
"Oh iya, kami masuk ke ruangan dulu ya Pak! soalnya sebentar lagi kelas kami mau mulai." Lea yang tadi beringas, pengen nimpuk Shakila, berubah menjadi lembut, selembut kain sutra dan panggilannya pun sudah berubah dari Kak menjadi Pak.
"Hahahahaha, Lea berubah jinak, kok jadinya lucu ya? ternyata pawangnya itu Ka Galang." Shakila yang susah ngerem mulutnya, nyerocos begitu saja, membuat Lea ingin sekali membenamkan wajahnya kedalam lapisan tanah yang paling dalam sangking malunya.
"Sialan loe Kila! awas lo ntar!" Lea berbisik pada dirinya sendiri, sembari menghunuskan tatapannya ke arah Shakila. Sehingga Shakila berhenti tertawa dan kesusahan untuk menelan ludahnya sendiri.
"Ka Galang, antarin Kila ke ruangan dong! ucap Shakila sembari mencengkram lengan Galang. "Soalnya Kila takut, sama si Singa Lea." sambung Shakila berjinjit, sembari berbisik di telinga Galang.
Dewa sontak menarik tangan Shakila agar menjauh dari Galang. Entah kenapa dia merasa tidak senang melihat Shakila yang sangat dekat dengan Galang.
"Kamu ikut aku saja! soalnya sekarangkan jadwal aku mengajar di kelasmu!" Dewa menarik tangan Shakila, yang sekarang bibirnya sudah maju ke depan.
Tingkah Dewa mengundang tanda tanya besar pada Galang, Rendi dan Dion.
" Kenapa dia?" tanya Galang, yang dibalas dengan kedikan bahu oleh yang lainnya.
Tanpa mereka sadari dari kejahuan Lisa menatap penuh kebencian dan amarah pada Shakila, Lea dan Shakira.Karena dia merasa lagi-lagi kalah satu langkah dari mereka.
"yuk ah! saatnya kita masuk ke kelas masing-masing!" Rendi yang dari tadi diam saja akhirnya buka suara.
"Kalian duluan saja ya! aku mau angkat telpon ka Aarash dulu, sepertinya penting!" Sahut Dion yang langsung beranjak agak menjauh dari kedua sahabatnya, yang langsung beranjak meninggalkan Dion.
"Iya, Ka, ada apa?" sahut Dion setelah dia menyentuh tombol hijau.
"Kamu di kampus ya?" terdengar suara Aarash dari tempat yang berbeda.
"Iya,ka! kenapa? apa ada yang penting?" Dion bertanya kembali.
Aarash terdengar menghela nafas di ujung sana. "Apa kamu tidak mau berpikir ulang keputusanmu untuk jadi seorang dosen? Perusahaan Hartono sangat membutuhkanmu Yon. Kakak gak mungkin bisa menanganinya, karena perusahaan Aryaguna juga membutuhkan kakak!"
"Maaf, Ka! kan masih ada Ka Satya yang bisa menangani! lagian aku hanya 3 kali dalam seminggu mengajar, dan itupun hanya sampai pukul 10, selebihnya aku akan langsung ke perusahaan Ka." Sahut Dion
"Ya,udahlah kalau begitu! Kakak hanya tidak mau, pikiran kamu jadi terkuras habis dan ujung-ujungnya semuanya jadi terbengkalai.Tapi, kalau kamu merasa sanggup, ya udah terserah kamu, Kakak tidak bisa melarang."
__ADS_1
"Terima kasih Ka! aku yakin kalau aku pasti bisa! karena menjadi dosen itu salah satu keinginan terbesarku.Nanti kalau aku merasa sudah tidak bisa membagi waktu lagi, aku janji akan berhenti Ka."
"Baiklah,kalau begitu! Kaka tutup teleponnya dulu" Dion memasukkan kembali ponselnya ke dalam sakunya setelah Kakak iparnya, Aarash memutuskan panggilan.
*********
"Lo sama teman lo, memang tidak bisa lagi diingatkan dengan cara halus ya! semuanya mau kalian embat!" Lisa menarik rambut, Shakila dengan keras dan mendorongnya sampai membentur tembok.
"Gais, kalian pegangin tangannya!" titah Lisa pada ke empat temannya.
Shakila yang tidak mempunyai persiapan sama sekali kini, sudah menjadi bulan-bulanan Lisa dan teman-temanya.
"Hei, lepasin gue, Sialan!" Shakila berusaha meronta, tapi tenaganya tidak cukup kuat untuk melawan 4 orang yang tengah memegangnya dengan kuat.
"Cih, gue gak akan lepasin lo, sebelum lo dan teman-teman lo, berhenti mendekati dosen-dosen baru itu!" Lisa mencengkram pipi Shakila, lalu menyentaknya dengan sangat kuat, sehingga meninggalkan warna kemerahan pada pipi Shakila.
"Hei, kita tidak pernah mendekati mereka,kami memang sudah kenal sebelumnya, Dan lo harusnya ngaca, kenapa satupun tidak ada yang tertarik pada lo. Dan asal lo tahu, lo berjalan melenggak-lenggok tanpa sehelai benang pun didepan mereka, mereka tidak akan nafsu liat loe!" Shakila bukannya merasa takut, tapi justru balik mengejek.
Lisa mengayunkan langkahnya masuk ke dalam toilet dan mengambil ember berisi air dan menyiramkannya pada Shakila, sehingga pakaiannya kini basah kuyup.
Sementara itu, Lea berulangkali menatap ke arah toilet, karena merasa Shakila sudah cukup lama tidak kembali dari toilet.
"Kira, kita susul Kila yuk! dia kok lama banget ya di toiletnya? perasaan gue gak enak banget nih."
"Ya,udah yuk! perasaan gue juga gak enak banget." Shakira dan Lea, berdiri dan beranjak untuk menyusul Shakila.
"Hei, setan, kalian apakan Shakila?!" Lea dan Shakira begitu terkesiap dan geram melihat keadan Shakila yang sudah basah, rambut berantakan dan wajah memar.
Tanpa menunggu lama, Lea dan Shakira yang biasanya tampil anggun, kini menampakkan sisi devilnya, tanpa ba bi bu, mereka berdua langsung menarik rambut Lisa dan membenturkannya ke tembok. Ke empat teman Lisa, melepaskan tangan Shakila hendak menolong Lisa, dan begitu terlepas, Shakila pun tidak tinggal diam, dia pun turut bergabung menghajar 2 orang teman Lisa. Keributan di dalam toilet pun tak terhindarkan lagi, cakar- mencakar, jambak-menjambak diantara ke 8 gadis itu sudah tidak terelak lagi. Semua mahasiswi yang ada di sana tidak ada yang mau melerai, justru mereka menjadikan perkelahian Lisa Cs dan Lea Cs,suatu tontonan yang sayang untuk dilewatkan.
Mendengar adanya keributan di toilet wanita, para mahasiswa dan dosen-dosen lainnya, tak terkecuali Galang, Dewa, Dion dan Rendi berlari untuk melihat siapa yang sedang berantem.
"Berhenti!" teriak Pak Jaya, orang yang menjabat sebagai rektor di kampus itu.
__ADS_1
Seketika, ke delapan gadis itu menghentikan aksi mereka, ketika mendengar teriakan Pak Jaya. "Apa-apaan kalian semua hah?! kalau mau jadi preman bukan di sini tempatnya! Ayo kalian semua ikut bapak ke kantor! bapak akan memanggil orang tua kalian semua!___dan kalian semua bukannya melerai ,justru malah menonton, sana bubar semua!" bentak Pak Jaya, lalu melangkahkan kakinya menuju kantor.
Lisa inging berlari ke arah Dewa,ingin berpura-pura sebagai pihak yang teraniaya, tapi Dewa, justru fokus pada pakaian Shakila yang basah sehingga pakaian dalamnya tercetak jelas. Dewa menggeram dengan tangan yang mengepal, hatinya tiba-tiba merasa panas, mengingat, kalau dari tadi pasti sudah banyak laki-laki yang melihat tubuh Shakila.Tanpa sadar, dia menghampiri Shakila yang menyilangkan tangannya di dada, dia lalu membuka kemejanya sendiri, dan membalutkannya pada tubuh Shakila. Hal itu membuat Lisa semakin menggeram dan merasa diabaikan.Dia lalu mengajak teman-temannya untuk pergi lebih dulu menghadap Pak Jaya.
"Pakai ini dulu!" Bisik Dewa.
"Tapi, bagaimana dengan Bapak?" suara Shakila, terdengar lembut tidak seperti biasanya, yang selalu galak di depan Dewa. Dia merasa tersentuh atas perlakuan Dewa, yang kini hanya memakai kutang saja di tubuhnya.
"Kamu tenang saja, aku masih ada pakaian di mobil." Sahut Dewa.
"Demikian juga dengan Lea dan Shakira yang kebetulan hari ini memakai kemeja, dan sekarang kancing kemeja bagian atas yang mereka pakai, sudah menghilang entah kemana. Galang juga yang merasa geram dan panas, membuka kemejanya dan memberikannya pada Lea, sedangkan Rendi memberikan kemejanya pada Shakira.
"Sekarang kalian semua, pergi ke kantor Pak Jaya, sebelum Pak Jaya, semakin marah.Lagian, kampus itu tempat untuk menimba ilmu, bukan jadi preman." Ucap Galang sedikit kesal, karena sama dengan Dewa, dia juga panas, membayangkan para mahasiswa yang pasti sudah melihat belahan dada Lea tadi.
"Tapi itu bukan salah kami Ka, eh Pak! mereka semua ngebully Shakila sampai seperti itu, tentu kami tidak tinggal diam!" Shakira memberikan pembelaan.
"Sudah- sudah, kami tidak mau mendengar apa-apa lagi, sekarang kalian semua pergi saja ke ruangan Pak Jaya! kami mau mengambil pakaian kami dulu.Tapi, tolong, rambut kalian dirapikan dulu, karena kalian sudah seperti nenek lampir." ucap Dewa sembari beranjak pergi disusul oleh Galang dan Rendi. Sedangkan ketiga gadis itu, mencebik begitu mendengar ucapan Dewa.
Galang melihat seorang pemuda, yang pernah dilihatnya bersama dengan Lea di pesta pernikahan Vina, sedang berlari ke arah Lea, Shakila dang Shakira dengan raut wajah khawatir. Seketika perasaan Galang seperti tercubit melihat pemuda itu, membelai wajah Lea. Akan tetapi, alis Galang bertaut melihat pemuda itu, melakukannya juga pada Shakila dan Shakira.
"Siapa pemuda itu? kalau dia pacarnya Lea, tapi kok sikapnya sama juga pada Shakila dan Shakira? gak mungkinkan dia pacaran sama ketiganya?" bisik Galang pada dirinya sendiri.
"Kenapa Lang? kok gitu amat melihatnya?" Dewa, menatap Galang, penasaran.
"Hmm, Gak pa-pa! cuma aku bingung, siapa sebenarnya pacar pemuda itu? Lea, Shakila atau Shakira?"
"Gak ketiga-tiganya." Kali ini Dion yang menjawab. "Dia itu Syailendra,kembaran Shakila dan Shakira. Otomatis dia itu sepupunya Lea." Sambung Dion, yang pernah sekali dibawa oleh Aarash kakak iparnya berkunjung ke rumah Seno.
"Oh, begitu?!" sahut Galang, dengan ekspresi biasa saja, padahal hatinya sedang bersorak gembira.Seandainya dia lagi sendiri, mungkin dia akan melompat-lompat kegirangan saat ini.
Tbc
Silahkan untuk meninggalkan jejak ya gais.Please like, vote dan Komen. Thank you
__ADS_1