tahu jika gadis itu sangat menyayangi sang kakak, bahkan ikatan batin antara dua bersaudara sangat kuat meskipun Norman masih belum bisa memahaminya. Tapi Naura, ia merasa jika dirinya sedang bersama dengan sang kakak, ia merasakan kehadiran sosok yang sangat dirindukannya, sosok yang selalu menyayanginya.
"Nyonya!" panggil bi Imas saat ia melihat Naura yang sedang duduk sembari memperhatikan pemandangan luar jendela. Naura membalikkan badannya dan tersenyum kepada bi Imas.
"Iya, Bi! Ada apa?" tanyanya.
"Maaf kalau Bibi lancang menanyakan hal ini, bolehkah saya bertanya sesuatu kepada Nyonya?" bi Imas tampak menatap melas pada Naura.
__ADS_1
"Memangnya Bibi ingin tanya apa, dan kenapa harus minta izin?" Naura tersenyum sembari menatap wajah wanita usianya hampir sama dengan usia sang ibu, bu Lani. Bi Imas tersenyum dan mencoba memberanikan diri untuk bertanya kepada Naura.
"Apa Nyonya sangat menyayangi Kakak Anda?" tanya bi Imas sembari memperhatikan ekspresi wajah Naura saat mendengar nama sang kakak. Gadis itu tampak berkaca-kaca, sungguh hatinya benar-benar tidak kuat jika harus mengingat tentang almarhum sang kakak.
"Sampai kapanpun, aku tidak akan pernah bisa melupakan almarhum kakak, dia Kakak yang terbaik, dia selalu menyayangiku, dia tidak pernah membiarkan adiknya digangguin sama cowok-cowok, dia selalu menjadi garda terdepan untuk menghadapi para cowok yang mendekati adiknya, mungkin jika sekarang kakak masih hidup, mungkin Sam harus menjalani serangkaian tes sebelum menyentuh adiknya, karena Kakak ingin adiknya mendapatkan pria yang tepat, bukan hanya menginginkan adiknya secara fisik tapi juga secara hati." Ungkap Naura yang membuat bi Imas semakin bersalah.
"Minta maaf? Untuk apa Bibi minta maaf?" tanya Naura yang menatap bi Imas dengan serius. Bi Imas tampak berkaca-kaca melihat wajah Naura.
"Tidak, Nyonya. Bibi minta maaf jika sudah membuat Nyonya teringat dengan kakak Nyonya, hmm ... seandainya jika suatu saat ada keajaiban dan kakak Nyonya masih dinyatakan hidup, apa yang Nyonya lakukan?" sejenak Naura tersenyum mendengar pertanyaan dari sang asisten rumah tangganya.
__ADS_1
"Itu tidak mungkin, Bi. Aku melihat dengan mata kepala sendiri, bagaimana jasad kakak dikebumikan, meskipun wajahnya sudah tidak bisa dikenali lagi, tapi aku sangat yakin jika itu adalah jasad kakak, karena baju dan celananya itu membuktikan jika itu memang Kakak. Jadi, tidak mungkin dia hidup, itu sangat mustahil, meskipun sebenarnya aku ingin sekali bertemu dengan Kakak biarpun sedetik saja. Kalau pun dia masih hidup, itu hanyalah keajaiban, dan aku rasa itu tidak akan pernah terjadi, Bi. Tidak akan." Naura terlihat sedih tatkala ia semakin teringat akan sang kakak.
Bi Imas tampak mencoba menghibur sang majikan. "Saya yakin suatu hari nanti, Nyonya akan bertemu dengan kakak Nyonya," seketika Naura tertawa kecil mendengar ucapan dari bi Imas.
"Iya ... aku memang pernah bertemu dengan Kakak, tapi hanya lewat mimpi." Ungkap Naura sembari mengusap buliran bening yang terjatuh dari matanya.
"Saya tahu perasaan Anda, Nyonya. Dan saya bersumpah akan mengembalikan Senyum Anda."
...BERSAMBUNG ...
__ADS_1