
Pagi ini, suasana di dalam ruangan perawatan Shakira sudah dipenuhi dengan keluarga dan sahabat. Mereka sudah tidak sabar untuk melihat bayi yang baru saja hadir menambah jumlah penghuni bumi yang fana ini.
"Siapa nama anak-anak loe,Sob? Loe nggak lupa kan kasih mereka nama?" Dewa berucap tanpa melihat ke arah Rendi, karena dia sibuk mentoel-toel hidung kedua bayi yang masih setia memejamkan mata.
"Tentu saja gue gak lupa. Putri gue nih namanya Rhiana Ella Rahardian yang artinya seorang ratu yang bijaksana dan tentunya cantik. Putra gue, Randhi Edward Rahardian, artinya Kekuatan seperti serigala dan merupakan sang pelindung. Aku mau dia mau jadi pelindung buat putriku walaupun posisinya adik di sini." sahut Rendi dengan bangga.
"Nama yang bagus,"
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Tidak terasa, pernikahan Lisa tinggal 3 hari lagi. Jauh di lubuk hatinya, Lisa ingin mamahnya menghadiri pernikahannya, karena bagaimanapun ,Rina adalah orang yang berjasa membawanya ke dunia ini, walaupun Rina sosok ibu yang egois, yang sangat mendewakan yang namanya 'uang' dan tega menghalalkan berbagai cara untuk mendapatkan uang termasuk menjual putrinya sendiri.
Tapi, Lisa tidak bisa berbuat apa-apa, mengingat syarat dari Iqbal yang mengatakan, 'kalau mamahnya sudah dilepaskan dari hukuman, jangan sekali-kali berhubungan lagi dengan wanita itu'.
Kedua netra Lisa membesar dengan sempurna ketika mendengar suara seorang wanita yang sedang membentak-bentak dari arah ruang tamu. Suara itu, sangat familiar di telinganya. "Mamah, bukannya itu suara mamah?" batinnya sambil melangkah keluar dari kamar.
"Tuh, putri saya sudah datang! kamu tidak punya hak untuk melarangku bertemu dengan putriku" seru Rina pada Mutia dengan tersenyum sinis,, kemudian menghambur memeluk Lisa.
"Ngapain Mamah datang ke sini?" Lisa tidak membalas pelukan Rina sama sekali, bahkan intonasinya terkesan sangat dingin.
"Mamah rindu kamu, Sayang! dan asal kamu tahu, rumah di Bali sudah mamah jual, dan mamah berencana pindah ke Jakarta lagi." sorak Rina tidak merasa tersinggung sama sekali dengan sikap dingin Lisa.
"Oh!" Lisa menganggukkan kepalanya tanpa ekspresi sama sekali.
__ADS_1
"Kamu tidak senang, Sayang?" Rina mengrenyitkan alisnya, bingung.
Lisa menghela nafasnya dengan berat lalu menatap mamahnya. "Jadi mamah udah beli rumah lagi di Jakarta?"
"Ngapain beli rumah? kamu kan akan menikah dengan Nak Iqbal, jadi kamu pasti membiarkan mamah tinggal bersama kalian berdua kan?" ujar Rina penuh percaya diri sambil melirik Mutia dengan sudut bibir yang sedikit terangkat ke atas, membentuk senyuman yang sinis.
"Maaf, Mah, tidak bisa! Iqbal pasti tidak akan mengizinkan, sekarang mamah mending pergi dari sini, sebelum Iqbal datang. Karena dia tidak akan suka melihat keberadaan Mamah di sini."
"Kamu mengusir mamah? Ingat Lisa, kalau bukan karena aku, kamu tidak akan bisa menikah dengan Iqbal. Mamah yang ___"
"Ya, apa Mamah kira aku sangat menginginkan pernikahan ini? ini semua gara-gara Mamah. Demi bisa melepaskan mamah dari jerat utang, dan melepaskan Mamah, yang dijadikan jadi tukang bersih-bersih, aku tidak akan mungkin menikah dengan Iqbal. Jadi ini semua karena Mamah!" pekik Lisa, yang tidak bisa lagi menahan amarahnya.
"Apa-apa an ini? bukannya kalian bilang kalau kamu dan Iqbal, sudah saling mengenal 10 tahun yang lalu, dan sudah memiliki hubungan selama ini?" Mutia angkat suara, kaget dengan pengakuan Lisa.
"Maaf Mah! aku sudah berbohong sama Mamah," Lisa meraih tangan Mutia dan menatap Mutia dengan sendu.
"Kamu memang mamah aku, dan itulah yang aku sesalkan, kenapa aku tidak lahir dari rahim mamah Mutia saja ? kenapa aku harus lahir dari rahim seorang ibu yang egois seperti kamu?" air mata Lisa, mulai merembes membasahi pipinya.
Rina tercenung, bergeming mendengar ucapan yang dilontarkan oleh putrinya sendiri. " Kenapa kamu mengatakan seperti itu, Lisa? dikasih makan apa kamu, sama mereka, hah?!" Rina mengacungkan jari telunjuknya, menunjuk ke arah Mutia.
"Aku diberi makan 'perhatian yang tulus', 'kasih sayang' yang tidak pernah aku dapat darimu," cetus Lisa.
Rina semakin terhenyak, dengan ucapan Lisa yang sangat ketus padanya.
__ADS_1
"Ini tidak boleh dibiarkan. Aku gak mau Lisa membenciku. Bisa-bisa aku akan hidup susah, dan kehilangan kesempatan untuk tinggal di rumah mewah. Aku harus berusaha membuat Lisa, kembali menyayangiku." tekad Rina dengan berbisik pada dirinya sendiri.
"Tidak ada yang lebih tulus dari mamah Lisa. Mamah hanya menginginkan yang terbaik buatku, makanya mamah menyerahkanmu pada Iqbal. Itu semua demi masa depanmu," ujar Rina dengan wajah yang dibuat semelas mungkin, untuk menarik rasa kasihan dari putrinya itu.
Lisa mendengkus, dan berdecih. "Mah, aku harus mengingatkan kembali, kalau kamu tidak menyerahkanku, tapi kamu menjualku demi bisa membayar utang. Apa mamah lupa akan hal itu?"
"Apa lagi ini?Iqbal membelimu?" Mutia kembali menyambar pembicaraan antara ibu dan anak itu. Raut wajahnya terlihat merah karena kepalanya sudah dipenuhi dengan amarah.
"Mah, nanti Lisa bisa jelaskan!" Lisa kembali menenangkan Mutia.
"Bagaimana mamah bisa tenang? kalau begini, mamah perlu penjelasan dari Iqbal. Kalau kamu menikah, karena di bawah tekanan Iqbal,mamah sendiri yang akan ngomong sama dia, kalau pernikahan itu gak boleh hanya diinginkan oleh sepihak saja," cerocos Mutia, yang membuat Lisa semakin terharu
"Enak saja, kamu mau ngomong seperti itu! aku sudah bersusah payah,berpura-pura menjual anakku sendiri, supaya dia mendapatkan pasangan yang baik dan sesuai,kamu mau seenaknya saja mau membuat pernikahan mereka hancur!" suara Rina sudah semakin meninggi, karena takut Lisa terpengaruh dan mengizinkan Mutia, berbicara dengan Iqbal untuk membatalkan pernikahan. " Enak saja,bisa-bisa aku akan jadi gembel nanti," batinnya.
"Lisa kamu bisa lihat kan? dia itu tidak menginginkan kebahagiaanmu. Mamalah yang memang benar-benar tulus padamu. Dan asal kamu tahu, Lisa. Dia ini pasti ingin balas dendam,pada kita karena papahmu lebih memilih mama dulu," Rina kembali mempengaruhi Lisa.
Prok ...prok ... prok, semua mata beralih menatap ke arah pintu masuk, begitu mendengar seseorang yang bertepuk tangan.
"Anda memang layak dinobatkan 'ratu sandiwara' Ibu Rina yang terhormat."
"Apa maksud anda Nak Iqbal? apa yang aku ucapkan itu benar. Aku menjualnya pada anda, karena aku menginginkan yang terbaik buat putri saya.Karena aku percaya,kalau kamu akan bisa memberikan apa yang dia mau."
"Dan anda juga bisa mendapatkan keuntungan dari hal ini,benar begitu?"sarkas Iqbal dengan sudut bibir yang tertarik ke atas, membentuk senyuman sinis.
__ADS_1
Tbc
Please jangan pelit like, dan komen gais. Karena satu like dan komen dari Readers merupakan penambah imun, dan semangat buat Author remahan seperti saya😁. Setiap saya melihat statistik setiap hari, jumlah View atau pembaca mencapai ribuan, dan favorite yang lumayan. Tapi itu semua tidak sebanding dengan jumlah like yang novel ini dapat. Coba bayangkan gais, view terbaca kemarin saja, hampir 3000 an. hari-hari sebelumnya juga, begitu.Aku bingung kemana yang 2rbu an sekian itu pergi. Padahal like dan komen itu, sangat membantu lho untuk menaikkan popularitas dan level dari novel author. Tapi, kalau gak mau, gak pa-pa sih, karena gak mungkin kan aku maksa.Aku hanya mohon pengertiannya saja. Terima kasih😍😘🤗