
Hari-hari pun berlalu, kini usia kandungan Naura sudah menginjak sembilan bulan, tentu saja kondisi perut Naura bertambah besar. Namun, meski begitu Naura masih aktif melakukan aktivitasnya sehari-hari, walaupun setiap malam ia jarang tidur dengan nyenyak, karena ia direpotkan dengan terbangun setiap malam untuk pergi ke kamar mandi.
Malam itu juga, Naura merasa jika ingin pergi ke kamar mandi, ia pun membangunkan sang suami yang sedang tertidur pulas.
"Sayang! Bangun!!" seru Naura sembari menggoyangkan tubuh sang suami, tentu saja Sam yang masih mengantuk memaksa untuk bangun.
"Hmm ... ada apa?" tanya Sam dengan mata yang masih terpejam, namun badannya terbangun.
"Aku mau pipis!" balas Naura.
"Oh pipis, ayo kuantar!" balas Sam sambil memapah sang istri untuk masuk ke dalam kamar mandi. Sesampainya di dalam kamar mandi, Sam membantu sang istri untuk melepaskan dalemannya, Sam yang awalnya sangat mengantuk, mendadak melek saat melihat sebuah pemandangan yang sangat menggoda mata.
"Waaahhhh! Indah sekali, benar-benar besar!!" ucapnya saat memuji sesuatu di bawah sana, Naura pun perlahan menjauh dan berkata, "Ih apaan sih yang besar, nggak usah jelalatan, ya! Bintitan loh!!" ucapnya sembari duduk di WC duduk.
Sam memperhatikan istrinya yang kepayahan mengandung sang anak, terbesit dalam hati Sam, betapa besar perjuangan Naura saat mengandung anak mereka, dari bentuk tubuh yang sudah tidak seindah dulu lagi, berat badan semakin bertambah, belum lagi saat hamil muda dan Naura tidak mau makan, hingga sekarang sang istri pun jarang tidur dengan pulas karena sang anak selalu mengajak Naura ke kamar mandi untuk buang air kecil.
Untuk sejenak mata Sam berkaca-kaca, melihat kondisi sang istri yang sekarang menuju proses persalinan, pasti perjuangan Naura akan semakin berat, karena ia akan melahirkan buah cinta mereka.
Setelah Naura selesai buang air kecil, ia pun menghampiri sang suami dan melihat Sam yang sedang menitikkan air matanya. Naura tersenyum dan mengusap air mata sang suami.
"Kamu kenapa kok nangis? Aku kan cuma pipis, Sayang."
Naura berkata sembari tersenyum. Sam menghela nafasnya dan Ia pun mencium kening istrinya dengan mesra.
"Kamu adalah wanita yang hebat, Sayang! Terima kasih kamu sudah melakukan ini untukku, gara-gara aku kamu harus mengalami masa-masa seperti ini, aku sudah membuat mu repot dengan anakku yang sekarang sedang kamu kandung, maukah kamu memaafkanku?" ucapan Sam tentu saja membuat Naura tertawa kecil.
"Kamu ini ngomong apa sih? Aku nggak pernah merasa keberatan kok untuk mengandung anak kamu, ini anak kita, darah daging kita, tentu saja aku sangat bahagia mengandung benih dari orang yang aku cintai, jadi untuk apa kamu menangis, aku aja bahagia kok kamu malah nangis sih!!" balas Naura.
"Itu artinya aku masih bisa beberapa kali menitipkan benih ku ke dalam rahimmu, bukan begitu?" sahut Sam yang seketika membuat Naura mengerutkan keningnya.
__ADS_1
"Memangnya kamu ingin punya anak berapa?" tanya Naura.
"Kalau bisa yang banyak, tapi aku juga tidak mau egois, jika kamu tidak mau melahirkan anak banyak, aku tidak akan memaksamu," ucap Sam sembari mengusap perut sang istri yang semakin membesar itu. Naura pun tersenyum dan membiarkan sang suami bermain dengan anaknya.
"Nggak nyangka ya perut kamu yang dulu kecil dan rata, sekarang segede ini," ucap Sam sembari terus mengelus perut Naura.
Hingga tiba-tiba saja, Sam merasa jika perutnya tiba-tiba mulas dan sakit sekali, tentu saja Naura sangat terkejut melihat suaminya meringis kesakitan.
"Aduh!!! Perutku, kenapa bisa begini," pekik Sam sembari mendekap perutnya yang terasa sangat sakit.
"Sam, kamu kenapa?" tanya Naura panik.
"Nggak tahu nih, tiba-tiba sakit gitu aja!" jawabnya dengan keringat yang mulai membasahi wajah tampannya.
"Biar aku telpon kakak aja!" Naura pun segera menghubungi Norman yang saat itu sedang istirahat dengan sang istri yang juga sedang hamil lima bulan.
"Ada apa? Apa yang terjadi?" tanya Diora yang juga ikut cemas.
"Naura memintaku untuk datang ke rumahnya, katanya Sam sakit perut tiba-tiba, kira-kira ada apa, ya?" tanya Norman penasaran, Diora pun spontan teringat mungkin saja adik iparnya itu mau melahirkan.
"Ya ampun! Mungkin saja Naura mau melahirkan, cepat kita ke sana?"
"Melahirkan? Tapi Naura baik-baik saja, yang sakit perut itu Sam, apa mungkin Sam cacingan atau mag lambungnya kumat barangkali!!" ucapan Norman seketika membuat Diora menepuk jidatnya. Apa mungkin Norman sudah tertular virus kesomplakan Sam, karena seringnya mereka bertemu dan bercanda.
"Ya ampun, bukan seperti itu, Sayang! Au ah ayo kita segera ke rumah mereka, pasti Naura sangat panik, soalnya dia bilang jika HPL dia itu udah lewat dan sekarang tinggal nunggu kontraksi saja," jelas Diora yang belum difahami oleh sang suami.
"Apa, kontraasepsi? Ngapain Naura harus pake gituan?" sahut Norman yang semakin membuat Diora lemas.
"Au ah terserah kamu, yang jelas sekarang kita harus segera datang ke sana," sahut Diora yang juga ikut datang ke rumah Sam.
__ADS_1
Sesampainya di Mansion mewah Sam, Norman segera melihat kondisi Sam yang terlihat meringis kesakitan, sementara itu Naura tampak baik-baik saja.
"Naura! Suamimu kenapa? Kenapa dia kesakitan seperti itu? Kamu apain dia?" tanya Norman sambil memegangi kepala Sam.
"Nggak tahu, Kak! Tiba-tiba saja seperti itu, aku nggak apa-apain dia, beneran!!" balas Naura.
"Sudah-sudah, ayo kita bawa Norman ke rumah sakit!" Diora pun meminta kepada suaminya untuk membawa Sam dan Naura ke rumah sakit.
*
*
*
Sesampainya di rumah sakit, Naura merasa jika ada sesuatu yang keluar dari pusat intinya, seperti pipis tapi keluar begitu saja tanpa henti, dan ternyata itu adalah air ketuban Naura yang sudah pecah.
Akhirnya, saat itu juga Naura segera ditangani oleh dokter dan bisa disimpulkan jika Naura akan segera melahirkan. Tujuan utama datang ke rumah sakit adalah untuk memeriksa perut Sam, nyatanya sang dokter menyuruh Sam untuk menahan rasa sakit itu, karena sakit perut yang sedang dialaminya adalah hal yang normal, karena sang istri sedang melahirkan, ikatan batin diantara keduanya sangatlah kuat.
Norman dan Diora menunggu diluar dengan harap-harap cemas, mereka berdua pun saling menatap, karena bukan suara Naura yang kesakitan, tapi suara teriakan Sam yang terdengar menyayat hati, sehingga membuat Norman takut dan khawatir.
"Itu kenapa Sam berteriak seperti itu? Yang melahirkan adikku, kenapa Sam yang menangis?" tanyanya Kepada sang istri.
Belum sempat Diora menjawab, terdengar suara tangis bayi yang sangat kencang, seketika Norman dan Diora saling memeluk, akhirnya sang keponakan lahir ke dunia.
Selang beberapa menit, dokter keluar dari ruang persalinan dan mengatakan bahwa proses persalinan berjalan dengan lancar, Naura melahirkan bayi perempuan yang sangat cantik.
Hai hai Sayangku, ini adalah daftar pemenang give away yang sudah author janjikan. Selamat untuk pemenang 🥰🥰🥰 kirimkan nope nya ya! Jika tidak ada konfirmasi selama 3 hari, saya anggap gugur dan saya akan ganti dengan pemenang lain. Terima kasih 🙏
__ADS_1