
"Em ... suamiku sedang ada urusan bisnis, Yah. Dia sedang berada di Amsterdam," jawab Naura. Pak Surya dan Bu Lani tampak menganggukkan kepala.
"Terus, kamu ke sini apa sudah meminta izin kepada suamimu?" sahut sang ibu.
"Iya, Bu. Naura sudah minta izin kepadanya, dan katanya nggak apa-apa kok," jawab Naura.
Kemudian pak Surya tanpa sengaja melihat seorang pria yang sedang berdiri dengan seorang pelayan, sang ayah agaknya mengerutkan keningnya ketika melihat wajah pria itu yang tak lain adalah bodyguard dan juga menantunya.
"Naura! Dia siapa?" tanya sang ayah sembari menunjuk ke arah Sam. Kemudian Naura menoleh ke Sam, dan ia pun berkata kepada sang ayah, "Itu bodyguard, Yah. Namanya Marcell, suamiku sengaja mengirimkan bodyguard untuk menjaga Naura kalau Naura sedang keluar rumah."
Mendengar ucapan dari sang anak, pak Surya seolah tidak asing saat melihat wajah sang bodyguard yang mengingatkannya kepada seseorang, entah itu siapa.
"Wajah pria itu tidak seperti asing bagiku, ah sudahlah, apapun alasannya ternyata suami Naura sangat perhatian kepada anakku, bagaimana bisa? Apa mungkin mereka sudah baikan? Bukankah dulu Naura sangat tidak menyukai kehadiran suaminya?" batin sang ayah yang mulai berpikir ternyata Sam sangat mengkhawatirkan keadaan sang putri, terbukti pria buruk rupa itu mengirimkan seorang bodyguard untuk menjaga Naura.
__ADS_1
"Apa yang Ayah pikirkan?" tanya Naura saat melihat wajah sang ayah yang sedang memikirkan sesuatu. Pak Surya terkesiap, kemudian ia pun tersenyum.
"Tidak apa-apa, ayo kita masuk!" ajak sang ayah untuk masuk ke dalam rumah. Namun, sebelum mereka masuk ke dalam rumah, Ningrum yang merupakan keponakan pak Surya terlihat mendekati Naura dan bertanya siapa pria tampan yang sedang berdiri gagah itu.
"Naura Naura tunggu!" seru Ningrum sembari berlari kecil menghampiri Naura.
Naura menghentikan langkahnya dan melihat sang sepupu yang sedang menghampirinya.
"Ningrum!" seru Naura.
"Apa kabar kamu, Rum?" tanya Naura.
"Aku baik, eh kamu kok makin beda aja sih! Tambah cantik, kayaknya aura-auranya kamu bahagia banget hidup bersama pria jelek itu, kamu nggak takut, Ra? Ihh menyeramkan loh, aku pernah lihat sekali wajah suamimu, hoo ya ampun kejang-kejang beneran, aku lari aja, lihat mukanya ngalah-ngalahin lihat muka pocong," balas Ningrum sembari meringis.
__ADS_1
Naura tersenyum dan menggelengkan kepalanya, seolah menunjukkan jika dirinya tidak takut dengan wajah buruk rupa suaminya. Sementara itu sang pelayan yang mendengar ucapan Ningrum terlihat tertawa kecil tak bisa menahan rasa ingin tertawanya saat sang majikan dikata-katain seperti pocong, tentu saja apa yang dikatakan oleh Ningrum membuat Sam hanya bisa membatin, "Shiiit! Kurang ajar sekali aku dikatain seperti pocong, dasar perempuan! Lihat wajah tampan saja cengar-cengir, giliran lihat wajahku yang buruk dikatai seperti pocong, perempuan itu semua sama saja. Tapi tidak dengan istriku, dia lebih suka dengan wajah buruk rupa ku, tampan katanya. Hhh ... wanita seperti itu satu banding seribu,"
Kemudian Naura hanya tersenyum mendengar pengakuan dari saudara sepupunya itu.
"Aku tidak takut dengannya, suamiku orang baik, dibalik wajahnya yang hancur dia sangat penyayang." Balas Naura yang bangga memiliki suami seperti Sam.
"Hmm ... iya juga sih, cuma kamu yang tahu bagaimana hati Tuan Sam, tapi bukannya pernikahan kalian cuma nikah kontrak? Nanti setelah kamu melahirkan anaknya kamu pasti diceraikan, Ra. Secara tuh orang udah dapet apa yang dia inginkan, yaitu seorang bayi. Hiii ngga bisa bayangin pas kamu digerayangi sama tuh muka jelek, kalau aku jadi kamu, aku bakal mati di tempat, lihat mukanya udah pucat duluan." Seru Ningrum sembari bergidik ngeri.
Naura hanya tersenyum kemudian berbisik pada sang sepupu.
"Mukanya doang yang jelek, ibaratnya Tuan Sam itu adalah buah manggis, diluar dia hitam dan jelek tapi di dalamnya, uhh putih, manis, cakep, gede banget lagi, puas pokoknya."
Seketika Ningrum membulatkan matanya mendengar pengakuan dari sang sepupu.
__ADS_1
...BERSAMBUNG...