Dosenku Kekasihku

Dosenku Kekasihku
Mau tidak menikah denganku?


__ADS_3

Sudah seminggu sejak kejadian penculikan Lea terjadi. Hari ini Galang sudah resmi mengundurkan diri jadi dosen, karena merasa tidak sanggup untuk bisa membagi waktunya lagi,karena dia harus mengelola dua perusahaan.


Bimo benar-benar sudah membeli perusahaan sesuai dengan harga yang ditawarkan, dan uang hasil pembeliannya benar-benar didonasikan oleh Suryo kebeberapa panti asuhan dan panti jompo, demikian juga dengan aset-aset yang lainnya.


Sementara itu,kebahagiaan juga tengah melingkupi Dion dan Kirana, karena bulan depan mereka berdua benar-benar akan melangsungkan pernikahan. Ya, sesuai janji Dion seminggu lalu, yang akan melamar Kirana secara resmi, malam tadi Dion benar-benar sudah melamar Kirana dengan resmi, dan diterima dengan baik oleh orangtua Kirana.


Dilain tempat, Dewa tengah menikmati makan siang bersama sang kekasih, siapa lagi kalau bukan Shakila. Sejak tadi wajah Shakila terlihat tidak bersemangat. Tatapannya menerawang entah kemana sambil mengaduk-aduk makanannya, tanpa menyuapkan barang sesuap pun ke dalam mulutnya, sehingga menimbulkan kerutan di kening Dewa.


"Sayang kamu kenapa? kenapa kamu tidak makan? makanannya tidak enak ya?" cecar Dewa, bertanya beruntun.


"Hmm, masih kenyang Kak. Kak Dewa aja yang makan ya?" Shakila mendorong makanannya ke depan Dewa.


"Emm, kapan sih kamu mengganti panggilanmu dari Kakak jadi sayang? aku seperti berpacaran sama adik sendiri tahu." keluh Dewa tidak menggubris makanan yang disodorkan oleh Shakila.


"Aku malas panggil sayang, udah biasa soalnya. Aku tuh pengen panggilan yang luar biasa."


"Contohnya?" Dewa menautkan kedua keningnya.


"Hmm, bagaimana kalau aku panggil kamu kanda, dan kamu panggil aku dinda?" air muka Shakila berbinar bahagia, saat membayangkan panggilan mereka ala-ala kerajaan. Membayangkan saja dia sudah bahagia, apalagi kalau jadi kenyataan.


"Nggak mau!" seru Dewa tanpa pikir panjang.


"Tapi aku maunya itu, biar beda dengan yang lain!" Shakila kekeh dengan kemauannya.


"Kila, please cari yang lain saja. Beb misalnya!" Dewa mencoba memberikan usul.


"Gak mau, pokoknya aku maunya itu. Kalau tidak, aku akan tetap memanggilmu kakak." Shakila benar-benar tidak mau merubah keputusannya.


"Kalau begitu, gak masalah kamu gak mau ganti. Manggil Kakak juga tidak buruk sama sekali. Itu lebih baik daripada kamu manggil aku kanda." Dewa bergidik geli, membayangkan Shakila memanggilnya Kanda dan dia memanggil Shakila dinda. "Ihh, gak banget!"


Shakila mengerucutkan bibirnya, dan mendengus kesal. "Kalau kakak gak mau aku panggil Kanda, habiskan makananku, kalau tidak bisa habis, mau tidak mau aku akan tetap manggil kamu Kanda, bagaimana?" air muka Shakila berubah bahagia mendapatkan ide untuk menjebak Dewa.

__ADS_1


"Kila, please jangan aneh-aneh! itu sama saja kamu mau membunuhku." tolak Dewa tegas.


"Nggak mau, pokoknya itu syaratnya, titik sebesar wajan." Shakila mendelik, dengan tatapan mengancam.


"Baiklah kalau itu maumu! kalau aku mati kekenyangan di sini, biar lah kamu jadi janda tanpa sertifikat." Dewa mencoba menakut-nakuti Shakila. Dia mulai menyuapkan makanan Shakila yang sudah ada di depannya.


Shakila tiba-tiba menarik makanan itu kembali dari depan Dewa.


"Jangan makan lagi! aku tidak mau jadi janda." ucap Shakila, yang membuat Dewa mengulum senyumnya. "Eh,tunggu dulu! kita kan belum menikah, itu berarti kalau kamu mati, aku gak jadi janda dong?" Shakila tersadar dan merasa dibodohi oleh Dewa.


"Hahahaha! tadikan aku juga bilang, janda tak bersertifikat," Dewa tidak dapat lagi menahan rasa ingin tertawanya melihat kepolosan Shakila.


"Ka Dewa rese ah!" Shakila mencebikkan bibirnya, kesal. Sambil menyuapkan makanan yang di depannya ke dalam mulutnya dengan kasar.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


Dewa, terlihat membantu Shakila memasangkan sabuk pengamannya.Setelah terpasang dengan sempurna, dia meninggalkan kecupan singkat di kening shakila. Lalu dia kembali duduk dengan sempurna di kursi belakang kemudi serta memasang sabuk pengaman untuk dirinya sendiri.


Shakila tidak langsung menjawab. Dia diam sejenak, berpikir mau langsung pulang atau tidak. "Mmm, kita shopping saja yuk kak!"


"Astaga, nyesel gue nanya mau kemana tadi. Kalau udah shopping pasti bakalan lama dan itu pasti membosankan." Dewa mendesah dan merutuki kebodohannya di dalam hati.


"Gak ada lagi yang lain selain shopping Yang? kita nonton aja ya?"Dewa mencoba mengusulkan hal lain, berharap Shakila menerima usulnya. Walaupun sebenarnya, menonton juga membosankan baginya,tapi itu lebih baik daripada shopping, yang udah membosankan ditambah ekstra capek lagi.


"Gak mau akh! gak ada film baru yang tayang. Kamu gak mau ya nemenin aku shoping? atau Kakak takut uang Kakak habis buat belanjain aku?" alis Shakila bertaut tajam menatap curiga pada Dewa.


"Bukan seperti itu Yang. Aku tidak keberatan ngebelanjain kamu, cuma wanita, kalau sudah shoping pasti lama banget Yang, itu aja!" Dewa memberikan alasan, supaya Shakila tidak berpikiran macam-macam.


"Alasan aja!" Shakila mengalihkan pandangannya keluar dengan bibir yang sudah terlihat lancip dan tangan yang bersedekap di dada.


Dewa menghembuskan nafasnya ke udara, lalu menyentuh pundak wanita yang dicintainya itu dengan lembut.

__ADS_1


"Aku serius Yang. Ya udah, jangan ngambek gitu, aku temenin kamu shopping," Dewa akhirnya pasrah. Lebih baik dia capek mengikuti Shakila kemanapun daripada melihat wanita itu mendiamkannya.


Mendengar ucapan Dewa, senyum Shakila terbit dengan manisnya di bibir tipis miliknya.


"Makasih, Sayang!" Shakila memberikan kecupan singkat di pipi Dewa.


"Apa kamu bilang tadi? coba ulangi lagi!" Dewa mendadak bahagia mendengar panggilan sayang dari Shakila.


"Emang aku bilang apa tadi?" Shakila sedikit memiringkan kepalanya dengan alis yang terangkat ke atas.


"Kamu jangan pura-pura lupa deh, Yang! kamu tadi manggil aku sayang." Dewa sedikit meninggikan suaranya karena kesal.


"Iya kah? mungkin tadi lidahku lagi keseleo, jadi tanpa sadar ngomong gitu." ucap Shakila santai, sehingga membuat Dewa memutar bola matanya, jengah mendengar ucapan absurd Shakila.


Dengan hati dongkol, Dewa pun melajukan mobilnya menuju mall untuk menemani sang pacar shoping. Keheningan terjeda cukup lama diantara mereka berdua. Mereka sibuk dengan pikiran masing-masing.


"Kak, sebenarnya aku udah bosan tidur sendiri. Rasanya sepi banget. Yang dipeluk juga cuma bantal guling," keluh Shakila menatap Dewa yang fokus menyetir.


Dewa kerkesiap dan sontak menoleh ke arah Shakila yang juga tengah menatapnya dengan tatapan sendu.


"Maksudnya?" Dewa gagal paham.


"Hmmm, mau gak Kak Dewa menikah denganku?" tanya Shakila.


Kedua netra Dewa membulat, dengan mulut yang sedikit terbuka.


"Kamu lagi melamarku, Kila?" Dewa menggaruk-garuk kepalanya yang tidak gatal sama sekali, melihat Shakila menganggukkan kepalanya,membenarkan.


"Astaga, harusnya aku yang melamar kamu, kok jadi kebalik gini?" ujar Dewa menggeleng-gelengkan kepalanya,tidak habis pikir dengan tingkah ajaib Shakila yang penuh kejutan.


Tbc

__ADS_1


__ADS_2