
"Hmm, kata Mamahku, aku gak boleh marah-marah sama calon menantunya," celetuk Kevin tiba-tiba dengan semburat merah di pipinya.
"Hah?" netra Gendis membesar mendengar celetukan yang baru saja terlontar dari mulut Kevin.
"Menantu? siapa calon menantu tante Mutia?" Gendis memastikan pendengarannya.
Kevin terlihat gelagapan dengan pertanyaan Gendis. "Emang tadi aku ada bilang calon menantu ya?" elak Kevin.
"Ada!"
"Gak ada! kamu salah dengar kali," Kevin masih kekeh mengelak.
"Aku tidak tuli! pendengaranku masih bagus," Gendis tidak mau kalah.
"Mungkin pendengaranmu masih bagus, tapi ingatanku juga masih bagus, dan aku masih ingat betul, apa saja yang sudah ku ucapkan." Kevin juga ikutan tidak mau kalah.
Wajah Gendis terlihat memerah karena kesal. Bahunya terlihat naik turun dengan alis yang bertaut tajam.
"Baiklah! seperti yang kamu bilang, mungkin aku yang salah dengar! Kalau begitu aku pamit dulu." cetus Gendis. Kemudian dia memutar tubuhnya, untuk beranjak meninggalkan Kevin.
Langkah Gendis terhenti tiba-tiba, ketika tangan besar milik Kevin dengan sigap menahannya.
"Maaf, aku bohong! kamu benar, kalau tadi aku ada mengakatakan calon menantu mamah. Calon menantu mamah itu, kamu!" ucap Kevin, yang akhirnya memilih untuk jujur.
Kedua mata Gendis membulat dengan sempurna, seulas senyuman terbit secara samar di bibirnya. Dia lalu membalikkan tubuhnya dengan wajah yang datar, berusaha untuk bersikap biasa dan tidak terlalu menunjukkan kalau sekarang hatinya sedang dihujani dengan bunga-bunga yang bermekaran dan dikelilingi oleh ribuan kupu-kupu yang berwarna-warni.
"Hmm atas dasar apa kamu bilang aku calon menantu Tante Mutia? apa kamu sudah sangat yakin kalau aku mau?" tanya Gendis dengan nada menantang dan terkesan gengsi.
__ADS_1
Kevin tersenyum smirk melihat Gendis yang gengsi menunjukkan kalau dia tengah berbunga-bunga sekarang.
"Oh, mau sok-sok-an mau nunjukin bersikap biasa ya? baiklah aku terima tantanganmu! sampai kapan kamu bisa bertahan dengan sikap sok biasamu itu?" batin Kevin dengan bibir yang sedikit tertarik ke atas
"Oh, jadi kamu tidak mau ya? baiklah kalau begitu, aku tidak akan memaksa kamu untuk mau." ujar Kevin dengan mimik wajah yang dibuat sendu. Dia memutar badannya pura-pura seakan-akan dia akan beranjak pergi. Dia berjalan dengan sangat perlahan berharap Gendis menahannya agar tidak pergi.
"Eh, kok jadi gini sih? gak boleh jadi nih, kalau begini, aku sama Ka Kevin gak bakal ...." Gendis membatin sambil menggeleng-gelengkan kepalanya. Kemudian dia sedikit berlari untuk mengejar Kevin.
"Ka Kevin,tunggu!" seru Gendis.
"Yes! kena kau!" sorak Kevin dalam hati dengan semangat. Kemudian dia berbalik dan menatap Gendis dengan wajah yang datar.
"Ada apa lagi?apa kamu mau menertawakanku?"
"Kamu kok main pergi begitu aja sih? katanya mau jadiin aku calon menantu tante Mutia, tapi cuma digertak sedikit, langsung menyerah." Gendis meremas-remas tangannya sambil menundukkan kepalanya,tidak berani untuk membalas tatapan Kevin.
Gendis mengerjap-erjapkan matanya, saat tatapannya beradu dengan tatapan Kevin.
" A-aku cuma butuh penjelasan, atas dasar apa kamu mengatakan kalau aku calon menantu Tante Mutia? sedangkan kamu sama sekali tidak menyukaiku, kamu sama sekali tidak mencin ...hmmpp ...." Kevin sontak membungkam mulut Gendis dengan mendaratkan bibirnya di bibir Gendis yang sibuk berceloteh.
Kedua netra Gendis membesar dengan sempurna,mendapat ciuman Kevin yang tiba-tiba. Ciuman Kevin yang awalnya hanya menempel,kini berubah dengan lu**ma*tan lembut. Ketika mendapati, kalau Gendis tidak memberontak sama sekali, Kevin semakin memperdalam ciumannya dan berhenti,ketika dia menyadari kalau Gendis hampir kehabisan nafas.
Setelah ciuman Kevin terlepas, Gendis dan Kevin sibuk berebut oksigen di sekitar, untuk kembali mengisi rongga paru-paru yang sempat kekurangan oksigen.
Wajah Gendis terlihat sangat memerah, setelah dia sudah bisa bernafas denga teratur. "Astaga, dia menciumku? apa ciumanku terlihat buruk tadi? aku benar-benar tidak tahu caranya berciuman." Gendis ngedumel di dalam hati,sambil menggigit bibirnya.
Sementara itu, hal yang sama juga terjadi pada Kevin. Dia merutuki kebodohannya, yang asal mencium Gendis. Dia merasa takut kalau Gendis akan membencinya, karena main serobot mencium wanita itu. Ditambah gadis itu tidak membalas ciumannya sama sekali, semakin membuat Kevin merasa kalau Gendis tidak menyukai tindakannya barusan.
__ADS_1
Suasana akward terjeda cukup lama di antara mereka berdua. Baik Kevin maupun Gendis, tidak ada yang berani untuk membuka suara terlebih dulu.
Kevin menggerakkan ekor matanya untuk melirik ke arah Gendis, demikian juga dengan Gendis, melakukan hal yang sama.
"Hmm, itu ...."
"Apa ciumanku tadi terlihat buruk?" celetuk Gendis tiba-tiba, sebelum Kevin menyelesaikan ucapannya.
krik krik, krik krik
"What? i've worried for nothing ( aku sudah khawatir, untuk hal yang tidak perlu)" Kevin membatin sambil menggaruk kepalanya yang tidak gatal. Dia menyangka, kalau Gendis akan marah-marah, ternyata Gendis malah memikirkan ciumannya buruk atau tidak.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Kevin dan Gendis kini sudah kembali ke tempat acara resepsi Dewa dan Shakila. Kedatangan mereka yang bergandengan tangan tentu saja menarik perhatian Mutia dan Keysa.Dari gesture keduanya,Mutia dapat menarik kesimpulan kalau Kevin putranya sudah menemukan tambatan hatinya dan kali ini, Mutia sangat bahagia, kalau wanita pilihan putranya adalah Gendis. Demikian juga dengan Keysa, dia juga begitu bahagia melihat Kevi dan Gendis kini bersama sesuai harapannya.
"Hai, Tante, Keysha, apa kabar?" sapa Gendis begitu tiba tepat di depan Mutia dan Keysa.
"Seperti yang kamu lihat, kami sehat Sayang!" sahut Mutia yang disusul dengan anggukan kepala dari Keysa.
"Oh ya, apa ada hal yang terjadi pada kalian berdua, yang belum kami ketahui?" Kedua netra Mutia menatap ke arah tangan Gendis dan Kevin yang saling bertaut erat.
Gendis sontak melihat ke arah tatapan tante Mutia, wajahnya langsung memerah dan berniat melepaskan tautan tangannya dengan Kevin. Akan tetapi, Kevin semakin mengeratkan gengamannya dan menerbitkan seulas senyuman manis di bibirnya. Dia lalu mengangkat tangan mereka berdua yang bertaut tepat di hadapan mamahnya. "Iya, Mah! Gendis sekarang adalah calon menatu Mamah!" ucap Kevin tegas, sembari membawa tangan Gendis yang ada di genggamannya ke bibirnya. Jangan lupakan wajah Gendis yang semakin memerah seperti buah tomat matang.
Mendengar ucapan putranya, senyum Mutia sontak mengembang dengan sempurna dan langsung menarik Gendis ke pelukannya.
"Terima kasih, ya sayang, sudah mau menerima anak tante," bisik Mutia dengan mata yang sudah berkilat-kilat karena manik matanya sudah dipenuhi oleh lapisan cairan bening.
__ADS_1
Tbc